August 23, 2017

Menara Gelap : Sebuah Curhatan Mendadak

“...Control the things you can control... Let everything else take a flying fuck at you and if you must go down, go down with your guns blazing...”


Beberapa jam yang lalu, saya punya kesempatan singkat untuk melangkah ke bioskop terdekat untuk menonton sebuah film yang sejatinya sudah tayang sejak sebulan lalu. Film berjudul THE DARK TOWER ini adalah adaptasi dari seri anyar bikinan oom Stephen King yang hits itu (menyusul nanti IT, dan serial TV MR MERCEDES). Tumben berani nonton pilem dari om King ? Yah, karena seperti yang sudah saya baca dari buku pertama serinya (dari tujuh buku), elemen horornya boleh dibilang tidak ada. Lebih ke semacam dark fantasy.

Lalu apa yang menarik dari film ini ? (sampai sini boleh berhenti kalau takut bias dan spoiler).

THE DARK TOWER yang dibintangi oleh Idris Elba sebagai Roland Deschain, sang Gunslinger terakhir, mengisahkan semacam ending dari perjalanan panjang penuh kehancuran dari keinginan Roland untuk membinasakan si pria berbaju hitam, disebut sebagai Walter, semacam penyihir superkuat yang diperankan oleh Matthew McConaughey. Roland ingin balas dendam, atas semua kematian orang-orang di dekatnya akibat ulah Walter ini.

Kalau boleh bias, Idris Elba dan Matt beneran menggoda secara harfiah. Bapak-bapak ini tampil begitu memikat, membuat wanita lajang histeris (ah itu kamu aja kali). Awal menonton, saya terpesona dengan Matt dalam tokoh villain-nya. Dan seiring berjalannya durasi film sepanjang 94 menit ini, saya terbelah, karena Idris Elba sama aja kerennya.

Noh, memanjakan mata banget

Nah, kalau untuk jalan cerita, memang THE DARK TOWER ini berasa 'kurang King' dan mungkin tidak seepik bukunya. Meskipun saya baru baca buku pertama, saya yakin sekali elemen kompleksitas dalam keseluruhan saga ini sangat epik dan tidak 'sederhana'. Namun dalam film dengan durasi singkat ini, seolah-olah dibikin lebih 'gampang' dengan ending yang tidak membuat ingin lempar kulkas seperti film-film adaptasi tulisan om King lainnya (sebut saja THE MIST, CELL).

Mengisahkan semacam konklusi final dari pertarungan antara Roland Deschain dan si pria berbaju hitam yang mempunyai niat untuk menghancurkan Dark Tower, suatu bangunan gaib yang melindungi multisemesta dari serangan iblis dan monster. Perlawanan Roland ini melibatkan seorang anak bernama Jake Chambers (akting si bocah ini lumayan oke), dari New York yang muncul melalui portal, setelah melarikan diri dari rumah karena dianggap tidak waras akibat mimpi-mimpinya mengenai Dark Tower.

Penyederhanaan kisah ini secara perbukuan mungkin akan membuat penggemar protes, namun bagi saya yang subjektif, cukup menikmati film ini. Jarang-jarang mau nonton film yang diadaptasi dari bikinan om King, karena alasan takut, dan memang saya penakut berat (tadi sebelum filmnya hadir, muncullah cuplikan promo film IT, yang bikin bergidik, padahal cuplikan doang). Lebih 'ringan' dan cukup seru. Tidak berdarah-darah, dan jumlah kematiannya tidak membuat muntah, adegan kekerasannya juga dibikin smooth dan tidak disturbing.

Untuk keseluruhan saga DARK TOWER, baru diterjemahkan satu buku akhir tahun lalu, dan Agustus ini buku keduanya muncul terjemahannya. Buku pertama berjudul SANG GUNSLINGER ini cukup njelimet dan lama mencernanya, meskipun tetap sadis seperti biasanya om King. Bagi yang sudah membaca bukunya, sebaiknya tidak terlalu berekspektasi terhadap film ini, karena jelas berbeda. Takutnya kalau tinggi ekspektasi, bisa kecewa.

Terjemahan oleh GPU

Secara keseluruhan, film THE DARK TOWER ini tertolong banget dengan pemainnya, Idris Elba dan Matthew McConaughey. Dua bapak kece ini membuat saya ikhlas nonton dan menikmati kekerenan aksi mereka sebagai hiburan dari kepenatan aktivitas harian. Well, mungkin tidak outstanding, tapi jelas entertaining (bias paraaah).

Yuk ditonton, baru muncul di layar lebar kita gara-gara kegeser sama jadwal pilem lokal (ooo sensi). Dan om King beneran ngehits berat tahun ini. Bravo !


"...I do not aim with my hand. He who aims with his hand has forgotten the face of his father. I aim with my eye. I do not shoot with my hand. He who shoots with his hand has forgotten the face of his father. I shoot with my mind. I do not kill with my gun. He who kills with his gun has forgotten the face of his father. I kill with my heart..."
- Roland Deschain -

No comments:

Post a Comment