January 8, 2017

Mungkin Yang Biasa Bisa Jauh Lebih Bermakna (Semoga Tidak Spoiler)

"...we're just ordinary people, we don't know which way to go..'cause we're ordinary people, maybe we should take it slow..."
- John Legend -
Yang Biasa-Biasa Saja
Hai...
Sejujurnya ada keinginan untuk membuat curhatan buku yang lebih rapi dan sistematis. Tapi masalahnya, sebagai makhluk fana yang memiliki kendali emosi hanya seluas sendok teh, saya sangat fluktuatif dalam membuat curhatan perbukuan ini. Kalau ada sesuatu di bukunya yang menohok dan bikin terngiang-ngiang, ya bakal ditulis, kalau tidak, ya akan diendapkan sampai lumutan.
Lalu ada apa dengan THE REST OF US JUST LIVE HERE alias YANG BIASA-BIASA SAJA dari om Patrick Ness ini ?
Sebagai manusia baperan dengan emosi yang gampang tersulut, buku dengan sampul unyu ini berhasil mengusik saya. Ini bukan bacaan fantasi/fiksi ilmiah/distopia saya yang biasa. Ada unsur fantasinya, tetap, tapi bukan di sana fokusnya. Dan inilah yang menjadikan buku ini menjerat saya dengan cara yang tidak biasa. Tebalnya nggak sampai 300 halaman, dan sesuai judul tulisan ini, semoga saja penjabaran saya tidak mengandung spoiler yang bikin pembaca tulisan ini meng-Cruciatus saya dari kejauhan.
Buku ini bercerita tentang Michael alias Mikey, cowok delapan belas tahun, bentar lagi mau lulus High School, naksir sahabat ceweknya, Henna, dan problema remaja 'biasa'. Yang jadi berbeda, Mikey dan teman-teman se-gengnya tinggal di daerah aneh penuh pergulatan fantasi, hantu pemangsa nyawa, vampir, zombie, dewa-dewi. Namun, mereka bukan tokoh utama, bukan pahlawan dalam kehebohan supranatural ini. Mereka hanya manusia biasa yang kebetulan tinggal di daerah dimana para remaja supernya sibuk mempertahankan diri melawan apapun itu yang mengincar nyawa mereka setiap harinya. Mikey dan geng cuma pengen lulus, kuliah, punya kekasih, bahagia sederhana, begitu saja. Dan mereka cuma semacam penonton, tidak berperan dalam proses penyelamatan alam semesta.

Lantas apa yang membuatnya begitu menyentuh hati saya hingga sempat berkaca-kaca ketika membacanya ?
Mikey kena obsessive compulsive disorders, kakaknya, Melinda punya riwayat anorexia nervosa yang nyaris membunuhnya. Ayah Mikey alkoholik parah, ibunya sibuk jadi politikus, sementara hanya Mikey dan Melinda lah yang begitu paham dan menjaga Meredith, adik mereka sepenuh hati. Sahabat Mikey, Jared, adalah remaja gay yang juga punya problema sendiri. Sedangkan Henna, dia juga punya urusan soal kegalauan hatinya. Boleh dibilang masalah mereka tidak seheboh menyelamatkan dunia dan melawan zombie, menghancurkan kaum abadi, namun problema mereka adalah yang 'biasa' dan manusiawi.
Maka disinilah buku ini menjerat saya. Penyampaiannya yang ringan, namun konflik dan isu yang dikemukakan om Patrick begitu menggugah. Mungkin ada di antara kita yang mengalami ini. Begitu membenci diri sendiri karena merasa jadi ganjalan dalam hidup orang lain dan merasa tidak diinginkan. Sure this is sad.
Cerita beberapa minggu menjelang kelulusan Mikey dan teman-temannya inilah yang menjadi hal biasa dalam konflik menyelamatkan dunia yang berlangsung di kota tempat Mikey bermukim. And it turns out not that simply ordinary
Maka dari itulah saya menyukai buku ini dengan cara berbeda. Dan mungkin tidak semua orang akan berselera sama. Namun saya punya saran khusus untuk penerbit. Sebaiknya taruh buku tipis kecil ini di kategori dewasa, karena saya tidak yakin ini pas untuk pembaca remaja di negara kita, bahkan untuk pembaca dewasa pun, bakal ada isu yang bikin pro dan kontra. Akan tetapi sudahlah, tak bisakah kita membaca dengan damai dan tidak memulai perdebatan tentang banyak hal ?

Jika anda tertarik, YANG BIASA-BIASA SAJA bisa jadi pilihan bacaan menyegarkan untuk membuat kita melihat dari sisi 'biasa' yang tidak sebiasa kelihatannya. Mungkin bakal suka, mungkin malah bingung. Yang pasti, jangan berharap adegan fantasi epik penuh adrenalin di buku ini. Ini hanya biasa, amat biasa saja. ^^

"..not everyone has to be the Chosen One..not everyone has to be the guy who saves the world..
haven't we got enough live to be living ?"

No comments:

Post a Comment