January 7, 2017

Abarat Abstrak : Dunia Dalam Beraneka Cipratan Warna

"..Keputusasaan bisa diterima akal, tetapi tidak satupun hal berharga dalam hidupku yang berasal dari akal...
Tidak cintaku...tidak seniku..tidak pula surgaku..
Maka aku bisa berharap..."
- Zephario Carrion -
Apa yang anda harapkan ketika memegang buku tebal penuh ilustrasi absurd di dalamnya ?
Omong kosong ? Dongeng anak-anak ? Tulisan tak jelas ?
Maka bacalah seri Abarat. Ada yang lain dalam buku ini. Dan tentunya tidak sepenuhnya dapat diterima akal.
Memasuki tahun 2017, saya mulai kembali mencicil menghabisi timbunan buku-buku. Sebenarnya, ABARAT karya CLIVE BARKER yang sudah terbit tiga buku dengan harga lumayan mahal dan pesonanya tertutupi oleh banyak hal di awal terbitnya, membuat saya baru memilikinya dengan lengkap di akhir tahun lalu. Buku pertama nemu diskonan, buku kedua menang lelang PNFI, dan buku ketiga nemu diskonan harbolnas. Syukurlah saya memiliki ketiga buku ini pada akhirnya.
Salah satu ilustrasi dalam Abarat
ABARAT adalah sebuah kepulauan di semesta alternatif yang terhubung ke dunia kita melalui semacam pintu atau apalah saya kurang paham, di Chickentown, sebuah kota dimana tokoh utamanya, gadis lima belas tahun, Candy Quackenbush tinggal. Abarat terdiri dari 25 pulau yang mengikuti 25 jam. Deskripsi lebih lanjut ada di Almanak Klepp yang ada di buku pertamanya.

Fuih, banyak banget kan ya. Saya jujur ga hapal. Cuma tau yang penting dan sering jadi setting petualangan Candy dan teman-temannya. Lantas, dari sebegitu banyaknya fakta membingungkan dan terkesan rumit mengenai buku ini, apa yang menyebabkan saya malah menyukainya ?
Abarat, buku pertama, terbitan GPU tahun 2005

Pertama, ide cerita yang terkesan biasa namun perjalanannya begitu berwarna. Banyak tokoh-tokoh muncul. Multikarakter. Dan perannya secara tak terduga berkelindan dengan takdir si tokoh utama. Bahkan tokoh yang kita kategorikan jahat sekalipun.
Kedua, ilustrasinya. Nah ini yang mesti diwanti-wanti. Ilustrasi dalam Abarat tidak menggambarkan isi cerita seperti layaknya graphic novel kebanyakan. Ilustrasi dalam Abarat adalah lukisan abstrak mengenai tokoh-tokohnya, pulau-pulau, monster, dan segala macam keabsurdan yang digambar sendiri oleh Clive Barker, penulisnya. Yang membuat heran, lukisan-lukisan cat minyak ini seram, mengganggu, tapi ada 'sesuatu' yang memberi nyawa lebih pada bukunya.
Abarat : Days of Magic - Nights of War, terbitan GPU tahun 2007

Ketiga, ini yang paling sulit dijabarkan. RASA. Yep, saya jadi ikutan sok absurd. Tapi begitulah kenyataannya. Seri ini punya 'rasa'. Sesuatu yang ga bisa kita gambarkan secara gamblang dengan kata-kata. Hanyut, seperti semilir angin di padang rumput atau seperti bau hujan. Damai namun ada yang mengintai di baliknya.
Dan terakhir, rancang semesta alternatif yang berlipat, terkesan rumit namun menetap di pikiran. Di luar akal, tetapi seolah memang ada. Dan menyeret kita sampai ke 'tepi dunia' yang kosong dan hampa seperti yang terkuak di buku ketiganya.
Abarat 3 : Absolute Midnight, terbitan GPU tahun 2015

Membaca Abarat, buku pertamanya dengan judul ABARAT, buku kedua : DAYS OF MAGIC - NIGHTS OF WAR, dan ketiga : ABSOLUTE MIDNIGHT, memberikan kesan tersendiri. Dan mungkin saya tidak terlalu jelas menggambarkannya. Akan tetapi ini adalah dongeng-fantasi epik untuk dewasa yang sangat layak baca. Kenapa dewasa ? Karena banyak elemen dalam ceritanya yang bisa bikin mimpi buruk. Bukan sesuatu yang dianjurkan untuk dibaca anak kecil. Hahahahah.
Nah kan, siapa bilang fantasi itu buat anak-anak aja ? Cekek nih (tiba-tiba pundung).
Mari kita nantikan buku lanjutannya, yang sepertinya masih dalam proses pembuatan oleh om Barker. Saya tidak yakin akan cepat selesai, mengingat begitu banyaknya (ratusan loh) lukisan yang ditampilkan dalam seri ini. Entah kapan munculnya, entah apa judul pastinya, yang jelas saya masih sabar menanti. ^^

So..i challenge you to read this entire series !!

"...aku bermimpi - mimpi yang paling indah - bahwa semua yang kuimpikan sungguh ada dan nyata, dan kita akan hidup sukacita selamanya..."- Clive Barker -






No comments:

Post a Comment