July 6, 2017

Looking Trough The Eye

“It does not do to leave a live dragon out of your calculations, if you live near him.”
- JRR Tolkien -


Naga memang salah satu makhluk fantastis yang muncul di berbagai cerita, baik itu fantasi maupun mitos sejak dahulu kala. Newton Artemis Fido Scamander -- yang lebih kita kenal sebagai Newt Scamander, seorang Magizoologist, mengkategorikan naga dalam klasifikasi XXXXX, yakni level makhluk yang mustahil dijinakkan, meskipun sepertinya kita bisa bertanya lebih lanjut kepada Charlie Weasley mengenai hal ini (bisa jadi edisi Hewan-Hewan Fantastis dan Dimana Mereka Bisa Ditemukan yang saya miliki sudah ketinggalan zaman). Lantas, ada masalah apa dengan naga ?

Naga sejatinya mampu melihat kebenaran, meskipun kadang juga bisa diakal-akalin oleh makhluk lain (teringat Smaug yang ngamuk karna kelakuan Bilbo Baggins). Pandangan mata naga diyakini bisa menggetarkan hati yang menatapnya langsung, kebuasan dan kebijakan kuno dibaliknya, tentu mampu menyajikan kisah tersendiri. Sayangnya, Niner, sang Naga dalam THE EYES OF THE DRAGON (MATA NAGA), buku bikinan om Stephen King, dipenggal oleh Raja Roland dari kerajaan Delain, dan kepalanya dipajang sebagai hiasan di kamar pribadi sang Raja. Akan tetapi, mata Niner inilah yang memiliki peran berharga dalam kisah ini.

Memiliki ketertarikan terhadap buku-buku bikinan om King adalah suatu masalah pelik. Kita sama-sama tahu, bahwa oom ini bikin buku kayak ayam petelur, banyak dan sesukanya. Saya yang masih picik dalam semesta King, terpaksa harus mencari buku-buku lamanya yang sudah tidak beredar lagi di pasaran, salah satunya MATA NAGA ini. Teman-teman di geng admin sudah lama merekomendasikannya, dan saya agak susah mencarinya. Beruntung, mbak Keti, salah satu anggota PNFI (grup racun bahagia sentosa), melepas buku ini yang masih segel. Maka saya berhasil memperoleh sang buku dan menikmati ceritanya.

Reputasi om King tidak usah diragukan lagi dalam hal merusak perasaan pembaca dalam segala novel-novel thriller, horror, supranatural, dan kriminalnya. Memang si oom ini Wicked Mastermind, yang biasanya sukses bikin tersiksa. Yang saya tidak menyangka, si om piawai juga mendongeng. Yap, Mata Naga adalah dongeng, tapi tetap dark, namun penuturannya sangat mengasyikkan. Kesederhanaan namun kekukuhan detailnya membawa kesan super pada kisah perebutan kekuasan dan hubungan ayah-anak ini.

Edisi terjemahan oleh GPU tahun 2012

Terbit aslinya tahun 1987, MATA NAGA mengisahkan ketidakadilan yang menimpa Peter, putra pertama dari Raja Roland, yang seharusnya menjadi raja menggantikan sang ayah, namun dituduh membunuh sang Raja dengan racun. Peter terpaksa menjalani hukuman seumur hidup, terkurung di puncak Menara Jarum, dan menyerahkan tahtanya pada Thomas, adiknya yang tidak punya kepercayaan diri. Thomas dikendalikan oleh penyihir jahat, Flagg, yang merangkap sebagai penasihat Raja Roland sebelumnya. Flagg menjadi semacam jelmaan iblis yang memiliki niat memporak-porandakan Kerajaan Delain.

Flagg pulalah yang menjebak Peter secara licik. Namun tahun demi tahun berlalu. Peter yang memang memiliki kualitas raja sejati, mengusahakan nasib dirinya sendiri, bersama bantuan sahabat-sahabatnya. Sementara itu, Thomas dihantui rasa bersalah yang mengerikan. Karena melalu Mata Niner, Thomas mengetahui dengan pasti tentang peristiwa kematian sang ayah, mendiang Raja Roland. Usaha keras dan harapan menyertai kita dalam kegregetan membaca kisah ini. Detail yang kita anggap tidak penting, tahu-tahu malah berperan krusial dalam kisah keren ini. Highly recommended !

Sampai disini, kalau yang ga doyan spoiler, boleh berhenti membaca tulisan nyinyir ini...........

Saat membaca buku ini, saya merasakan ada sesuatu yang familiar, namun tak tahu apa. Apalagi ketika sampai di akhir cerita, saya semakin penasaran. Ada yang samar-samar teringat. Dan akhirnya saya gugling, dan VOILA ! 

Om King memang menyebalkan. Bagi anda yang sudah membaca buku pertama dari seri DARK TOWER, yang berjudul THE GUNSLINGER (kebetulan saya sudah, awal Januari kemarin), pasti akan ngeh dengan rasa familiar yang saya maksud. Roland, tokoh utama dalam kisah DARK TOWER, memiliki nama sama dengan mendiang Raja Roland dalam kisah MATA NAGA. Kebetulan ? I don't think so. Penulis model om King pasti punya stok ribuan nama lain, kenapa mesti Roland juga gitu. Kedua, latar kejadian di MATA NAGA adalah Kerajaan Delain, sedangkan di DARK TOWER adalah suatu kota (?) atau tempat terbengkalai bernama Deschain. Ketiga, DARK TOWER digambarkan sebagai menara runcing gelap horor berujung tajam, sedangkan Menara Jarum tempat Peter dikurung, kurang lebih memiliki deskripsi serupa.

Jadi kalau dipikir-pikir, latarnya DARK TOWER kayak versi upside-down-nya (nonton STRANGER THINGS biar paham, sisen kedua bentar lagi nongol di Netflix) latar MATA NAGA ? Atau versi paralelnya ?

Dan, Thomas beserta pelayannya Dennis ternyata akan bertemu Roland, sang Gunslinger, di buku keempat (atau keberapa ya, lupa) dalam semesta DARK TOWER. Pasca kisah di MATA NAGA, Thomas berkelana, menebus dosa dan rasa bersalahnya, memburu Flagg ke penjuru dunia manapun. Om King menegaskan ini di akhir kisah MATA NAGA, dengan semacam hint, kalau kisah Thomas adalah kisah lain lagi. Roland, sang Gunslinger juga memburu pria misterius yang membawa kehancuran. Naaaahh, ngek bener si om kaaann.

Maka bila demikian adanya, saya berharap, tujuh buku seri DARK TOWER segera diterjemahkan. Supaya rasa penasaran ini terjawab.
Bagi yang belum baca MATA NAGA, baca yaaa.. Keren pisan ini euy..
Sekian..

PS : Masih agak gak ikhlas karna Niner dipenggal trus dijadikan pajangan. Jasamu tiada tara oh wahai Niner.

“Remember, Hope is a good thing, maybe the best of things, and no good thing ever dies.”
- Stephen King -

No comments:

Post a Comment