August 20, 2016

Maaf Roy, Kita Tak Sejalan

Hai..
Selama beberapa minggu ini, saya mencoba membaca novel lokal non fantasi, di sela-sela bacaan fantasi saya yang biasa. Nah, kebetulan, di cafe buku langganan saya, sedang diobral satu boxset novel lokal yang katanya terkenal di zamannya. Sekitar akhir 80-an, dengan judul besar BALADA SI ROY.
Seri karya penulis kenamaan Indonesia, Gol A Gong ini, diakui menjadi bagian dari tren bacaan anak muda di jamannya kala itu. Roy, anak SMA berusia jelang 18 tahunan, memulai kisah hidupnya sendiri yang lumayan pelik dan berliku. Tetapi, menurut hemat saya, lebih sering disebabkan oleh pilihan hidupnya sendiri.
Ada 5 buku dalam boxset ini, menyatukan 10 judul buku versi lamanya : 1. JOE - AVONTURIR, 2. RENDEZVOUS - BAD DAYS, 3. BLUE RANSEL - SOLIDARNOS, 4. TELEGRAM - KAPAL, 5. TRAVELER - EPILOG. Ditambah satu bonus buku skenario film yang ternyata tak jadi di film-kan (saya juga ga tau kenapa).
Saya nggak akan bahas satu persatu isi bukunya, karena saya malas merangkumnya, cuma sayang aja kalo ga dibikin curhatan di blog kan..udah baca seboxset soalnya. So, what did i get ?
Menarik, jelas. Buku ini memang menarik. Ntah karna selera saya yang jadul, atau ceritanya yang tak seklise teenlit lokal masa kini. Saya yang sempat menyukai seri Lupus-nya Hilman, dan masih terpesona dengan Dilan-nya ayah Pidi Baiq, tentu saja memiliki ketertarikan sendiri terhadap buku ini. Cuma, saya tidak sejalan dengan Roy. Tidak dalam banyak hal.
Roy tinggal berdua dengan Mama saja. Ayahnya meninggal di gunung saat berpetualang. Dan Roy tumbuh jadi pribadi yang sulit. Kadang dia baik, kadang oportunis, yang jelas dia narsis dan sangat kecentilan. Roy seperti pemangsa, mengincar banyak gadis. Di setiap bukunya, ada aja wanita yang disinggahinya. Meskipun memang ada satu Dewi Venus yang membekas di hatinya, tetapi tetap saja, sisi feminis saya berontak begitu tau kelakuan si Roy terhadap kaum hawa. Segitu gampangnyakah? Dan kenapa cewek-cewek ini gampang banget ya terpikat ?
Roy malas sekolah, bukan karena tidak cerdas, tetapi lebih memilih bertualang. Belum lagi Roy sempat mabuk, nge-drugs, dan bikin susah Mama, selalu. Cuma, yang menarik saya, Roy ini menulis. Dia adalah penulis cerpen paruh waktu di majalah-majalah. Jarang sekali cowok bad boy yang doyan nulis (setahu saya). Dan honor dari nulis-nulis inilah yang bikin si Roy bisa jalan-jalan backpacker-an kemana-mana. Mulai dari Jawa sampai India.
Buku ini menarik dalam hal jalan-jalannya, dan potret beragam manusia yang ditemui sepanjang perjalanan Roy. Membuat kaki ini gatal pengen jalan-jalan juga. Melihat dunia. Disinilah letak poin plus-nya menurut saya. 
Lantas kenapa saya tidak sejalan dengan Roy ?
Mungkin karena Roy terus-terusan berlari. Berlari entah dari apa yang dia takuti. Travelling mungkin adalah pelarian, jalan yang dipilih Roy untuk menemukan diri sendiri. Dan dia harus berkorban, menanggung konsekuensi atas pilihan-pilihannya sendiri.
Roy berani namun gegabah. Meledak-ledak, dan sering hilang arah. Dan saya terpaksa tidak sejalan, karena hingga akhir, Roy masih terus berlari, belum tau kapan berhenti.
Sekian.
Direkomendasikan bagi pembaca muda berbahagia yang ingin cerita berbeda dari setiap masa keemasan sastra Indonesia Raya.
^^


No comments:

Post a Comment