December 7, 2015

Setelah Perang Raja-Raja, Melangkah ke Tanah Lada, dan Akhirnya Terkurung di Bawah Kubah

Setelah sok sibuk berhari-hari (masi banyak kerjaan sih), akhirnya saya menyempatkan diri menulis lagi. Anggap aja ini review singkat mengenai beberapa buku yang telah dan sedang saya baca. Awal November, saya dikejutkan dengan kedatangan hadiah berupa si kuning gratisan dari penerbit lokal (menang random generator antar admin grup kece saya), dan akhirnya buku ini menyita perhatian dan konsentrasi penuh.
A Clash of Kings, alias Peperangan Raja-Raja adalah buku kedua seri A Song of Ice and Fire, mahakarya best seller opa GRR.Martin (dengan serial TV yang luarbiasa populer tentunya), mengetengahkan konflik lanjutan dari perebutan tahta di 7 Kerajaan. Yang licik semakin licik, dan sulit menentukan siapa yang mau didukung. Soalnya si opa doyan tebas leher karakter-karakter favorit, meskipun sejauh ini favorit saya masih aman (Tyrion Lannister, Bran Stark, Arya Stark). Sekitar 1200 halaman lebih lumayan memuaskan pembaca, walau ada masalah typo dan dobel halaman, serta kemungkinan beberapa bab yang hilang (ou yaaaa..) dan masih diinvestigasi dan ditelusuri oleh penerbit

Selanjutnya, ntah kenapa, saya yang biasanya agak skeptis sama tulisan karya anak negeri, akhirnya membaca buku berjudul Di Tanah Lada, karya seorang penulis muda dengan nama luar biasa panjang. Novel ini menang penghargaan sebagai juara II Sayembara Menulis Novel Tahun 2014, makanya saya mencoba (setelah saya terkagum-kagum dengan Napas Mayat yang jadi juara ke III). Di Tanah Lada merupakan cerita menyedihkan yang ditulis dari sudut pandang seorang anak, tentang KDRT yang terjadi di keluarga kecilnya. Si anak bernama Ava, bertemu anak lelaki bernama P dengan nasib yang jauh lebih miris daripada Ava, tapi sama menyakitkannya. Ziggy, sang penulis, pintar sekali menuturkan cerita menyedihkan ini. Ending-nya membuat saya meneteskan air mata, berasa kecolok lada ini mata. Dan beneran bikin hampa setelah membacanya..(terpikir banyak Ava dan P di luar sana).
Setelah bertangis-tangis ria, saya akhirnya memasuki kubah transparan gigantik ala om Stephen King di dua buku Under The Dome (Di Bawah Kubah). Sebenarnya pengen baca buku ini udah lama, katanya seri TV nya nge-hits, tapi nunggu diskonan, dan dengan bantuan seorang sohib, akhirnya buku ini bisa sampai ke rumah (sempat diintip papa saya). Saya baru baca sekitar 100 halaman lebih (saat tulisan ini ditulis), dan saya mengacungkan 4 jempol untuk om King atas kepiawaiannya mengolah detail dengan cara yang mengerikan. As if you could feel the blood on your hands. Dan sekarang, saya masih terjebak di bawah kubah sensasional tersebut, bersama letnan veteran, Dale Barbara, dan siraman hujan badai bulan Desember.
Bahagia, jelas. Sibuk, masih. Galau, tentu saja. Tetapi ada buku-buku buat berbahagia.
Happines can be found in the darknest, if one remember to turn on the lights (A.P.W.B. Dumbledore)

No comments:

Post a Comment