January 27, 2017

Kasih Dibalik Kengerian : Ketika Segalanya Dipertaruhkan

"...madness is always a wonderful excuse, don't you think ? for doing terrible things to other people..."
- Jennifer McMahon -
Winter People dan The Boy Who Drew Monsters oleh Qanita, Holy Mother oleh Haru
Kenapa ketiga buku ini saya jejerkan jadi satu gambar dan satu curhatan ?
Simpel sih, alasannya karena ketiga buku bergenre thriller dan horor ini (tumben bacaannya) -- ada sedikit elemen fantasi sih, memiliki poin yang sama dalam hal alasan dan pengakuan dari tokoh-tokohnya. Kenapa begini kenapa begitu. Entahlah bisa-bisanya saya, tapi demikianlah yang saya tangkap. Begitu besarnya kasih seseorang, sehingga akan melakukan apapun, APAPUN untuk orang yang dikasihinya dengan sepenuh jiwa. Meskipun tindakannya itu mengerikan dan di luar batas manusiawi, membuat bergidik ngeri, dan terperangah saking tak pahamnya kenapa bisa begini.

THE WINTER PEOPLE (KETIKA YANG MATI BANGKIT KEMBALI) oleh Jennifer McMahon menceritakan semacam keanehan di kota dingin West Hall, Vermont. Kota kecil bersalju ini penuh dengan berbagai urban legend yang dipercaya penduduknya, mengenai hilangnya orang-orang tanpa jejak dan orang mati yang bangkit kembali. Ruthie, seorang gadis belasan tahun yang tinggal di kota itu bersama ibu dan adiknya, suatu hari mengalami kejadian aneh. Ibunya tiba-tiba menghilang. Semisterius legenda yang dibicarakan penduduk sekitar. Kebetulan rumah Ruthie berlokasi dekat dengan tempat kematian Sara Harrison Shea, seorang perempuan yang ditemukan tewas mengenaskan di belakang rumahnya pada tahun 1908. Dalam kepanikan mencari petunjuk untuk menemukan ibunya (karena Ruthie merasa tidak ada orang dewasa yang bisa dipercayai), Ruthie menemukan buku harian Sara, menelusuri cerita pahit kematian Gerthie, putri kecil Sara, dan akhirnya menemukan kebenaran menyakitkan sekaligus mengerikan tentang apa yang Sara lakukan untuk memanggil putrinya kembali dari kematian.
Diceritakan dengan alur maju mundur dari sudut pandang Ruthie maupun Sara, secara perlahan kita dibawa dalam kepedihan dan kuatnya kasih seorang ibu pada anaknya. Novel hadiah dari Mommy Selvi yang saya baca Desember 2016 lalu ini membuat saya agak terenyuh. Sebegitu kuatnya, sebegitu inginnya Sara akan kehadiran anaknya kembali sampai memilih suatu jalan kelam tak berujung yang menyebabkan dirinya sendiri terpuruk dalam kegelapan. Sungguh ini sedih.

THE BOY WHO DREW MONSTERS oleh Keith Donohue, adalah sebuah cerita aneh tentang seorang anak bernama Jack Peter alias Jip yang berumur 10 tahun. Jip menderita Asperger Syndrome, suatu kelainan fungsi biopsikososial langka yang menyebabkan Jip tidak mau bersosialisasi, hidup dalam dunianya sendiri, dan cenderung mengamuk tanpa alasan jelas. Jip juga menderita agoraphobia berat, yakni takut keramaian, hingga memutuskan untuk tidak mau keluar rumah. Kondisi ini diperburuk dengan trauma masa kecil Jip yang nyaris tenggelam di laut bersama sahabatnya, Nick sekitar tiga tahun sebelumnya. Jip mulai rajin menggambar beraneka coretan aneh, berbentuk monster-monster yang dia percayai jadi nyata. Dan apakah memang benar-benar nyata ?
Holly, ibu Jip, sudah begitu putus asa dan nyaris menyerah, hingga akhirnya Holly mencari alternatif lain untuk mengobati anaknya, mencari peluang kesembuhan, sekecil apapun itu. Buku ini membingungkan, membuat rancu mana yang nyata mana yang bukan. Segala rahasia masa lalu, apa yang ada di benak Jip, hubungannya dengan Nick, dan bagaimana susah payahnya Holly berusaha, didukung suaminya, Tim, yang juga punya rahasia sendiri. Sementara itu kehadiran monster-monster mulai begitu jelas dan mengganggu. Apakah yang sebenarnya terjadi ?

HOLY MOTHER oleh Akiyoshi Rikako, adalah novel terjemahan penulis Jepang yang baru pertama kali ini saya baca karyanya. Berkat racun dari mas Reymi, saya tergoda mencomot buku ini yang kebetulan ready stock di toko buku langganan. Buku yang tebalnya tidak sampai tiga ratusan halaman ini hadir dengan pelintiran plot twist mencengangkan bikin bergidik. Namun entah mengapa, saya bisa merasakan alasan pelaku. Kenapa dia memilih jalan sesadis itu.
Mengisahkan kehidupan Honami, seorang ibu yang was was berat setelah adanya kejadian pembunuhan sadis terhadap anak kecil di lingkungan tempat tinggalnya. Honami yang hanya memiliki anak perempuan satu-satunya, didapat dengan amat sulit karena masalah organ reproduksinya (saya cukup appreciate terhadap elemen medis di buku ini yang tidak asal-asalan), akhirnya menempuh caranya sendiri untuk memberikan proteksi maksimal pada anaknya. Honami beranggapan para polisi dan detektif tidak bisa diandalkan. Honami memulai sendiri penyelidikannya. Dan voila ! Kita, para pembaca akan kaget dengan kebenaran yang disodorkan pada kita. Pelakunya dan alasan dibalik kengerian itu.

Menutup curhatan panjang dari ketiga buku ini, saya memang agak terganggu sekaligus terpikir dalam, apa yang akan saya lakukan bila jadi seorang Ibu nantinya ? Sungguh pedih dan sedih menyaksikan nasib para wanita ini, pilihan yang mereka ambil dan apa yang mereka pertaruhkan demi anak-anaknya. Apapun yang mereka punya, termasuk norma, kewarasan, dan kemanusiaan.


"..love makes us do wicked things.."
- Keith Donohue -


No comments:

Post a Comment