May 31, 2016

Tenggelam dalam Samudera, Terdampar di Antah Berantah, Kembali dengan Kunci Tua

Edisi Asli
"..lay on my bed, lost myself in the stories..i liked that, books were safer than people anyway.."

Sepenggal kutipan dari novel The Ocean At The End Of The Lane, karya penulis favorit saya, Neil Gaiman. Sejujurnya saya sudah membaca edisi terjemahannya dengan judul Samudera di Ujung Jalan Setapak, sekitar tahun 2014 awal. Dan saya suka, meskipun ada beberapa hal yang tidak saya pahami. Makanya, begitu buku aslinya dijual dengan harga lumayan miring (tanpa ongkir pula), maka saya tak pikir panjang, merogoh kocek akhir bulan untuk mendapatkan edisi asli ini. Dan it's absolutely worth it. Buku ini ' menenggelamkan' saya dalam samuderanya. Bahasanya sederhana, tapi 'rasa' bukunya luar biasa.
Sepenggal memori masa kecil menjadi topik dalam novel ini. Memori yang magis, mistis, menyakitkan, cenderung seram, namun tetap menghanyutkan. Membuat saya tak mampu melepaskannya begitu saja. Terngiang-ngiang, apakah saya sendiri sudah melupakan begitu saja kenangan masa kecil yang campur-aduk itu..?
"..Grown-ups don't like grown-ups on the inside either. Outside, they're big and thoughtless and always know what they're doing. Inside, they look just like they always have. The truth is, there aren't any grown-ups..Not one, in the whole wide world.."
Kata-kata ini membekas di hati saya. Sejalan dengan banyak lagi kejujuran dalam bukunya. Membuat saya merenung lama, berpikir soal diri saya sendiri dan apa maunya hidup ini (tiba-tiba serius).

Neverwhere edisi Indonesia
Bukan buku om Gaiman ini saja yang saya tuntaskan dalam bulan Mei ini. Sebelumnya, saya terlebih dulu tersesat di London Bawah, bersama Richard Mayhew, gadis bernama Door, dan tokoh eksentrik favorit saya, Marques de Carabas dalam novel berjudul Neverwhere - Kota Antah Berantah. Saya telah mencari buku ini sejak lama, dan akhirnya menemukannya di olshop terpercaya, bekas memang, tapi kondisinya amat bagus. Dan lagi-lagi saya terpesona. Londoh Bawah yang kumuh begitu menjerat dengan keajaibannya. Petualangan Richard Mayhew penuh intrik dan tipu daya, melibatkan legenda-legenda lama. Berurusan dengan kegaiban, makhluk-makhluk abadi, dan the fallen angel yang lupa diri.
Dongeng dewasa yang ditulis om Gaiman ini pantas mendapatkan apresiasi yang baik. Heran saya kok jago banget nulisnya.

"..I mean, maybe I'm crazy..but if this is all there is..then I don't want to be sane.." (di googling yang versi inggrisnya).


Coraline edisi Indonesia
Setelah Neverwhere, sebelum tenggelam di Samudera, saya menyempatkan diri singgah di petualangan menyeramkan Coraline. Masih buah karya Neil Gaiman tentunya, Coraline awalnya saya kenal dari film animasi yang saya tonton beberapa tahun silam. Menurut saya, filmnya lumayan spooky. Anak-anak bisa mimpi buruk kalau nonton ini. Dan ternyata bukunya jauh lebih seram.
Coraline adalah seorang gadis cilik yang pindah ke rumah baru, lalu menemukan pintu dan kunci tua di ruang benda-benda antik, yang ternyata menghubungkannya dengan Ibu dan Ayah yang lain, dimana mereka menginginkan Coraline menetap, tidak usah kembali ke dunianya. Dengan konsekuensi yang mengerikan tentunya. Saya sampai bergidik sendiri baca bukunya. Untunglah happy ending. Meskipun butuh keberanian luarbiasa dari seorang gadis sekecil Coraline.

Dari ketiga buku ini dapat disimpulkan, saya masih akan terus menyukai tulisan-tulisan om Gaiman, masih terus mencari, dan masih akan membaca dongeng dan beraneka cerita fantasi lainnya. Karena pesan-pesan moral, karakter, dan kepribadian justru akan anda temukan saat membaca petualangan menunggangi naga, mengakali nenek sihir, dan mungkin saat menemukan keberanian dalam melawan kekuasaan raja.
So open your mind..read fairy tales..you can be friends with dragons..fly up above..and angels are not always cute and lovable..

Teruntuk siapapun di luar sana yang menganggap membaca novel fantasi hanya untuk anak-anak saja dan merupakan perbuatan sia-sia. 
Regards..^^

No comments:

Post a Comment