April 16, 2018

Permainan Dunia Maya dan Kehidupan Dunia Nyata

“...No one in the world gets what they want and that is beautiful...”
- Ernest Cline -

image courtesy : neomonki in Deviantart

Saya bukan penggemar permainan game komputer. Game yang terakhir saya mainkan cuma Plant versus Zombie yang cukup susah payah diselesaikan. Imajinasi virtual dalam urusan game ini bagi saya sangat rendah. Saya cuma tau banyak yang menggandrungi game online maupun offline di dunia nyata, sebagai bentuk hobi yang menghabiskan waktu bahkan bisa menghasilkan uang. Pelarian yang menyenangkan. Kalau dalam kasus saya, pelarian favorit adalah buku.

Di akhir Maret lalu, saya menonton sebuah pilem futuristik bikinan om Steven Spielberg berjudul READY PLAYER ONE. Sebelumnya saya sudah dapat info bahwa pilem ini adalah adaptasi dari buku berjudul sama karya Ernest Cline yang aslinyaa terbit tahun 2011 lalu. Pilem ini berlatar di tahun 2045, ketika banyak orang kecanduan game online dalam bentuk realitas virtual superkeren dan superlengkap yang disebut sebagai OASIS, bikinan James Donovan Halliday. Kisah ini menjadi menarik karena sang pemilik OASIS meninggal, lalu berwasiat untuk menyerahkan semua kekayaannya pada siapa saja yang berhasil menemukan easter egg dalam OASIS. Mendiang Halliday diketahui tidak punya anak, tidak punya pewaris, dengan keeksentrikan tersendiri. Yang paham sang mendiang hanya sahabatnya, Ogden Morrow, dan beliau sudah menghilang lama dari publik.

Sampai disini bagi yang tidak ingin spoiler pilem atau bukunya, silakan kabur dari curhatan ini.

April 11, 2018

Pemusnahan yang Memusingkan

“...You put too much stock in human intelligence, it doesn't annihilate human nature...”
- Philip Roth -



Di suatu waktu di masa depan, sebuah investigasi alias percobaan diadakan oleh institut Southern Reach diadakan di sebuah area misterius yang disebut sebagai Area X. Sebuah tim ekspedisi dikirim ke sana, diharapkan mampu menjelajah dan memetakan area X tersebut.

March 31, 2018

Thou Shalt Kill



“...My greatest wish for humanity is not for peace or comfort or joy. It is that we all still die a little inside every time we witness the death of another. For only the pain of empathy will keep us human. There’s no version of God that can help us if we ever lose that...”
- Honorable Scythe Marie Curie -

Sebagai salah satu fans gagal move on dari kisah bikinan om Neal Shusterman sebelumnya (UNWIND DYSTOLOGY), saya memiliki keinginan untuk membaca buku-buku bikinan om ini selanjutnya. Tahun 2017 lalu, si om menelurkan THE ARC OF SCYTHE-1 : SCYTHE, sebuah kisah utopia yang menceritakan kehidupan algojo masa depan. Menarik.

Karena harganya yang mahal untuk edisi hardcover, ditambah lagi iming-iming busuk mengenai akan diterbitkannya edisi terjemahannya disini, saya sabar menanti. Eh tau-taunya, edisi paperback nya muncul di sebuah toko buku impor yang secara khilaf saya kunjungi saat menunggu penerbangan. Dengan diskon 10 persen, saya berhasil memperoleh novel kece ini dan beberapa jam yang lalu berhasil menyelesaikannya.

SCYTHE oke ngga ?

March 28, 2018

Hukum Hutan Hujan

“...We are beasts, you know, beasts risen from the savannas and jungles and forests. We have come down from the trees and up out of the water, but you can never, ever fully remove the feral nature from our psyches...”
- Yasmine Galenorn -



Paska petualangan sejenak di ibukota, saya pulang dan mendapati keinginan absurd untuk keluar rumah dan mengabaikan waktu istirahat yang berharga. Sedang tidak membaca, saya mengecek situs XXI dan menemukan bahwa pilem berjudul JUNGLE sedang tayang. Tanpa pikir panjang, saya melipir untuk pergi menonton.

