August 27, 2017

Petaka Ponsel

“...Man has come to dominate the planet thanks to two essential traits. One is intelligence. The other has been the absolute willingness to kill anyone and anything that gets in his way...”



Sepertinya belakangan, nyaris setiap bulan saya membaca novel bikinan om Stephen King. Anggaplah mengejar ketertinggalan. Kali ini saya menyelesaikan novel berjudul SELULER, dari edisi asli berjudul CELL yang terbit aslinya tahun 2004 dan edisi terjemahannya oleh Gramedia Pustaka Utama sekitar tahun 2007 (diterjemahkan dengan kece oleh BundEs -- sekarang adalah ibu suri editor Mizan Media Utama).

Awal mulanya, saya menonton pilem berjudul CELL di Fox. Dibintangi oleh John Cusack dan Samuel L.Jackson, pilem dengan durasi sekitar satu setengah jam ini membuat saya emosi dengan akhir cerita yang membuat banting kulkas. Sebenarnya saya sudah mewanti-wanti diri sendiri, ini based on Stephen King's novel gitu lho. Jadi semacam kelumrahan kalau kisahnya bakal menyebalkan. Pasca kelar menonton pilem ini, saya curcol ke mba Nagare, pemilik kedai buku langganan saya. Tau-taunya beliau berhasil menemukan edisi kolpri mulus dari novel SELULER ini. Dan setelah petualangan bacaan klasik, saya kembali ke om King lewat kisah naas ini.

Tidak dapat dipungkiri, telepon genggam, kalau sekarang sudah menjadi smartphone, adalah kebutuhan esensial kehidupan jaman kini. Boleh dibilang hampir semua umat punya. Keberadaannya begitu penting dalam kehidupan keseharian, dan sekarang jadi penjajah utama waktu kita untuk berinteraksi layaknya manusia biasa.

SELULER mengisahkan bencana yang dialami umat manusia saat suatu 'Gelombang' tak dikenal menyebar melalui telepon seluler dan meretas langsung gelombang otak pengguna ponsel. Manusia-manusia ini lantas berubah menjadi agresif, saling menyerang satu sama lain. Bencana berdarah yang terjadi pada tanggal 1 Oktober itu mengubah hidup Clayton Riddell selamanya. Clay, tokoh utama kita, kebetulan sekali tidak punya ponsel. Entah itu beruntung atau sial. Clay bertemu dengan Tom, yang ponselnya mati kehabisan baterai dan tertinggal di rumah. Dan mereka berdua berhasil bertahan hidup dari katastrofi besar ini, lalu bertemu Alice, abege lima belas tahun yang ponselnya dipakai ibunya.





Clay memikirkan nasib Johnny, anak lelaki satu-satunya yang dia hadiahi ponsel baru. Mati-matian, Clay ditemani Tom dan Alice melarikan diri dari kegilaan 'kaum ponsel', hingga mereka sampai di suatu akademi. Disini mereka bertemu kepala sekolah Arden dan anak lelaki cerdas bernama Jordan, sebagai satu-satunya yang selamat dari infeksi Gelombang ponsel di akademi itu. Teori sinting yang dikemukakan Jordan, menyatakan bahwa 'kaum ponsel' ini sedang mengalami perubahan, semacam 'reboot' yang mengisi ulang otak mereka entah dengan apa sesuai Gelombang. Dan memang mereka berevolusi.

Kengerian demi kengerian serta batas manusiawi jadi amat kabur. Clay dan teman-temannya harus memilih untuk memusnahkan secara besar-besaran 'kaum ponsel' ini. Mengabaikan rasa jijik nan pekat, mereka membasmi tanpa ampun seperti membasmi hama rumahan saja. Namun selanjutnya kejutan gila lainnya terjadi, sosok Pria berpakaian compang-camping hadir secara serentak dalam mimpi mereka, berkelindan dengan setiap keputusan dan tindakan selanjutnya.

Clay (John Cusack) dan rekan-rekannya, persiapan memusnahkan 'hama'

Teori Jordan bahwa otak 'kaum ponsel' yang di-install ulang, ditambah dengan kedatangan kekacauan Gelombang akibat mutasi semacam worm, yang biasanya kita kenal dalam istilah pemrograman, membuat kisah ini semakin jelimet. Tidak usah menghitung jumlah mayat dan lelehan potongan tubuh. Khas om King, kita dibuat 'terbiasa' dengan gelimpangan dan kengerian yang bikin mual ini.

Lantas akankah Clay menemukan Johnny ? 

Novel SELULER ini memiliki rincian dan akhir kisah yang berbeda dengan pilemnya. Jelas novelnya lebih juara, karena pemaparan detail dan kegilaan yang tak terjelaskan di pilem, lebih terang benderang di buku. Meskipun kadar kesintingannya jauh lebih setrong juga. Jelas om King membuat ponsel menguasai manusia, menjadikannya secara nyata berbahaya dan mengendalikan setiap sendi kehidupan (seolah jaman kini belum demikian saja). Yang membuat saya bergidik adalah, ini masih kisah telepon genggam biasa, bayangkan saja kalau om King mulai membuat bentuk kegilaan lain karena smartphone

Seperti biasa, om King nailed it.
(butuh sepotong eskrim rasa teh hijau untuk membuat saya menenangkan diri setelah membacanya).

"...There's a Reason Cell Rhymes with Hell.
At bottom, you see, we are not Homo sapiens at all. Our core is madness. The prime directive is murder. What Darwin was too polite to say, is that we came to rule the earth not because we were the smartest, or even the meanest, but because we have always been the craziest, most murderous motherfuckers in the jungle..."

- Stephen King -

No comments:

Post a Comment