July 25, 2017

Yang Gelap dan Mencekam

“...There are bad dreams for those who sleep unwisely...”



Kita tentu tau, kisah soal manusia abadi yang bertahan hidup dengan menghisap darah manusia, yang dikenal sebagai vampir. Berbagai kisah, anime, manga, pilem, serial tipi, dengan segala romansa (yang terkadang iyuh) muncul dengan ramainya. Topik vampir ini menjadi begitu tren hingga saat ini. Semacam tak lekang oleh waktu (Cedric Diggory aja pasca di Avada Kedavra, langsung jadi vampir berkilau ---ditabok potterheads).

Nah, kisah klasik tentang vampir sebenarnya muncul lebih dari seabad yang lalu. Menurut mommy Selvi (sumber rujukan saya), ada banyak kisah mengenai makhluk semacam lintah ini. Yang terkenal dan berpengaruh untuk berbagai kisah lainnya, tentu DRACULA oleh Bram Stoker.

Saya sungguh terlambat karena baru kelar bacanya beberapa hari yang lalu. Memenuhi keinginan mengenyahkan reading slump, saya melihat edisi terjemahan DRACULA yang ada di rak kedai buku langganan saya. Lantas setelah saya miliki, saya mulai membacanya dengan ekspektasi cukup tinggi. Mengingat ini klasik (kata MasJun : klasik selalu bagus), saya pikir pasti akan ada sesuatu yang menggugah dalam kisahnya. Dan saya tidak dikecewakan.

Sebelum ke DRACULA, saya sebenarnya sudah membaca kisah mengenai Vlad Dracula, tokoh sejarah yang mengilhami hadirnya tokoh Dracula ini. Kisah yang saya baca adalah versi tahun 2005, semacam kisah horor juga, berjudul THE HISTORIAN karya Elizabeth Kostova. Buku berbahasa Inggris setebal kurang lebih 800an halaman yang dipinjamkan oleh Rezia, sahabat saya, berhasil menghadirkan sensasi bergidik saat membacanya. Dengan alur lambat tidak berdarah-darah, THE HISTORIAN memunculkan bentuk ketakutan yang meresap dalam pikiran. Seperti diawasi saat membaca, hingga ke alam mimpi.

Ini cover bukunya
DRACULA versi Bram Stoker lebih menyuguhkan adegan yang cukup berdarah dan membuat ngeri. Diceritakan dalam bentuk dokumen-dokumen, catatan harian, telegram dari tokoh manusia biasa yang terlibat, kisah Count Dracula dalam mencari mangsa diceritakan dengan bahasa yang detail dan sound so rosy (berbunga-bunga gitu).

Diterbitkan pada tahun 1897, dalam DRACULA, kita tidak akan menemukan dualisme dalam tokoh Count Dracula nya. Pure evil istilah saya. Memang niatnya cuma memangsa. Tidak ada cinta, tidak ada keabu-abuan yang terlihat dalam kisah romantisasi pervampiran masa kini. Tokoh-tokoh protagonis yang terdiri dari sang pengacara muda dan istrinya, Jonathan dan Wilhelmina Harker, jutawan asal Amerika, Quincey Morris, psikiater, dr. John Seward, bangsawan Lord Arthur Godalming, dan dokter-ilmuan-ahli metafisika legendaris, dr. Abraham Van Helsing, kesemuanya adalah manusia biasa. Tidak ada kemampuan superpower sama sekali. Mereka melawan Count Dracula dengan bekal ilmu pengetahuan, kecerdikan, sejumput keberpihakan takdir, dan riset mendalam. Tidak instan.

Dalam novel inilah saya akhirnya mengerti asal dari kisah vampir yang umum di masa sekarang. Takut pada sinar matahari, bawang putih, salib, air suci, bisa dimusnahkan dengan menusuk jantungnya dengan kayu tajam, dan beberapa detail terkenal lainnya. Bram Stoker cukup lihai menyampaikan kisah mencekam ini. Ketiadaan dualisme dari tokoh antagonisnya ini adalah suatu penyegaran tersendiri dari banyak kisah dengan tokoh antagonis abu-abu yang beredar kini. Count Dracula punya tujuan jelas, mencari mangsa dan memperlama masa kehidupan dengan sumber mangsa yang diharapkan terjamin seabadi kehidupan kering penuh darah yang ia jalani.

Edisi terjemahan oleh Gramedia Pustaka Utama

Bram Stoker bisa dianggap amat berhasil dengan kisah vampir ini. Beliau meletakkan dasar yang kuat dan tidak bisa terbantahkan tentang makhluk penghisap darah legendaris. Apapun dan siapapun yang menulis kisah tentang makhluk ini, mau tak mau rujukan kepada buku bikinan Bram Stoker akan selalu jadi pembanding. Dan sungguh saya terlambat. But late it's better than never, right ?

No comments:

Post a Comment