March 2, 2016

Sometimes, All I Need Is Magic

..hati itu dipilih..bukan memilih..

Ahahaha, kesambet apa saya comot kata-kata itu dari sebuah film lokal yang disadur dari novel sukses yang belum saya baca. Sedikit mengingatkan akan kondisi saya sebelum-sebelum ini, selalu memilih, bukan dipilih.
Okay, forget it..back to the show..
Akhirnya bulan Maret sudah nongol. Cuaca kota tempat saya tinggal sedang lucu-lucunya seperti abege labil masa kini, kadang hujan deras sekali, kadang panas luarbiasa. Maafkan Hamba-Mu ya Rabb, bukannya mau mengeluh terus, tapi ya gitu..curhat sedikit pada dunia.
Sepertinya blog ini akan terus diisi dengan review sekedarnya dari buku-buku yang telah saya baca..sekalian pamer sih (oh, gitu..). Tapi serius, saya lagi malas menjemput inspirasi untuk menulis cerita apapun, padahal sedang ada lomba yang saya ikuti di komunitas pembaca tempat saya bernaung.
Jadi sudah baca apa saja saya..?
Sesuai dengan judul tulisan ini, ALL I NEED IS MAGIC..
Saya mengalami sedikit penurunan dalam 'rasa kepuasan' membaca, akhirnya memutuskan untuk kembali ke genre fantasi favorit saya yang ada sihirnya-naga tentu saja-dan petualangan anak-anak (atau remaja mungkin), dengan problema kebaikan versus kejahatan. Menarik beberapa buku dari timbunan, saya lantas memilih buku Magic Thief karya Sarah Prineas, tiga buku dengan warna dan ilustrasi kece yang bikin hati saya lumayan hangat. 
ini bukunya, warnanya bagus sekali
Saya sedikit bahagia, apalagi akhirnya petualangan Connwaer si murid Sihir berakhir menyenangkan. Maka saya akhirnya lanjut ke genre lain, guess what..distopia. Mengaku lelah dengan cerita tentang kehancuran dunia di masa depan, ternyata tak menyurutkan niat saya untuk membaca dua buku distopia sekaligus. Yang pertama, Alif Lam Mim (3), adalah novelisasi skenario dari film lokal Indonesia yang penayangannya hanya sebentar di bioskop. Mungkin karena pekat sekali unsur perang antar agama, stereotype, kekotoran politik, yang mau tak mau membuat saya bergidik ngeri. Mungkin saja, mungkin saja ini terjadi di masa mendatang, kalau melihat kondisi negara kita saat ini (uhuk..berat cuy..).
Lalu saya melipir ke The Walking Dead : Road To Woodburry. Ini adalah buku kedua dari prekuel (?) serial televisi laris The Walking Dead yang lagi happening. Menceritakan kekejaman sang Gubernur di antara tangan dinginnya mengatasi kepungan zombie-zombie. Banyak darah dimana mana, sampai merinding jijik akan kelakuan manusia di dalam ceritanya (bukan zombienya yang bikin saya ilfil..).
Kelihatan chaosnya dari cover buku-buku ini
Muak dengan intrik dan gelimangan mayat, saya kembali ke dunia sihir. Akhirnya saya meloncat ke buku kumpulan dongeng, Wizards. Wizards berisikan dongeng-dongeng yang ditulis oleh penulis-penulis ternama (mereka udah kayak penyihir deh..). Dibuka oleh cerita Batu Nisan Penyihir oleh Neil Gaiman (yess, oom sayang sayaaa..), dan saya langsung terhanyut oleh kekayaan diksi masing-masing cerita. Ada yang absurd sih, tapi tidak menutupi ke keren-an ceritanya. Saya sangat menyukai Holly dan Besi yang ditulis oleh Garth Nix, kuat dan bercahaya. Dan sempat terpingkal-pingkal oleh kelakuan seekor merpati dalam cerita berjudul kisah unggas karya Eoin Colffer.
Buku yang sudah langka
Terakhir, hati saya langsung tercabik karena sebuah karya epik berjudul Elantris yang ditulis oleh Brandon Sanderson, penulis muda produktif yang berhasil mengguncang emosi saya. Semesta yang dibangun, plot twist, kejutan-kejutan, membuat saya gagal move on. Elantris berhasil menyembuhkan saya yang dirongrong kegalauan dunia nyata. Mumpuni, magis, dan benar-benar mengaduk perasaan.
Terimakasih sudah menerjemahkan buku ini
Dan dari sinilah saya menyimpulkan, mungkin saya butuh sedikit sihir dalam cerita-cerita untuk menceriakan hari-hari ke depan. Tetapi, saya yakin, akan ada selalu kejutan dan kebahagiaan di Maret ini. Amiinn..^^

No comments:

Post a Comment