February 23, 2018

Tortilla Row

“...It is a fact verified and recorded in many histories that soul capable of the greatest good is also capable of the greatest evil. Who is there more impious than backsliding priest? Who more carnal than a recent virgin? This, however, may be a matter of appearance...”



Katanya sih ya, sebagai pembaca nan baik, ada kalanya kita harus melipir ke luar dari jenis bacaan yang biasa dibaca. Nah, saya yang mulai sok klasik, tahun 2017 lalu mencoba membaca OF MICE AND MEN (curhatannya ada di sini) karya John Steinbeck, yang didaulat sebagai penulis yang cukup berpengaruh di masanya, hingga masa kini. Steinbeck juga telah meraih Nobel sastra tahun 1962, jelas prestisius. Sejauh ini, sesuatu berbau Nobel yang telah saya baca cuma THE OLD MAN AND THE SEA- nya Ernest Hemingway, sekian belas tahun lalu. Menggugah dan bikin nangis.

Jujur saja, baca bukunya Steinbeck itu agak nganu gimana gitu ya. Novelnya gak tebal. Plotnya biasa aja. Latarnya juga tidak meriah. Saya bahkan sering gagal paham ini mau dibawa kemana kisahnya. Namun yasudahlah, anggap saja pengalaman membaca nan lebih bervariasi.

February 22, 2018

Yang Tak Terpisahkan

“...There isn't one single thing that will end unwinding. It will take a hodgepodge of random events that come together in just the right way and at just the right time to remind society it's got a conscience..."
- Sonia -



Mengalami kurang tidur demi menyelesaikan membaca buku terpaksa tidak bisa dihindari untuk kasus menyelesaikan seri favorit. Dalam kasus ini saya berurusan dengan UNDIVIDED, buku final dari UNWIND DYSTOLOGY, karya Neal Shusterman. Bulan lalu saya sudah menyelesaikan UNSOULED (curhatan di sini), dan agak tertohok. Lantas apakah UNDIVIDED memberikan akhir yang memuaskan ?

Saya meneteskan airmata di beberapa bagian kisah. Sedih berpisah dengan para tokohnya, sedih karena pahitnya ironi kemanusiaan dan apa yang para remaja ini alami, dan jelas ingin berteriak lantang pada semuanya : what have you done ? Menjadikan manusia sebagai objek daging dan organ semata dalam bentuk komoditas komersil yang bisa dipesan seenaknya telah mendorong kengerian mencekam pada jalinan kisah yang membuat diri ini megap-megap.

February 14, 2018

Burung-Burung Nyasar

"...Apa arti kata pribadi dan keyakinan dan harga diri dan nasion dan ibu dan segala istilah abstrak itu ? Apa beda seni kesatria dan nafsu membunuh ? Apa perbedaan pahlawan kemerdekaan yang gugur dan serdadu penjajah yang mampus ? Nama harum, noda nasib ? Semua jenderal yang menang disebut pahlawan, semua jenderal yang kalah disebut penjahat perang. Oleh siapa nama harum dan pujaan itu sebetulnya dibutuhkan ? Oleh yang mati atau yang menjadi ahli waris atau kelompok yang membutuhkan legitimasi ? Pemerkokoh ideologi yang ditentukan apriori...?"
- Kapten Setadewa -

Ploceus manyar

Beberapa waktu lalu, saya mendapat hadiah buku dari papaGentur alias papagent, bos saya di geng admin. Hadiah berupa roman Indonesia berjudul BURUNG-BURUNG MANYAR karya Y.B Mangunwijaya. Jenis bacaan yang tidak lazim untuk penggiat negeri dongeng macam saya.

Eksperimen papagent saya jalani dengan waktu cukup lama dari kebiasaan membaca saya. BURUNG-BURUNG MANYAR adalah roman berlatar tahun 1934-1975, mencakup tiga zaman penting dalam sejarah negeri ini, yakni zaman penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, dan zaman awal pembangunan kemerdekaan. Roman ini menjadi menarik, karena jelas, kisah yang terbit aslinya tahun 1981 ini menyuguhkan sudut pandang yang berbeda mengenai kaidah kemerdekaan dan kisah kasih anak manusia dalam tutur bahasa yang khas sastra Indonesia non kekinian, halus memikat. Tak heran BURUNG-BURUNG MANYAR sudah diterbitkan juga di negara-negara lain.

February 4, 2018

The Heart Thread

“...Once upon a time...There’s a reason all fairy tales begin like this. But the ‘and they lived happily ever after’ at the end? That has to be earned...” 
- the Bastard -




Seperti yang sudah dikisahkan sebelumnya, menjadi penggemar novel yang sepertinya underrated adalah suatu cobaan tersendiri. Kali ini saya harus berburu edisi bahasa inggris dari buku ketiga seri RECKLESS, karya penulis wanita asal Jerman favorit saya, Cornelia Funke. Buku berjudul THE GOLDEN YARN tersebut aslinya dalam bahasa Jerman, terbit tahun 2015, menyusul edisi inggrisnya setahun kemudian.

