August 20, 2015

Them, Kumpulan Cerita Pendek Tentang Mereka (P-4) - Tulisan Si Gondrong

“ Kadang, journey itu lebih menarik daripada destination “
            Hell, yeah. Mungkin memang demikian. Ada bagian dalam diri saya yang nyaris percaya kalau dunia diciptakan jauh lebih menarik di bagian perjalanannya, bukan bagian tujuannya. Tetapi, kalau saya boleh berargumen, keinginan menikmati perjalanan itu sering terbentur dengan batas-batas realitas yang sengaja atau tidak diciptakan sendiri oleh si makhluk ragawi.
            Why so serious ?
            Okelah. Saya nggak tau mesti merangkum ini dalam bentuk apa. Lebih ke personal literature mungkin. Buat saya yang sangat minim di dunia penulisan, mengetik (iya, mengetik di laptop, bukan mesin tik klasik jaman orangtua saya dulu) kata-kata seperti ini butuh sejenis tamparan inspirasi dan situasi tertentu yang kesannya biasa tapi berkesan. Nah begitulah.
            Jadi, yang saya tau, kita bertemu orang-orang pasti ada tujuannya. Bukan hanya kebetulan. Tuhan itu punya rencana, sesederhana elektron-elektron yang selalu bermuatan negatif dan meloncat di setiap inti atom. Seperti halnya pertemuan tidak biasa dengan orang ini, sebut saja si Gondrong.
            Ketemunya dimana ?
            Internet, online. Perkembangan dunia jaman kini memang luar biasa. Kita bisa saling tukar-pikiran, celotehan absurd, hingga tangis-tangisan labil cuma lewat kabel tak terlihat saja. Luar biasa. Bersyukur ? Jelas. Kalau tidak ada sarana ini, mungkin saya bakal tak mencambuk diri untuk menulis lagi.
            Jadi, si Gondrong ini sudah kenalan lewat media sosial beberapa tahun silam. Saya sudah merasa sedikit attached dengan orang ini kala itu. Tipikal yang absurd, aneh, kemudian punya hobi (maniak mungkin) yang tidak biasa bagi orang kebanyakan, itu poin plusnya. Maka saya mengingat orang ini, meskipun karena kesibukan masing-masing, kami tidak pernah bertatap muka, hanya bertukar komentar sekali waktu saja. Kemudian menghilang. Dunia saya merepotkan. Begitu pula dunia dia. Mungkin saja demikian.
            Namun, beberapa bulan yang lalu, setelah pergolakan batin dalam diri yang memutuskan saya untuk kembali ke rumah, tidak merantau lagi singkatnya, si Gondrong mengabari saya. Minta tolong di-review-kan tulisan-tulisannya.
            Kenapa saya ? Tanya saya waktu itu. Jelas, saya kaget sekaligus senang. Saya yang bukan apa-apa ini dimintain pendapat.
            “ Nenek kan udah banyak baca hampir semua buku di dunia, jadi pandangannya pasti oke “ tulisnya di kolom pesan suatu media sosial waktu itu.
            Saya ini penggemar novel fantasi, komik jepang, sastra Indonesia lama yang romantis, dan suka cowok-cowok anime yang ganteng. Itu saja. Tapi baiklah, karena ini menyenangkan, dan pada dasarnya saya adalah makhluk ababil yang suka berkomentar, ayo dilanjutkan. Saya pun mulai mempreteli tulisan-tulisan dia dengan gaya sok editor. Ada sekitar selusin cerita pendek yang nyasar ke e-mail saya. Saya juga membaca tulisan-tulisan dia yang lain di kolom blog-nya. Tambahan referensi sekaligus memenuhi hasrat ingin tahu saya yang suka tidak pada tempatnya.
            Pernah suka dan benci sesuatu sekaligus ?
            Nah, inilah yang saya alami ketika membaca tulisan-tulisan si Gondrong. Ada bagian dari diri saya yang suka sekali, dan ada yang benci setengah hidup (saya belum siap mati, jujur saja, belum bikin orangtua bahagia). Kenapa demikian ?
            Si Gondrong ini menulis. Iya, dia menulis. Terlepas dari orisinal atau tidak. Asli atau terinspirasi. Curhatan berbalut fantasi atau roman dengan gaya nyeleneh. Dia menulis. Saya suka itu. Sekaligus benci ketika melihat idenya yang nanggung, typo (kesalahan ketikan huruf, saya agak perfeksionis, suka banget lihat huruf perhuruf, spasi per spasi, apalah begitu), atau ceritanya yang mirip dengan perasaan saya, atau mungkin keberanian yang dia coba wujudkan dengan tulisan-tulisan itu, atau mimpi yang berusaha dia capai dengan kata-kata sebagai anak tangganya.
