March 18, 2016

Terdampar


(Diceritakan kembali dengan seenaknya dari penghujung bab terakhir Gerbang Ptolemy karya Jonathan Stroud)

Giveaway PNFI The Wheel Of Doom Writing Challenge


Nathaniel
            Good bye.”
            Nathaniel memejamkan matanya, mengingat siluet Kitty yang menghilang dihadapannya. Dia harus menghentikan Nouda, meskipun dia tau, satu-satunya jalan yang akan ditempuh adalah mengorbankan nyawanya sendiri. Dia meraih sisa kesadarannya dan merasakan kehadiran Bartimaeus, agak kaget dan keheranan. Sang jin itu tau pasti apa konsekuensinya.
            Tidak ada jalan kembali. Nathaniel menggenggam Amulet di lehernya, memegang dengan erat tongkat di tangannya. Mendaraskan mantra-mantra. Lalu ledakan cahaya hadir tak terbendung. Jutaan partikel materi berontak seakan udara dirobek. Suara keras membahana memekakkan telinga.
            Yang tersisa hanya puing-puing. Dan Nathaniel menghilang.
Tepi Pantai, 19.49 WIB
            Awalnya hanya gemuruh, lalu tanah bergoyang hebat, terdengar deru kepanikan di seantero bibir pantai. Meskipun kota ini kesannya sudah terbiasa dengan hentakan bumi, tetapi yang ini kuat. Terlalu kuat. Mengingatkan kembali akan trauma bertahun-tahun silam. Herannya, aku malah mematung. Lalu gempa itu berhenti.
            Kemudian kemacetan menguar di sepanjang jalan. Semua ingin menjauh dari pantai. Takut akan kedatangan gelombang besar yang bisa meluluhlantakkan kehidupan. Aku mengerjap, mengembalikan kesadaranku. Tak disangka, ada sebentuk cahaya yang jatuh beberapa meter dari tempat ku berdiri. Mengabaikan keselamatanku sendiri, aku melangkahkan kaki ke sumber cahaya kebiruan itu, yang tiba-tiba meredup lalu mati.
            Sesosok manusia menggeliat di balik batu-batu besar di pinggir pantai. Terhuyung-huyung, dia berdiri. Aku menyipitkan mata melihat ke arahnya. Cahaya temaram dari lampu-lampu di pinggir pantai hanya sedikit membantuku. Lalu sosok itu bangkit sepenuhnya. Seorang remaja lelaki belasan tahun.
Nathaniel
            Kalau ini kematian, mungkin ini terlalu di luar bayangannya. Berbau laut, samar-samar terdengar debur ombak. Nathaniel perlahan membuka mata. Jelas ini bukan di taman St.James, bukan di Trafalgar Square, hampir pasti ini bukan London.
            Seseorang berjalan ke arahnya. Wanita dengan semacam kerudung menutupi kepalanya, berkibar di tiup angin. Susah payah, Nathaniel bangkit. Merasakan nyeri di sekujur tubuh. Dimanakah dia ?
            Wanita itu mendekatinya. Melihatnya prihatin. Lalu menggumamkan kata-kata yang tak dia mengerti. Nathaniel bingung, bahasa asing. Dia menatap si wanita yang juga bingung. Nathaniel kelelahan, nyeri hebat, tidak punya akses terhadap Bartimaeus lagi. Tidak punya apapun.
            Sejurus kemudian, wanita itu berbicara lagi.
            Oh sorry. Can you speak English ?”
            Nathaniel mengangguk. Bahasa yang dipahaminya. Semacam kelegaan hadir di pikiran kalutnya.
            Are you okay ?”, tanyanya khawatir.
            Wanita ini berusia sekitar duapuluhan, tidak ada tanda-tanda magis apapun dalam dirinya, Nathaniel menilai sekilas sebelum menangguk lagi. Sekarang dia merasa amat letih dan lapar.
            Where are you from ? Where are your parents ?”
            “ L-London. I-I d-don’t have any,” kata Nathaniel terbata-bata.
            Si wanita menatapnya keheranan.
Di dalam mobil, 20.37 WIB
            “ 7,8 SR. 691 KM dari Kepulauan Mentawai, kedalaman 10 KM.”     
Suara penyiar radio membahana di dalam mobilku. Gempa besar dan kemunculan bocah ini. Sungguh tak masuk di akal. Aku menatap bocah kurus yang duduk di kursi mobil di sebelahku. Dia pun sepertinya keheranan. London ?? Memang sih dia jelas saja orang asing. Tapi yang ku tau, turis asing biasanya tidak berkeliaran sendirian di kota ini. Tidak dengan keadaan compang-camping kaget seolah habis mengalami peristiwa mengerikan. Dan dia tidak punya orang tua, kataku dalam hati.
            Dia diam saja, lelah dan lapar sepertinya. Umurnya sekitar 16 atau 17 tahun, tetapi sangat kurus dengan mata gelap seperti kakek tua dengan beban mental berlebihan. Dia tidak menolak ajakanku untuk pergi dari pantai dan menembus kemacetan massa. Kusodorkan air mineral dan menyuruhnya duduk dalam mobil. Lantas kuputuskan untuk mengajaknya makan dulu. Tidak banyak informasi yang bisa digali dari bocah ini. Mungkin setelah makan, dia akan ku antar ke kantor polisi, siapa tau ada kerabatnya sedang panik mencari.
            Kemacetan ini mengerikan. Tidak ada jalan alternatif yang bisa kutuju. Dalam diam, kulihat bocah itu tertidur.

