January 14, 2017

Corrupted Power : The Reckoners Trilogy

"..bahwa kami tidak seperti yang kau pikirkan...jauh di dalam hatinya, manusia bukanlah monster.."
- David Charleston -
Babilar - Babylon Restored, a future Manhattan
Dalam semangat menggebu-gebu setelah menamatkan buku terakhirnya, maka saya memutuskan untuk segera menulis curhatan ini sebelum ingatan saya yang bolong-bolong mulai merembes dan menguap ke udara kosong. Yuk kita mulai.
Berharap tulisan ini tidak menyuguhkan bocoran ceritanya, maka akan saya ungkapkan dengan seminimal mungkin (meskipun ini perasaan saya masih histerikal pengen nonjok penulisnya yang gak sopan..!)
So, ini tentang THE RECKONERS TRILOGY....
Ambil suatu waktu di masa depan, entah tahun berapa pastinya, tetapi apa yang terjadi ketika seseorang yang dianugerahi kekuatan super justru malah menindas rakyat biasa ?
Setelah terjadi semacam radiasi oleh sebentuk benda angkasa yang disebut Calamity, secara acak tak jelas, banyak orang-orang dianugerahi kemampuan super, mulai dari yang sederhana sampai yang begitu digdaya. Mereka disebut Epic. Beraneka ragam kekuatan dari mayor maupun minor yang nyata-nyatanya membuat mereka tidak manusiawi, malah menjadi monster yang merongrong manusia lain. Dan chaos pun terjadi.
STEELHEART adalah salah satu High Epic dengan kekuatan mengerikan yang mana bisa merubah semua hal menjadi baja (plus bisa terbang), sesuai dengan namanya. Steelheart menguasai suatu kota bernama Newcago (Chicago di masa lampau) dan menerapkan aturan-aturan tirannya. Secara cermat dan terorganisir, Steelheart memposisikan geng sesama Epic-nya dan rombongan manusia bangsawan lain untuk mengatur rakyat jelata. Newcago gelap gulita, tak ada yang bisa melihat indahnya matahari terbit disini. Rakyat jelata bekerja keras. Karena pilihan apa yang mereka punyai selain patuh atau mati ?

Steelheart, terjemahan oleh Nourabooks
Namun yang namanya perlawanan pastilah tetap ada. Menyebut diri mereka sebagai RECKONERS, rombongan manusia biasa namun terlatih dan memiliki alat-alat canggih di bawah asuhan Prof Jonathan Phaedrus mulai melakukan perlawanan dengan membunuhi beberapa Epic secara acak. Tokoh utama kita, David Charleston, cowok 20tahunan yang pinter namun becandaannya garing, secara mengejutkan bergabung dalam kelompok ini. David punya motif sendiri, apalagi kalau bukan balas dendam. Steelheart membunuh ayahnya sepuluh tahun lalu. Dan David meyakini, peristiwa itu membuatnya bisa mereka-reka apa kelemahan dari manusia super ini. Maka misi sinting mereka pun dimulai. Misi memusnahkan sang Tiran, Steelheart.
STEELHEART adalah buku yang epik, rancang dunianya mengejutkan. Brandon Sanderson saya akui memang penulis cerdas. Elemen fiksi ilmiah-post apocalyptic-aksi dan jangan lupakan cara penuturannya bikin gregetan. Membangun dunia masa depan seberantakan ini, tapi begitu berhasil bikin terperangah. Dan jelas, STEELHEART jadi buku yang sangat sinematografis, seolah-olah kita membayangkan semua adegan-adegan di buku dalam bentuk visual bergerak, begitu kaya dan menyenangkan.
Akhir cerita STEELHEART membawa kepada kebenaran mengenai Megan, cewek satu tim Reckoners yang ditaksir banget sama David (disinilah kebegoan khas cowoknya muncul, ahahaha). Belum lagi beberapa kebenaran yang lumayan bikin pembaca jadi setengah sebal-setengah kagum sama ceritanya.

FIREFIGHT, buku kedua dari trilogi ini menyuguhkan setting baru. Kita pindah ke Babilar a.k.a Babylon Restored (Manhattan di masa lalu). Sesuai gambar di awal tulisan ini, kota ini terendam air, dan dikuasai oleh Epic bernama Regalia. Yang jelas memiliki air sebagai kekuatannya. Tim Reckoners berniat menyelidiki rencana Regalia yang misterius, rencana yang diduga amat berbahaya.