            Saya iri. Terus terang saja. Dulu sekali, jaman sekolah menengah, saya sempat menulis. Puisi, cerpen, romansa anak baru gede, curhat, diary, berbagai bentuk tulisan yang membuat saya ‘merasakan’ indahnya kata-kata. Meskipun setelah saya baca kembali, akan berasa norak dan bodohnya. Tetapi saya tau, itu adalah bagian dari diri saya, kecil memang, kayak lentera berjelaga.
            Maka tulisan si Gondrong seolah membangunkan saya. Ada orang di luar sana yang belum menyerah untuk menulis. Dan saya dipertemukan dengan dia. Iya, saya mensyukuri itu.
            Cukup tentang saya. Lalu bagaimana kabar si Gondrong yang jadi tokoh utama cerita ini ?
            Dia gendut, menggembung, manis tapi sedih. Itu kesan yang saya tangkap setelah bertemu pertama kali secara langsung dengannya. Pria ini nyaris patah, mungkin. Tetapi saya tak mau sok tahu. Mungkin sekarang dia masih berjuang dengan caranya sendiri.
            Kenapa akhirnya bertemu langsung ?
            Setelah menceramahi tulisan-tulisannya dengan gaya saya yang berlebihan, saya mulai sering komunikasi dengan makhluk ini. Kami bercerita apapun, late night conversation, via telepon dan sarana penunjang lain. Sampai bertukar tangisan. Lucu dan miris sebenarnya, belum pernah ketemu, tetapi sudah mengumbar airmata jarak jauh. Ini ajaib, kata saya, orang ini langka, makanya saya betah bercerita.
            Sekian bulan komunikasi, si Gondrong memutuskan pulang kampung. Makanya kami bisa bertemu. Awalnya saya takut. Bukan hal baru di dunia nyata tidak seseru dunia maya. Untunglah kekhawatiran saya yang paranoid ini tidak terbukti. Dia absurd, jelas saja. Dan saya bisa tertawa tak tahu malu di depannya, sambil kadang-kadang teralihkan oleh pemandangan dunia, dan dia menyeret saya untuk fokus kembali dalam perbincangan tak terarah kami saat itu.
            Si Gondrong ini pelupa, sementara saya pengingat. Ini sudah saya sebutkan dengan omelan panjang kepadanya, ketika dia tidak memenuhi janjinya pada saya. Saya ini anak kecil bodoh yang suka mengingat janji. Itulah masalahnya. Sementara si Gondrong punya banyak masalah dalam kepalanya, nyaris seperti perang Troya yang berkecamuk, membuat dia melupakan hal-hal remeh yang saya ingat setiap detailnya secara menyebalkan. It’s a gift, buat saya begitu, mungkin juga buat dia.
            Yang menarik lainnya, si Gondrong adalah orang yang sangat suka memuji diri sendiri, tetapi sekalian menyembunyikan sifat rendah dirinya. Secara fisik, dia amat dewasa, mental, mungkin seperti saya, yang masih ingin menjadi anak kecil seenaknya. Tetapi itu penilaian saya, dan tentu saja subjektivitas ini sangat diragukan kebenarannya.
            Saya sejujurnya terharu. Di jenjang usia ini, saya kembali memulai menulis lagi. Mungkin tidak kelihatan bagi khalayak ramai, tapi ini terlihat untuk diri saya yang rapuh. Si Gondrong berperan besar dalam hal ini, saya dengan sedikit enggan mengakui. Tuhan mengirimkan bentuk inspirasinya dalam berbagai hal. Kehadiran pria ini salah satunya.
            “ Nulis terus dong, Nek. Cakep gitu tulisannya”
            Dia mungkin tidak tahu. Kata-kata sederhana itu, membuat saya berpikir, kalau saya bisa menuangkan isi kepala dalam bentuk paragraf-paragraf manis berirama. Dia, yang suka galau dan sedih itu, justru menyemangati saya dengan seenaknya. Membuat saya kembali menemukan remaja belasan tahun dalam sudut hati saya terdalam, untuk menuliskan lagi kata-kata ini.
            Tetapi dia tidak sesempurna itu. Sama seperti makhluk fana lainnya, dia juga sedih, tidak lengkap, sendirian, felling lost (mungkin di antara kita masih banyak yang demikian), dan belum menemukan remah-remah roti penunjuk jalan. Dia sering terjebak dalam kebingungan. Mau apa sekarang ? Mau jadi apa ?
            “ Gimana kalau mimpi ini udah kadaluarsa, Nek ? “
            Saya bingung. Saya amat tidak suka kalau dia sudah bilang begitu. Dan bodohnya, saya hanya mampu menyemangati dengan kata-kata penghiburan tak layak. Atau malah mengalihkan pembicaraan dengan mengomeli dia lagi soal kondisi kesehatannya yang fluktuatif. Sejatinya, saya tidak rela kalau dia berhenti.
            Kadang saya sejenak tertegun. Ini mimpi saya atau mimpi dia ? Melihat dia sukses menjadi apa yang dia impikan, muncul dalam kepala saya, tidak sering, tetapi selalu ada. Seolah ini adalah harapan saya juga, meskipun saya tahu, bukan hak saya.