Bagi yang tidak terlalu familier dengan kisah ini, bolehlah sedikit mengintip curhatan saya ini. Siapa tau tertarik. Saya mengikuti kisah Jacob Reckless, si pemburu harta ini sejak buku terjemahannya muncul di tahun 2012-2013 silam dengan sampul yang tidak menarik. Tapi ini Funke, jadi sudah jaminan mutu. Dan memang kisah dark fairytale yang menyerempet semua dongeng ternama ini memang memikat.

January 29, 2018

Bernyawa Tak Berjiwa

“...Hope can be bruised and battered. It can be forced underground and even rendered unconscious, but hope cannot be killed...”
- Neal Shusterman -

image courtesy : creativemikey

Menjadi penikmat bacaan yang underrated dibandingkan dengan novel-novel lain yang hype di luaran adalah suatu problema tersendiri. Hal ini menyebabkan diri ini terpaksa menunggu lanjutan terjemahan sebuah seri selama bertahun-tahun tanpa harapan pasti. Akhirnya menyerah setelah terombang-ambing. Dan beralih membeli buku aslinya saja. Nah, kalimat ini bolehlah dianggap sebagai suatu pernyataan bagi masalah persepsi mengapa membeli buku impor, bukan buku terjemahannya. Ini tidak berarti saya anti bahasa Indonesia, tolong jangan generalisir. Saya hanya lelah menunggu. Teruntuk para penerbit di luar sana, maafkan keputusan saya. Digantung itu gak enak cuy, lebih ga enak lagi kalau pembaca yang terpaksa membeli buku aslinya (alias impor) dibilang kurang nasionalis. Anda kebanyakan liat ayam mabuk mungkin. Coba rasakan sendiri dilema fans garis keras yang tidak punya kesabaran luas untuk menanti.

Lantas buku apa itu ?

UNSOULED, adalah buku ketiga dari UNWIND DYSTOLOGY karya Neal Shusterman. Pertama kali mengenal buku pertamanya berjudul UNWIND sekitar tahun 2012-2013, lalu buku keduanya, UNWHOLLY muncul tahun 2016. Penantian bertahun-tahun yang membuat lelah. (Anggaplah sampul bukunya yang juga nganu..hahahahah). UNWIND memilih saya, dan saya terjebak dalam semesta ini karena sinopsis di belakang bukunya yang mengusik. UNWHOLLY juga meninggalkan kepedihan nyaris tak tertanggungkan, dan jelas saya berharap bisa bertemu lagi dengan Lev, Connor, dan Risa (curhatannya di sini).

January 28, 2018

Why Do You Love to Read Anyway ?

"...Never do anything by halves if you want to get away with it. Be outrageous. Go the whole hog. Make sure everything you do is so completely crazy it's unbelievable...”
- Matilda -



Menjadi pembaca di negeri yang katanya memiliki minat baca cukup rendah seantero dunia, adalah sebuah hobi yang kadang membuat frustrasi. Kalau soal stereotip, sudah pernah dan masih pernah dialami. Kenapa sih beli buku terus ? Kenapa sih heboh banget soal buku-buku ? Berapa duit sih yang dihabiskan buat belanja buku ? O please people, mind your own business. I didn't do any harm to your daily life's drama. Ada perjalanan membahagiakan dan indah dikenang dalam pergulatan hobi ini. Dan kisah hobi pribadi ini berasa muncul dalam bentuk perjalanan seru seorang anak bernama Matilda.

MATILDA, adalah buku anak legendaris bikinan Roald Dahl, seorang penulis kenamaan yang menginspirasi banyak kalangan. Menceritakan seorang anak lima tahunan jenius yang hobi membaca. Mulai dari bacaan untuk umurnya. Sampai novel-novel klasik yang saya sendiri sampai sekarang belum niat membacanya. Malang, Matilda terjebak dalam keluarga yang tidak suportif. Keluarga yang berpikir bahwa anak perempuan gak usah pintar-pintar amat.

January 24, 2018

The Cure Beyond Deaths


"... I'm not afraid to die, I'm afraid to forget ..."
- Newt -

Setelah tertunda karena berbagai kendala, akhirnya pilem pamungkas dari trilogi THE MAZE RUNNER, berjudul THE DEATH CURE, tayang juga di bioskop di hari yang sama dengan rilisnya curhatan ini. Trilogi ini adalah adaptasi dari seri best seller karya James Dashner. Dan dengan segala kesubjektifitasan yang saya punya, saya mesti bilang kalau THE DEATH CURE adalah film adaptasi terbaik yang berhasil mengalahkan bukunya.

Nah bagi tuan dan nyonya yang belum baca bukunya dan alergi spoiler, silakan berhenti sampai disini. Saya mau curhat pol-pol-an soal pelem yang membuat saya gagal move on dan nangis di bioskop. Yuk cuss.