Firefight, terjemahan oleh Nourabooks
Regalia merekrut banyak high epic. Di antaranya adalah Firefight dan Obliteration. Firefight adalah Epic Api. Kentara banget kan, api dan air. Sementara Obliteration adalah Epic menyeramkan yang mampu melenyapkan satu kota dalam semalam. Sesuai dengan namanya.
Fokus saya teralihkan di buku kedua ini dengan kehadiran sesosok Epic misterius bernama Dawnslight. Epic yang tidak terlihat, namun dipercaya dialah yang merancang Babilar menjadi kota terendam air namun penuh graviti berkilauan di malam hari. Dikelilingi pohon-pohon buah yang membantu rakyat Babilar bertahan hidup. Aneh, tidak seperti kesan Epic pada umumnya. Dan di buku ini saya mulai ketularan David, ngehapal nama-nama Epic dengan kekuatan dan kemungkinan kelemahan. Dan jelas saja, banyak Epic muncul di buku ini, bikin pusing tapi kagum.
FIREFIGHT tidak seheboh STEELHEART dalam hal aksi. Namun, plintiran plot twist dan kebenaran-kebenaran baru yang terkuak membuat saya sekali lagi pengen jitak om Sanderson. Harus gitu banget ya ? Harus gitu ? Kok jahat ?
Misi melawan Regalia ini menjadi pukulan berat bagi Tim Reckoners. Dan jelas ini menyedihkan. Tentunya saya ikutan sebal.

Namun penantian tidak berlangsung lama. CALAMITY muncul menjawab nyaris semua pertanyaan. Kali ini kita pindah lagi ke Ildithia (Atlanta di masa lalu), sebuah kota yang terbuat dari garam. Kejutannya, kota ini berpindah. TUMBUH DAN BISA PINDAH SESUKA HATI. Sinting. Epic mana lagi yang bikin begini ?

Calamity, terjemahan oleh Nourabooks
Disini, David dan tim berhadapan dengan Epic yang berbeda. Menyebut dirinya Limelight, kekuatannya mengerikan. Petarung, punya medan pelindung, dan bisa sembuh sendiri. Gilak, repot bener kan. Awalnya saya sempat ragu, bagaimana buku terakhir ini bisa menjawab jubelan pertanyaan dari buku-buku sebelumnya ? Namun dengan pasrah setelah menuntaskannya sekitar setengah jam sebelum menulis ini, saya akhirnya dibikin histeris.
Om Sanderson PARAH. PARAAAHHH.
Saya adalah penyuka cerita fiksi ilmiah (meskipun saya bukan superhero-addict). Dan menurut saya, kuatnya elemen fiksi ilmiah di buku ini membuat saya ketar-ketir. Lipatan jalan cerita yang disuguhkan om Sanderson dan ternyata selipan nilai-nilai manusiawi dan filosofis di dalam ceritanya mampu memuaskan saya. Tetap saja buku ketiga ini layak nongol dalam bentuk sajian visual di layar lebar, sama dengan kedua buku pendahulunya.
Di buku ketiga ini, kita juga akan berhadapan dengan Larcener, Epic pencuri kekuatan yang manja dan nyebelin. Namun, ahahahaha, siap-siaplah terkejut. Semua yang dilontarkan penulis di buku sebelumnya, cuilan fakta, cuilan peristiwa, semua berkelindan dan berakhir dengan asemnya di buku ketiga ini.

Tokoh favorit saya di seri ini justru bukan David. Saya mengidolakan Prof Jonathan Phaedrus, ketenangan dan kepedihan dibalik otak cerdas itu begitu mempesona. Selain itu, Abraham, seorang mantan militer yang jadi ujung tombak aksi dalam tim juga mencuri perhatian. Dan saya punya Epic favorit. Dawnslight tentunya, begitu unik dan mencerahkan di antara lautan korupsi kekuatan super yang membuat gila ini. Namun di akhir seri, saya kepincut dengan sosok Obliteration, entahlah mengapa. 
Terimakasih kepada Nourabooks yang sudah menerjemahkan seri ini dalam waktu kurang dari setahun. Steelheart muncul Juni atau Juli 2016, Firefight muncul September 2016, dan Calamity muncul Januari 2017. Saran aja, publikasinya yang gencar dong, biar seri ini laku. Karena sayang banget kalau seri sekeren ini jadi underrated.

Well, tidak heran juga kalau akan ada sesi baru yang akan muncul setelah seri ini tuntas. Sekuel baru ?
Good job Mr.Sanderson !
(dan bertambah panjanglah wishlist penulis yang buku-bukunya layak dibaca dan dikoleksi --- problem tiada akhir)
“We want what we can’t have, even when we have no right to demand it.”
- Brandon Sanderson -

2 comments:

  1. Dronie! Ulasanmu!
    Bikin! Aku!
    MAU BACAAAAAA

    tapi gak mau beli.. gimana dong?
    pinjemin geh

    ReplyDelete
  2. HAHAHAHAAA..SUKSES MISI NGERACUN...!!

    ReplyDelete