October 16, 2016

Monsters Are Inside Us : Another Life's Joke

Bulan penuh hujan, dingin, dan kelam..yah, Oktober ini kayaknya gak perlu ramalan cuaca. Cek aja siluet langit. Abu-abu seperti kata mas Tulus : Langit Abu-Abu (semacam lagu favorit saya bulan ini dan bulan kemarin).
Oke, sesuai judul, saya akan semacam curhat pertengahan bulan mengenai beberapa hal. Terkait dengan judulnya, seperti biasa, ada buku yang akan saya bahas, sekalian cerita lain dalam hidup saya belakangan. Kalau ga mau baca, yaudah skip, ga usah repot (saya anaknya pundungan, tapi kalo disodorin makanan favorit biasanya luluh -- receh gitu ya..).
Jadi saya kehilangan hasrat membaca yang lumayan di awal Oktober. Pasca kelar bikin ripiu seadanya soal bukunya mas Haditha (Nagaraga itu..), saya gegulingan ga jelas di kamar, melukin boneka panda, mengabaikan rintihan timbunan dalam lemari. Lalu ga tau yah, setelah susah payah menyelesaikan CANDY MAKERS-nya Wendy Mass, buku manis-hangat, akhirnya saya tergerak untuk membaca lagi. THE MONSTRUMOLOGIST - Rick Yancey. Buku terjemahan yang nongol akhir bulan kemarin.
Nih, Ini buku pertama ya
Menceritakan kehidupan Will Henry, anak lelaki 12 tahun bersama seorang ilmuan-ahli Monster-Monstrumologist bernama Doktor Pellinore Warthrop, yang eksentrik dan gak punya perasaan (sepertinya). Mereka harus menghadapi serbuan rombongan Anthropophagi, semacam makhluk tak berkepala yang doyan makan manusia (senada dengan definisi namanya, Anthropos - manusia, phagi-phagos - makan, mencerna). Mengambil setting di tahun 1888 di Amerika Utara, Kota New Jerussalem, Will Henry dan Doktor Warthrop mesti mengenyahkan rombongan makhluk sadis ini sekaligus menghadapi pertanyaan besar : kenapa para pemangsa yang katanya berasal dari pedalaman Afrika ini bisa nyampe dan beranak pinak nun jauh dari tempat asalnya.
Darah, potongan tubuh (banyak istilah anatomi, saya suka), kekelaman, sadistik, memangsa dan dimangsa, jadi elemen yang lumayan kuat dalam buku ini. Meskipun ketika membacanya, kita bakal sering tertonjok berkali-kali (atau saya saja yang baper), menyadari bahwa tokoh-tokoh dalam buku ini jauh lebih monster dari monster yang mereka buru.
Dia adalah makhluk yang diburunya.
Saya nggak mau spoiler lebih jauh, baca aja sih ya bukunya. Yang jelas, kekelaman dan kekejian serta apa yang mengintai di ruang hati dan pikiran terdalam, termasuk kesepian, ketakutan, dendam, rasa bersalah, dan mungkin rasa tidak diinginkan akan mewujud menjadi monster itu sendiri.
Kemarin (sebelum catatan ini ditulis), saya nggak direncanakan malah main ke tempat yang nggak biasa. Jalan kaki becek sesorean melihat sudut-sudut pasar yang nggak pernah saya tau. Sebut saja namanya mas Rayi, si gembul fluffy narsistik (blognya ini ya : jokeray.wordpress.com -- tuh udah saya promoin, nanti bayar pake eskrim yaaa), temen antah berantah yang nongol seenaknya ngajakin saya blusukan ke pasar raya dan berburu foto-foto sambil melihat lautan manusia.
kinda cute but sad..colourful but trapped and lost
Itu adalah foto anak ayam warna-warni yang kami temui. Lucu sih, tapi kok jahat ya. Nah inilah. Manusia memang Omniphagi teregois sealam semesta. Demi kebutuhan hidup, inilah salah satu yang kita lakukan. Mewarnai si ayam dengan paksa, memisahkan mereka dari induknya, lalu menjualnya pada anak-anak manusia lain yang tidak menyadari kekejaman dibalik ketidaktahuan akan kelucuan tampilan makhluk ini. Nanti setelah bosan, kita nggak peduli ini makhluk warna-warni bakal hidup atau tewas sekedarnya.
See, monsters are inside us....
Saya nggak usah nyebutin satu persatu jenis dan wujudnya. Di dalam diri kita masing-masing pasti ada. Dan kita secara konsisten melawannya, mengendalikannya, kadang takluk dan menyerah, kadang menang dengan gempita. Tetapi ya itu, mereka tidak pernah bisa disingkirkan, tidak akan bisa.
Jadi, agak berat ya curhatan kali ini, meskipun ada kejadian penuh tawa di hari kemarin (semacam seorang pembeli yang berhasil dengan mudah mengecoh penjual kacamata pinggir jalan dengan adu tawar-menawar yang dimenangkan dengan mudah -- ya ampun Uni, kok mudah banget sih nyerahnya), dilanjutkan keefisienan netmeeting nyaris tanpa curhat dan absurdisme yang biasa (colek geng Assassination Admin), dan saya yang baru bisa tidur setelah kelar petualangan Will Henry yang malah mengambil elemen kejutan di akhir buku (sedikit sih), yang menyebut soal Jack The Ripper - pembunuh misterius dan legendaris. Saya menunggu loh lanjutan buku ini (ada 4 total semuanya..).
At last, seperti kata Doktor Warthrop pada Will Henry : Barangkali beban yang kau tanggung ini, akan terbukti menjadi suatu anugerah.
Dan begitulah, sebuah lelucon mahadaya dalam pertarungan kehidupan kita yang tidak ada hentinya.

*melipir
*di luar hujan deras, enak buat ngemil..^^

2 comments:

  1. Ngemil apaaaaa.....?
    Jangan-jangan ngemil potongan-potongan..... paha ayam :p

    ReplyDelete