            Si Gondrong ini memang manis dan menyebalkan. Kalau kata dia, mempesona. Mungkin demikian. Saya yang sempit pergaulan, merasa bersyukur bertemu orang ini, karena banyak sekali sisi dunia di luar sana yang tidak saya tahu. Membuat saya lebih merasakan sedikit makna mimpi-mimpi yang pernah saya lupakan. Bagian menyebalkannya adalah dia suka kerepotan sendiri, menyangkut hal-hal kecil yang bisa diputuskan dengan gampang oleh orang biasa. Sesederhana pulang kampung sebelum Ramadhan atau menjelang Lebaran. Mr.Overthinking, katanya begitu. Saya menanggapi saja dengan tersenyum geli atau menghela napas prihatin. Soalnya hal-hal begini sering membuat dia sakit kepala. Dan saya khawatir sendiri karena distraksinya seringkali terbatas kopi dan rokok, dua substansi penambah rusak sistem tubuhnya.
            Jadi sekarang apa kabarnya si Gondrong ?
            Dia aman dan nyaman di rumah, di pangkuan Bundanya tercinta. Isi kepalanya, entahlah, mungkin sedang gencatan senjata atau malah perang dunia kesekian. Saya ingin tahu, sekaligus berusaha tidak peduli, meskipun itu bertentangan dengan karakter saya yang kepo ( Knowing Every Particular Object ) setengah mati. Terakhir di blog-nya, dia menulis tentang sebuah buku roman dan curhat membersihkan kamar kosnya. Saya suka model tulisan curhat dia, menyebalkan tapi pas saja rasanya. Seolah kita berada disana  melihat langsung kesemrawutan itu.
            Lalu, romansa pribadi si Gondrong ?
            Ini topik pribadi yang tidak etis, tetapi menyenangkan. Kalau mau jujur, si Gondrong ini juga kenes banget dalam hal ini (bedanya apa sama saya). Tetapi, sama seperti cerita cinta lainnya, selalu mengharu-biru untuk disimak.
            I’m the man without commitment
            Kata dia sih demikian. Yang saya percaya, belum, bukannya tidak bisa. Selama ini, kisah cintanya yang berakhir dengan beraneka model broken-sad-ending, menunjukkan banyak hal. Mungkin takdir yang belum berpihak padanya, Tuhan yang memintanya menunggu, atau hatinya sendiri yang masih belum siap untuk berbagi dan dilengkapi.
            Saya memang sok tahu, jelas sekali itu.
            Tidak ada pria yang tidak layak dicintai. Tuhan saja yang Maha Cinta, tetap mencintai kita meskipun kita berkubang kotoran tak terhitung yang kita ciptakan sendiri. Saya memang sombong sekali berusaha berharap yang paling baik bagi dia. Karena saya tahu, bagi saya dia baik, dalam caranya sendiri, tentu saja.
            Saya berterimakasih padaNya, juga pada si Gondrong ini. Di sela-sela kesebalan saya yang selalu ada buat dia, si Gondrong ini memorable. Entah kami bakal ditakdirkan berteman selamanya atau tidak, buat saya dia sudah ada posisinya sendiri. Petasan gembung sepertinya. Trigger yang memicu saya untuk kembali menuliskan aksara-aksara sebagai luapan isi kepala. Walau mungkin hanya dia dan Maha Editor yang membaca kata-kata ini.
            Memang menikmati perjalanan dan menemukan kembali mimpi terpendam adalah salah satu bentuk karunia tak ternilai dalam hidup. Si Gondrong secara tidak disadarinya mengajari saya hal ini. Entahlah bagi dia seperti apa. Saya tidak mau terlalu sering memujinya, nanti perutnya semakin menggembung.
            Si Gondrong ini seperti panda. Hitam-putih harmonis menggemaskan, terkesan lucu tapi sebenarnya garang. Besar tetapi soliter. Untuk saat ini, dia belum rela diikat di luar kemauannya sendiri. Saya sedikit memahami, mirip saya sepertinya. Tetapi dengan alasan yang berbeda, mungkin.
            Tulisan-tulisan si Gondrong membuat dirinya menjadi semacam puzzle lukisan acak yang menantang sekaligus familiar. Seperti yang sudah saya jelaskan, dia menulis seenaknya. Karunia juga, saya rasa. Dan saya tentu saja berharap, masih diberi kepercayaan membaca tulisan-tulisannya. Doa saya untuknya, mimpi itu akan dijawab, segera.
            Semoga si Gondrong tetap menulis. Bukan untuk siapapun, tetapi untuk dirinya sendiri. Semoga dia selalu dikaruniai hati yang sama, yang seperti dia seharusnya, mengikuti rentetan cahaya yang akan menuntun perjalanannya. Semoga.

No comments:

Post a Comment