June 1, 2017

Through The Mirror

"...we're wearing the past on our skins but the future is too loud to be ignored...what has been and what will be...what is being lost and what is being gained..."
- Jacob Reckless -
Beberapa tahun lalu, sekitar tahun 2012, saya membeli dan membaca sebuah buku dengan sampul tidak menarik berjudul RECKLESS. Mengapa saya membeli buku tersebut ? Satu hal saja, penulisnya adalah Cornelia Funke, sang penulis wanita asal Jerman yang telah memikat saya dengan karya-karyanya yang lain. Inkheart - Inkspell - Inkdeath, Pangeran Pencuri, dan Sang Penunggang Naga. Saya sudah suka sekali dengan tulisannya Funke. Fantasi yang indah dan punya gaya khas sendiri. Her books swallowed me up. Dan RECKLESS tak disangka juga demikian.

Dengan membawa tokoh utama seorang pria bernama Jacob Reckless yang memiliki reputasi terkenal sebagai treasure hunter di dunia di balik cermin. Yep, Jacob yang hanya tinggal bersama adiknya, Will Reckless di apartemen tua bersama ibu mereka yang sakit-sakitan, akhirnya menemukan sebuah cermin aneh di kamar kerja antik milik sang ayah yang telah menghilang bertahun-tahun. Jacob kecil berhasil menemukan jalan masuk ke dunia di balik cermin, terus merahasiakan kepergiannya hingga suatu hari di usia dewasanya, Will ikut masuk ke dalam cermin. Dan Jacob harus membayar mahal atas kejadian ini. Dalam RECKLESS, semua kembali setidaknya normal, namun Magic always comes with a price.

Edisi Bahasa Inggris
Begitu saya tahu bahwa petualangan Jacob Reckless tidak hanya satu buku saja, saya sangat berharap buku lanjutannya akan segera diterbitkan. Namun apa daya, setelah bertahun-tahun menanti, harapan saya tidak terwujud. Untunglah pada acara Big Bad Wolf 2017 lalu, Ade, teman geng admin saya berhasil menemukan buku dalam bahasa Inggrisnya (karena jelas saja ga paham bahasa Jermannya).

Setelah membaca buku-buku lainnya, saya melipir ke FEARLESS. Dalam kisah epik setebal 400 halaman lebih ini, Jacob dibantu oleh Fox - si gadis rubah, harus berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan nyawanya sendiri. Jacob harus mematahkan kutukan The Red Fairy, sebuah kutukan dalam bentuk kupu-kupu cantik yang menggerogoti jantung Jacob sebelum akhirnya lepas bebas. Pembayaran menyakitkan, pelan dan menyiksa terhadap harga nyawa Will yang diselamatkan Jacob dalam RECKLESS.

Sungguh epiknya kisah ini membuat saya tenggelam dalam penuturannya. Di dunia dibalik cermin, semua dongeng fairytales muncul. Jin dalam botol, apel beracun Snow White, para kurcaci, sepatu kaca Cinderella, pedang Raja Arthur, dan segala macam benda-benda magis legendaris dalam dongeng pengantar tidur yang sudah lama kita kenal.

Namun kisah Jacob bukanlah retelling. Terinspirasi dari petualangan Jacob dan Will Grimm - dikenal sebagai The Grimm Brothers - Funke membawa kita ke dalam kepekatan kelam dari sisi dark fairytale yang bikin nagih. FEARLESS menghanyutkan kita dalam ketidakpastian nasib Jacob, belitan takdir, dan banyaknya misteri yang belum terungkap. Di akhir cerita pun, saya punya kesimpulan sendiri bahwa ada harga yang harus  Jacob bayar untuk semua bantuan yang diperolehnya. Dan kemungkinan, kisah sang pemintal benang emas akan muncul di buku berikutnya, dalam judul meyakinkan, THE GOLDEN YARN. Sementara itu, pertanyaan lain muncul dalam kisah ini : Apakah Jacob akan menemukan John Reckless, sang ayah yang menghilang dalam dunia dibalik cermin ?

Elemen romansa yang ada dalam kisah ini amat seadanya, tapi sanggup melukai orang-orang yang punya kisah sama. Kengerian dan kegelapan ceritanya membuat bergidik namun menghanyutkan. Tipikal dongeng dewasa penuh petualangan berbahaya yang memikat di setiap babnya. Sungguh menyenangkan bisa membaca seri ini. Dan sepertinya saya harus mencari diskonan untuk buku ketiganya nanti. Buku keempat, berjudul THE ISLAND OF THE FOX, rencananya akan muncul tahun 2017 ini. Buku kelima (mungkin terakhir), entahlah.

Lantas, apakah Jacob berhasil ? Seberapa besar harga yang harus ditebus ?
Well, magic always comes with a price.

“When the heart craved something so forcefully, then reason became nothing but helpless observer.”
- Cornelia Funke -

No comments:

Post a Comment