Nathaniel
            Seperti mimpi yang aneh, kelebat cahaya, cengiran Bartimaeus dalam wujud Ptolemy-nya, tatapan mata Kitty, dan sesuatu atau seseorang mengetuk bahunya. Nathaniel terbangun mendapati dirinya duduk dalam sebuah kendaraan dengan kursi empuk berwarna hitam. Wanita berkerudung tadi yang membangunkannya, lalu menatapnya masih dengan keheranan yang belum surut.
            We’re arrived. Let’s eat something,” katanya lembut.
            Wanita itu mengajaknya ke sebuah kedai kecil dengan banyak buku. Pemilik kedai menyambut si wanita dengan ramah, lantas melihat ke arah Nathaniel, tatapannya penuh tanda tanya. Si wanita tidak menjelaskan banyak, mungkin sama bingungnya.
            Nathaniel duduk di kursi kecil. Sejurus kemudian, nyonya pemilik kedai yang bermata sipit dan berkulit putih datang membawa sepiring makanan hangat, semacam daging yang ditusuk dengan kayu-kayu tipis, dan segelas cairan berwarna bening kecoklatan. Tergoda rasa laparnya, Nathaniel mulai makan dalam diam, meskipun dia tidak tau nama makanannya.
            Si wanita duduk menatapnya, masih dengan gurat keheranan.
            You’re starving,” katanya dengan rasa geli dan prihatin sekaligus.
            What is this ?,” tanya Nathaniel memberanikan diri menunjuk daging yang ditusuk itu.
            “ Sate Padang. Very delicious. I bet you’ve never seen this in London, right ?”
            Nathaniel mengangguk. Ragu-ragu dia mencicipi makanan yang disebut sate padang itu. Ternyata enak sekali. Tanpa ragu, Nathaniel menghabiskan makannya. Menyeruput minuman dan perlahan merasakan tenaganya mulai pulih.
            Err..excuse me. Where are we exactly ?,” tanyanya sejurus kemudian pada si wanita.
            Wanita itu menatapnya semakin heran.
            This is my friend’s book cafĂ©. You’re are in Padang now. Indonesia. Southeast Asia,” katanya menjelaskan.
            Nathaniel tertegun. Padang ? Indonesia ? Yang dia ketahui hanyalah Indonesia adalah kepulauan tersembunyi di samudera yang begitu jauh dari London-nya. Indonesia pernah disebutkan dalam buku-buku di lemari kerja masternya, sebagai negeri dengan banyak mitos dan sumber magis yang belum terpetakan.
            Do you remember anything ? You’re name ? Siblings ?.” tanya si wanita kemudian.
            Nathaniel mengerjap. Dia tidak boleh memberitahukan nama aslinya pada wanita ini. Meskipun tak sedikitpun niat jahat terlihat dari si wanita, dia harus tetap berhati-hati. Bartimaeus, dia butuh sang jin.
            “ I’m John Mandrake and I need your help,” katanya jelas dan tegas pada si wanita.
            Keheranan, si wanita mengangguk.
Reruntuhan Bangunan, Kota Tua,  Kampung Cina, 23.41 WIB
            Ini adalah kejadian paling aneh seumur hidupku. John Mandrake minta tolong padaku untuk mencarikan selusin lilin putih besar dan kapur tulis. Yang lebih aneh lagi, dia minta dibawa ke tempat sepi dan telantar. Dia tidak mau menjelaskan alasannya. Dan aku, yang didorong rasa penasaran, malahs meng-iya-kan permintaannya. Padahal aku mulai takut. Kota tua ini menyeramkan dalam siluet bayang-bayang reruntuhan bangunan terlantar.
            Di sepetak lantai kotor di dalam sebuah bangunan yang dinding dan atapnya amblas, John mulai menyusun lilin-lilin dan menyalakannya. Dengan kapur di tangannya, dia mulai menggambar. Semacam pentacle besar dengan ukiran-ukiran rumit. Simetris, dan ini karya seni luar biasa. Dalam kelelahan dan gemetar tubuhnya, John tak bergeming. Menghabiskan kapur tulis itu, mengecek berulang-ulang. Kemudian dia menggambar satu pentacle lagi mengelilingi aku dan dia.
            I need you to stand still. Do not step out from this circle. Not a finger,” katanya tegas.
            Aku mengangguk dan bergidik ngeri. Udara seolah lenyap, hanya meninggalkan rasa dingin menusuk.
            John lalu mengucapkan bahasa rumit dan asing. Mantra ?
            Seolah berdoa sekuat tenaga, John mengucapkan kata-kata aneh itu. Kabut berpendar di dalam pentacle besar, pekat dan berbau apak, kemudian berubah menjadi bau telur busuk yang menyesakkan. Aku merinding hebat. Apapun itu, lantas pelan-pelan mewujud dari kabut. Muncul sesosok pemuda berpakaian Mesir kuno dengan cengiran jail tersungging di bibirnya. Tapi matanya, matanya begitu gelap dan kosong. Seolah akan menelanku bulat-bulat. Aku menggigil.
            Anehnya John terlihat begitu senang, meskipun amat lelah dan bercucuran keringat.
            Lalu suara kanak-kanak yang dalam dan membekukan tulang membahana. Keluar dari mulut si pemuda Mesir.
            Hi Boss, miss me ?,” katanya sarkastis, anehnya meskipun terlihat kejam, di antara gigilanku yang makin hebat, aku bisa merasakan sedikit rasa hormat dalam suaranya.
            Bartimaeus. Shakr Al-Jinn. I need you to bring me back home,” John memerintahkan dengan tegas.
            Okay. No need to hug me then. Cold as usual. Anyway, is she for me ? I’m hungry. This is soooo faarr from where I used to be,” balasnya kejam. Aku gemetar ketakutan memeluk diriku sendiri.
            She remains unharmed. You are never allowed to lay a single finger on her,” bentak John tegas.
            Sosok yang dipanggilnya Bartimaeus itu mendengus mencemooh, tetapi tidak membantah.
            Bring me home, now,” John memerintah lagi. Ada kekuatan dalam suaranya. Lalu John melangkah keluar dari pentacle. Aku menahannya, merasa akan berbahaya kalau dia keluar. Dia menepis tanganku menentramkan, lantas melenggang dengan santai.
            Mendadak saja Bartimaeus berubah menjadi elang raksasa berukuran besar berwarna putih keabu-abuan. John menaiki punggungnya. Si elang mengedip padaku yang masih melongo kaget.
            Thank you,” bisik John sebelum si elang mengepakkan sayap dan membubung ke angkasa.
            Aku masih gemetar sendirian. Mencubiti lenganku. Ini bukan mimpi, kataku pada diri sendiri seiring sengatan nyeri menjalar di lengan kiriku.
Nathaniel
            Nathaniel terbangun. Angin menerpa wajahnya. Si elang masih terbang samar melayang di atas birunya lautan. Mungkin Samudera Hindia.
            Sorry Bartimaeus.”
            “ Yeah. You’re annoying. Now you call me back when I just felt my precious freedom.”
            “ You should try Sate Padang sometimes.”
            “ What !? You should give me humans or maybe another Marid instead.”
            Nathaniel terkekeh. Menatap cahaya matahari berkilau-kilau dari kejauhan. Dia berjanji akan mengunjungi Indonesia lagi. Dengan pendaratan yang elegan tanpa gempa, sekaligus menyatakan rasa terima kasih yang lebih baik bagi si wanita penolongnya.
            Dan dia punya keyakinan, si wanita akan menantikan kunjungan Nathaniel berikutnya.

No comments:

Post a Comment