JUNGLE adalah pilem non komersil yang diangkat dari kisah nyata seorang warga negara Israel bernama Yossi Ghinsberg yang tersesat di hutan Bolivia di tahun 1981. Diperankan dengan totalitas oleh Daniel Radcliffe, pilem ini berhasil membuat saya menangis dan setelahnya kabur ke pantai untuk menenangkan diri.

Kerut Waktu Keriput

"...Life, with its rules, its obligations, and its freedoms, is like a sonnet: You're given the form, but you have to write the sonnet yourself..."
- Mrs Whatsit -

Movie posters : Disney's A Wrinkle In Time

Beberapa waktu yang lalu saya dan mbak Renni melipir ke bioskop untuk tetiba menonton pelem adaptasi buku bikinan Madeleine L'engle berjudul A WRINKLE IN TIME. Dan barusan saya akhirnya menyelesaikan membaca bukunya yang dipinjamkan oleh mamas Raafi. Buku bergenre fantasi fiksi ilmiah yang katanya diperuntukkan untuk kalangan middle grade ini rencana ada lima buku, baru diterbitkan edisi terjemahan buku pertama disini, dan penerbitnya sudah kolaps.

Tidak ada ekspektasi apa-apa saat saya menonton ini. Alasannya saya mulai stress udah gak baca novel berminggu-minggu, kemudian lihat list pilem di XXI. Udah nonton babang raja miung item King T'Challa di BLACK PANTHER, dan jelas tak minat nonton pelem lokal, untunglah A WRINKLE IN TIME ada dalam daftar.

March 17, 2018

Dari Poa ke Mana ?

“...One of the basic rules of the universe is that nothing is perfect. Perfection simply doesn't exist.....Without imperfection, neither you nor I would exist...”
- Stephen Hawking -



Membicarakan alam semesta dan antariksa adalah suatu kesenangan dan kekepoan yang tiada habisnya. Topik space travelling adalah pilihan menarik dan menggugah di antara carut marut omongan duniawi lain yang tiada habisnya. Kali ini, saya akan mencurhatkan sebuah seri fiksi-ilmiah lokal dengan judul PENJELAJAH ANTARIKSA karya eyang Djokolelono, yang mana telah komplit dan kelar tujuh buku di awal 2018 ini.

PENJELAJAH ANTARIKSA adalah seri keren karya eyang yang sejatinya pernah terbit di tahun 1980-an sampai buku ketiga dari tujuh yang direncanakan. Memang kalau dilihat-lihat, era tahun segitu adalah era kehebohan perjalanan antariksa, mimpi-mimpi umat manusia untuk menginjak tempat lain di luar Bumi. Hal ini ditunjang oleh kehadiran saga epik STAR WARS episode IV : A NEW HOPE yang muncul di tahun 1977 (saya tim Star Wars, maaf ya geng Star Trek), membuat tren populer mengarah ke hingar bingar perjalanan antariksa.

February 26, 2018

Smedry Semaput Semaunya

“...You want to be a better person? Go listen to someone you disagree with. don't argue with them, just listen. It's remarkable what interesting things people will say if you take the time to not be a jerk...”
- Alcatraz Smedry -



Di sela kehebohan duniawi harian, saya ternyata sempat juga membuang waktu dengan bacaan nirfaedah mengesalkan mengenai seorang abege cupu bernama Alcatraz Smedry dan keluarga besar Smedry-nya yang agaknya punya kecenderungan berbuat ribut dan menarik masalah. Keluarga Smedry ini jelas tidak masuk di akal. Masalahnya mereka adalah bangsawan ternama dari Negeri Merdeka, punya Bakat misterius, Oculator (ahli lensa) handal, dan kemampuan membuat rusuh di atas rata-rata manusia normal. Dalam dua buku sebelumnya, Alcatraz harus menghadapi rombongan Pustakawan Durjana yang ingin menguasai Bakat mereka (udah dinyinyirin di sini).

THE KNIGHTS OF CRYSTALLIA, buku ketiga dari seri kampret ini mengisahkan mengenai masalah yang terjadi pada kerajaan Nalhala, juga kemungkinan adanya pengkhianatan oleh orang-orang dari Crystallia, tempat asal kesatria pelindung keluarga Smedry. Di petualangan bodo ini, seperti biasa, pembaca dibuat kesal dengan kelakuan Al dan rombongan keluarga besarnya, ditambah umpatan serta benda unik konyol yang membuat pingin lempar sendal.