February 7, 2017

Mengkucinghitamkan Si Kucing

"..siapa yang tahu misteri kehendak dengan kekuatannya..?"
- Joseph Glanvill -
Miaww !!
Edgar Allan Poe adalah sastrawan - cerpenis misterius yang hidup tahun 1800an dan memang sudah terkenal secara mendunia. Saya sudah sering dengar nama beliau disebut-sebut, terutama oleh mas Jun, personel geng admin pecinta buku klasik dan mas Rayi endut yang suka dengan cerpen-cerpennya si Poe ini. Kelegendarisan Poe diakui telah menginspirasi munculnya tokoh-tokoh rekaan fenomenal bikinan Doyle yakni Sherlock Holmes dan bikinan Christie, yakni Hercule Poirot.


Mendapatkan buku ini secara gratis di Festival Pembaca Indonesia 2016 lalu, hibah dari aki Raafi, akhirnya saya memutuskan untuk membacanya di Februari yang katanya bulan kasih sayang ini (bulan pink malah baca horor, yasudah, bodo amat). Jujur saja, saya terkendala menyelesaikannya, tidak sesuai kebiasaan saya. Namun setelah menuntaskan buku ini barusan, saya bisa mengerti kenapa Poe mendapatkan reputasi berbahaya itu.

The Black Cat and Other Stories edisi terjemahan terbitan Nourabooks
Buku ini berisi 10 cerpen horor : Ligeia, Keruntuhan Keluarga Usher, William Wilson, Topeng Maut Merah, Potret Oval, Kucing Hitam, Lubang dan Pendulum, Jantung Yang Mengaduh, Penguburan Hidup-Hidup, dan Tong Amontillado. Buku ini juga berisi 3 kisah detektif : Peristiwa Pembunuhan di Rue Morgue, Misteri Dibalik Pembunuhan Marie Roget, dan Surat Yang Dicuri. Semua cerita ditulis mulai tahun 1839 - 1846.

Pada kisah horornya, Poe memang mengirimkan sensasi bergidik dan keseraman gothic yang tidak bikin kita jerit-jerit. Cuma jelas ceritanya disturbing. Gimana ya menjelaskannya, latarnya yang berupa rumah-rumah kuno jaman 1800an, belum lagi kegilaan orang-orang di dalamnya membuat kita bingung. Apakah memang aspek supranatural yang bekerja disini ataukah ketidakwarasan dari manusia itu sendiri ?

Untuk horornya, favorit saya adalah William Wilson. Ketragisan ceritanya ini membuat saya agak tersentak. Sungguh saya dibuat heran dengan si Poe ini. Cerpen Kucing Hitam juga mengganggu, membuat saya berpikir bahwa tokoh utamalah yang jadi sinting karena dihantui rasa bersalah, si kucing hanya semacam pemantik tak berdosa yang dijadikan semacam excuse untuk tindakan amoralnya. Secara keseluruhan, sepuluh novel horor milik Poe ini membuat saya merinding dengan cara yang aneh, apa yang sebenarnya dihadapi ? Setan macam apa ? Kengerian seperti apa ?

Sementara itu Peristiwa Pembunuhan di Rue Morgue yang mengambil latar di kota Paris tahun 1800-an jelas membuat suatu titik awal dari munculnya genre detektif dalam kesusastraan di kala itu. Pembunuhan di Rue Morgue adalah kisah pembunuhan di ruang tertutup yang diyakini sebagai suatu penuturan model kisah pertama. Tak disangka, seorang pria bernama Auguste Dupin berhasil memecahkan kasus ini dengan tersangka yang tidak terpikir sama sekali. Pembunuhan di Rue Morgue begitu sadis, diisukan sebagai perbuatan monster, namun akhirnya deduksi atas fakta yang terlupa membawa pemecahan kasus yang tak disangka. Narasi cerita oleh sahabat Auguste Dupin merunut kemungkinan pemecahan kasus, termasuk di kedua cerita lainnya. Meskipun kita terkendala pemahaman istilah dan aspek sosial yang populer di masa itu.

Saya memberikan 3 dari 5 bintang di akun goodreads untuk buku ini. Sengaja saya kurangi, karena saya merasa terganggu dengan keterbatasan pemahaman saya. Belum lagi ada beberapa cerita yang pantas dijadikan suatu kisah lebih panjang, membuat saya bertanya-tanya, adakah novel yang berhasil ditelurkan oleh Mr.Poe ?

Dan sepertinya saya akan tertarik membaca klasik yang lain, jelas ini merupakan suatu bentuk refreshment dalam cara tidak biasa.

"...Apa yang dikatakannya ? Apa yang dikatakan nurani yang suram, yang menghantui jalan pikiranku..?"
- Chamberlayne -

2 comments: