December 24, 2016

Demi Takhta Besi (Spoiler Alert !)

"..there are two sorts of people, the player..and the pieces.."
- Lord Petyr Baelish -

The Westeros' Houses
Kadang saya heran sendiri, half amazed sebenarnya. Kok bisa Opa G.R.R. Martin yang chubby dan endut itu bikin rancang bangun cerita sekompleks ini. Lihat aja ke-27 klan di atas. Sebagian besar turut andil dalam perang --yang ga terlalu penting-- untuk berebut takhta besi di King's Landing. Padahal jelas-jelas di utara sana ada bahaya non-manusia yang lebih mengancam (utara mana ? Cek aja peta Westeros ya, saya pusing, ga pandai baca peta).

Jadi akhirnya saya kelar juga baca novel terjemahan setebal 1200-an halaman lebih, berjudul Amukan Baja. Disadur dari A STORM OF SWORDS sebagai buku ketiga dari seri A SONG OF ICE AND FIRE yang sejatinya sudah booming duluan dalam serial tipi A GAME OF THRONES di HBO yang baru kelar musim keenamnya tahun ini (dan tetap bikin banyak orang bersumpahserapah, ckckck that b*tch).

Sebenarnya saya ragu mau beli dan baca si item ini (covernya item lambang klan Lannister). Soalnya, buku keduanya tahun lalu, A CLASH OF KINGS (Peperangan Raja-Raja) menuai masalah percetakan yang cukup pelik. Namun, berkat pertolongan MiLord Puji yang sudah membaca Amukan Baja dan mengecek dengan baik kalau bukunya ga ada masalah percetakan lagi, akhirnya saya merogoh kocek lumayan dalam untuk membeli si item ini (mahal bo..puja kerang ajaib).

ini versi Indonesia diterbitkan oleh Fantasious
Jadi apa yang berbeda ? Kan udah nonton serinya lengkap ya ?
Nah itulah nikmatnya membaca. Pelintiran kata-katanya memang memikat dan membuat jelas. Detail-detail yang saya ga paham atau malah saya abaikan di serinya, muncul lumayan terang benderang disini. Kita tidak bisa menampik, serinya kadang 'sulit' ditonton karena frekuensi adegan nudisitas gak penting yang bikin bosan suka wara-wiri seenaknya. Di buku bisa ditoleransi, hahahaha. Kalau kata temen saya : namanya juga jualan, Nek.
Saya jadi lebih paham peran masing-masing tokoh dalam saga epik ini. Makin menyukai beberapa karakter favorit yang untungnya sampai sekarang belum ditewaskan sama si Opa. Dan sejatinya, ajang perebutan takhta besi ini tidak akan terlaksana dengan seru kalau si Petyr Baelish alias Littlefinger ga mengawalinya dengan licin licik tak tertebak. Menjadikan pria non-kekerasan ini jadi salah satu tokoh favorit saya. Bersanding dengan Varys, si kasim, dan tentunya Tyrion Lannister yang memang otaknya dipakai.

Di buku ini kita mengetahui kebenaran-kebenaran yang tertutupi di awal seri. Siapa membunuh siapa. Siapa mengkhianati siapa. Kadang bisa jadi jawdropping juga, apalagi di bagian epilog, ketika mamahnya Bran Stark, yang udah digorok dan dikhianati di Twins oleh geng Walder Frey sekeluarga dalam episode Red Wedding, tiba-tiba muncul sehat walafiat dengan koreksi anatomi seperlunya. Ini ga ada di seri tipi, nyata bikin saya kaget.

Perkembangan karakter juga bikin gemas. Jaime Lannister dan Brienne Tarth yang sebenarnya cocok sekali, namun Jaime tetap setia sama si perempuan setan itu. Perjalanan singkat Arya Stark dan Si Anjing-Sandor Clegane yang bikin ketar-ketir. Perjalanan Bran Stark - Jojeen Reed - Meera Reed untuk menemukan si Raven Mata Tiga. Dan tentunya kemunculan rombongan zombie dan White Walker bermata biru yang bikin penasaran. Pemahaman saya langsung jelas, kalau White Walker ini sejatinya bukan sekedar mayat hidup, mereka terorganisir, rapi dan terpimpin, dan merupakan musuh sejati yang harus dihadapi umat manusia di Westeros. Selama ini terlindungi oleh Tembok yang mati-matian dijaga rombongan Night Watch, namun sebentar lagi semua akan keburu hancur dan telat gara-gara yang lain sibuk berebut takhta. Itu takhta besi memang pakai jampi-jampi. Abis-abisan bener berebut yang itu, padahal musuh sebenarnya udah mulai merongrong. WINTER IS COMING.

Karakter lain yang saya favoritkan tentunya Ser Davos Seaworth, Kesatria Bawang, satu-satunya yang bertahan logis di kubu Stannis Baratheon. Kemunculan Penyihir Merah Mellisandre tidak secabul di seri tipi, di buku lebih magis. Dan kita sudah mulai disuguhi pembicaraan tentang Ramsay Bolton, cowok psikopat favorit saya yang sudah mulai menguliti bagian-bagian kecil dari Theon Greyjoy, setelah si Theon menguasai Winterfell.

Karakter minor juga menyenangkan, sebut saja Pangeran Dorne - Oberyn Martell yang flamboyan namun sayang dibabat dengan sadis, Podrick Payne - squire nya Tyrion, yang loyal dan ternyata pintar, Maester Qyburn yang lebih cerdas dari kakek bego Pycelle, Missandei - penerjemah Daenerys, dan beberapa tokoh lain. Saya mungkin tidak mengidolakan Jon 'know nothing' Snow atau Daenerys Targaryen. Bahkan saya tidak memedulikan takhta besi itu. Lebih ke menikmati plot dan pertempuran, adu kelicikan, atau otak siapa yang lebih cerdas dalam pengambilan keputusan.

Sebelum terlalu panjang, mari kita nantikan novel selanjutnya yang entah kapan. Belum lagi buku keenam berjudul WINDS OF WINTER yang ga tau mau dikeluarin si Opa di tahun berapa, suka-suka beliau lah yaaaa.

"..we are puppets dancing on the strings for those who came before us, and one day our children will take up the strings and dance in our steads.."
- Tyrion Lannister -
Valar Morghulis

1 comment: