October 19, 2016

Sehangat Sayap Malaikat

Flame feather by Anonimous Artists
Have you asked yourself : Do monsters make war or Does war make monsters ?
Monster mungkin menjadi tema besar bulan Oktober ini. Entah saya sok menyamakan dengan Halloween atau apalah, but still, bacaan saya kayaknya muter-muter disana aja. Kalau mau curcol sedikit (kapan sih nggaknya), saya juga masih melawan sesuatu dalam diri yang bikin badan saya ga enak beberapa hari belakangan (do not forget, the mind, my mind also included). Maka baru beberapa jam lalu, saya akhirnya menuntaskan buku ketiga sekaligus terakhir dari seri DAUGHTER OF SMOKE AND BONES karya Laini Taylor. Semacam paranormal romance katanya, tapi sih buat saya kadar romansanya tidak bikin iyuh muntah darah, malah saya lebih berfokus pada nilai-nilai filosofis dan selipan religius yang dengan lihai dijahitkan oleh penulisnya. But please, bagi yang kebetulan baca curhatan ini, jangan berdebat panas yah, mengingat situasi negeri yang mendadak penuh dengan segala keanehan ironis.
Seperti biasa, saya membaca seri ini karena kelakuan teman-teman di grup tersebut (rombongan booklovers kelas wahid yang sukses meng-Imperius saya untuk membaca buku pertamanya di bulan Agustus lalu). DAUGHTER OF SMOKE AND BONES (DARI ASAP DAN TULANG), menceritakan yang katanya Romeo-Juliet versi Malaikat dan Iblis. Malaikat disini mengambil istilah Seraph, Seraphim, seperti yang dibayangkan kita semua, luar biasa rupawan, bersayap besar, hangat, tapi tidak membawa damai. Dan iblis, diwakili oleh rombongan Chimaera, makhluk-makhluk campuran-hewan dan manusia yang menyeramkan, terkesan haus darah, dan layak dimusnahkan. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Cakep cover terjemahannya
Karou, juliet kita, dibesarkan oleh rombongan Chimaera ini. Dikepalai oleh Brimstone, Sang Pembangkit, yang misterius tapi amat penting, kasar namun penyayang. Romeo kita, Akiva, seorang Seraph gagah perkasa yang punya gelar mumpuni sebagai Pembantai Chimaera Tersukses. Awalnya saya ragu, jangan sampai romansanya mengambil alih, honestly saya nggak suka Romeo dan Juliet. Untungnya saya nggak dikecewakan, there are bigger things more than both of them. Disamping lokasinya yang digambarkan indah sekali (Praha), permusuhan hampir seribu tahun antara Seraph-Chimaera menjadi fokus cerita ini, dan di buku pertamanya, lebih merupakan pengenalan. Pintu pertama kebenaran, serta kekecewaan mendalam. Tokoh favorit saya : Brimstone.
Lanjut ke buku kedua, DAYS OF BLOOD AND STARLIGHT (BERSIMBAH DARAH DAN CAHAYA BINTANG). Sesuai judul dan sampul merahnya, memang terlalu banyak darah disini. Saya bosan di nyaris sepertiga bagian awal. Muram, melelahkan, membuat energi terkuras. Namun semakin lama perang ini semakin sinting. Mimpi Karou dan Akiva, mimpi Brimstone, dan mungkin di dalam hati kedua pihak adalah Perdamaian. So why don't they end up this bullshit war? Sederhana saja. Malaikat tidaklah malaikat, iblis tidaklah iblis. Egoisme merongrong penguasa di kedua sisi, tidak menyisakan kewarasan. Hanya untuk mengambil alih Eretz, dunia lain itu, tempat Seraph dan Chimaera saling berebut. Dan tau-tau, kita, di Bumi, ikutan diseret.

Buku ketiga DREAMS OF GODS AND MONSTERS (MIMPI PARA DEWA DAN MONSTER), membawa saya ke level berbeda. Aspek keyakinan,agama,dan kemanusiaan disinggung disini. Vatikan, Maroko, Italia menjadi negara-negara utama yang dilibatkan. Benturan kepercayaan, kedatangan rombongan Malaikat ke Bumi, menjungkirbalikkan nyaris semua kesadaran. Sanggupkah para pemimpi ini membalikkan keadaan ? Mengembalikan semuanya sesuai mimpi dan harapan ? Ini bukan soal Akiva-Karou semata. Ini soal multidimensional. Dan inilah yang membuat saya terperangah dan menghargai seri ini jauh lebih dari sekedar romansa fantasi.
Akhirnya saya harus move on. Berpisah dengan mereka semua. Brimstone yang sangat saya hormati, Hazael - malaikat manis yang tak terganti, Zuze dan Mik - sepasang anak manusia yang terlibat dan berperan penting (relationship goal banget ini), Ziri - Chimaera favorit saya, Liraz - malaikat tangguh yang berhak untuk bahagia, dan berbagai tokoh mayor-minor lainnya, dalam peran masing-masing. Tidak ada yang sederhana dalam cinta dan perang, tetapi sejatinya mimpi, harus ada langkah berani dan sinting yang mesti diambil. Ah, another refreshment.

Love is an element, like air to breath and like earth to stand on....
(Syukurlah tidak baper berlebihan, dan senang akhirnya tuntas)

No comments:

Post a Comment