August 31, 2017

Harga Sepotong Daging

"...Menulislah, agar hidupmu tak seperti hewan ternak, sekadar makan dan minum sebelum disembelih..."




Jadi sejak akhir tahun 2016 lalu, jagat dunia fiksi fantasi dihebohkan dengan kehadiran sebuah novel lokal berjudul RADEN MANDASIA SI PENCURI DAGING SAPI. Novel dengan judul yang tidak biasa ini ditulis oleh Yusi Avianto Pareanom, penulis lokal yang cukup produktif. Kisah Raden Mandasia ini telah menyabet penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa for Prosa (2016), Anugerah Pembaca Indonesia Nominee for Buku dan Penulis Fiksi Terfavorit - Shortlist (2016). Namun, saya yang biasanya abai dan tidak terlalu mementingkan masalah penghargaan, merasa lebih baik bertanya pada rombongan orang dalam grup saya, Penggemar Novel Fantasi Indonesia.

Dari kesan-kesan mereka, Raden Mandasia mendapat tanggapan yang oke, outstanding malah. Nah, saya yang jarang baca nofan lokal karena memang skeptis dan suuzon, akhirnya mulai mencari dimana bisa memperoleh kisah ini. Karena kesuksesannya, novel ini laris manis, dan edisi cetak ulangnyalah yang berhasil saya peroleh, diterbitkan oleh Penerbit Banana.

Lantas bagaimanakah kisah Raden Mandasia ini menurut saya ?
Bab-bab awalnya kurang ajar, membuat lapar. Deskripsi si penulis tentang peta daging sapi dan makanan yang bisa dibuat berdasarkan bagian anatomi sang sapi itu sangat menggiurkan. Padahal saya bukan meat addict, tapi ya begitulah, saya yang hobi makan sangat tersiksa dengan deskripsi masakan dalam satu paragraf panjang.

Untuk tema, ini menarik. Kisah si Raden dan Sungu Lembu, yang mengambil posisi 'aku' dalam novel setebal 400 sekian halaman ini, berlatar belakang Jawa kuno. Memang tidak dijelaskan secara gamblang, tetapi deskripsi latarnya mengarah demikian. Ini menyegarkan karena terkesan 'orisinil', begitu menjunjung kearifan lokal, tidak seperti karya lokal kebanyakan di jaman kini yang membuat lelah karena cenderung 'memaksakan' untuk terlihat internasional, baik pemilihan nama, konflik, dan latar kisah.

Cover baru oleh Penerbit Banana

Selanjutnya pemilihan diksinya membuat saya tertawa sebal. Yusi Avianto Pareanom terlihat keren sekali dengan diksi khas Indonesia yang jumawa, tapi sekaligus menyebalkan dengan umpatan-umpatan kebun binatang yang muncul berloncatan begitu saja. Saya sejatinya tidak menggemari cerita-cerita kerajaan kuno Jawa dan sejarah Indonesia masa lalu, tapi Pak Pareanom ini berhasil memikat saya untuk menerka-nerka, kisah apa yang disulap dan dicomot beliau untuk dimasukkan ke dalam kisah Raden Mandasia ini, sesuai kehendak beliau saja begitu ya. Yang jelas ada momen ketika saya mendapat 'pencerahan' tentang dongeng terkenal mana saja yang dimasukkan beliau.

Elemen seksualitas dan keberagaman yang dianggap tabu, muncul begitu gamblang dalam kisah ini. Adegan ranjang, insting hewani, keinginan hubungan intim yang tak biasa, bahkan muncul dalam major plot twist di akhir cerita, cukup membuat jengah. Pak Pareanom ini tidak main-main. Gamblang, lepas, bebas. Makanya novel ini sebaiknya dibaca oleh pembaca dewasa, yang setidaknya sudah cukup bisa berpikir untuk tidak ribut akan konten esek-eseknya.

Mengisahkan tentang ketidakfaedahan perang yang dicanangkan Prabu Watugunung, Raja Gilingwesi yang superkesatria. Perang yang dibawa sang Prabu melawan Kerajaan Gerbang Agung, melibatkan puluhan ribu tentara dan belasan putera kandungnya, tak terkecuali Raden Mandasia, yang sejatinya mencari cara untuk membatalkan perang. Kebrutalan dalam kalimat-kalimatnya, hujan mayat, sabetan senjata, kematian yang sia-sia, membuat kisah ini berakhir miris. 

Perjalanan Sungu Lembu dan Raden Mandasia dalam ekspedisi tak jelas mereka, membuat suratan takdir berkata lain pada Sungu Lembu. Niat balas dendam terhadap Prabu Watugunung, entah mengapa menjadi jalan untuk menemukan apa yang sebenarnya dicari dalam kehidupan fananya. Sungu tergolong beruntung. Meskipun kelakuannya cukup menyebalkan. Untungnya, pemaparan hikmah yang dinarasikan dalam kisah ini tidak klise dan segamblang sumpah serapahnya, tipis tapi ngena.

Hubungannya dengan daging sapi ?
Raden Mandasia punya kebiasaan aneh. Mencuri daging sapi. Kenapa demikian ? Padahal sebagai putera raja, jelas jelas sang Raden bisa mendapatkan daging sapi kapan saja dia mau. Nah, penjelasan dibaliknya, ada baiknya dibaca sendiri dalam buku ini. Agak susah mengungkapkannya tanpa mengundang spoiler.

Saya mengerti kenapa kisah ini memenangkan banyak pembaca. Kisah Raden Mandasia ini menjadi semacam refreshment di antara timbunan saya. Menyegarkan dan memberikan wawasan, membuat penasaran tentang bagaimana sebenarnya kisah-kisah Jawa Kuno terkenal itu. Legenda dan mitosnya, apakah seperti yang saya ketahui secara samar-samar ? Kekurangannya mungkin karena saya agak lambat menikmati model perjalanan panjang di lautan, yang dialami Sungu dan Mandasia. Sehingga saya sepertinya cukup lama menuntaskan novel ini, selain karena kesibukan duniawi lainnya.

So, recommended ? Yes, indeed ! 

"...Ia kadang tak perlu senjata dalam pengertian sesungguhnya. Musuhnya sangat dekat, ada dalam dirinya, hawa nafsunya sendiri..."
- Banyak Wetan - 

No comments:

Post a Comment