August 23, 2017

Puisi Gagak

“...Believe nothing you hear, and only one half that you see...”



Di awal 2017 ini, saya sempat memuaskan rasa penasaran dengan karya penulis misteri legendaris (yang sepertinya juga misterius) dengan nama Edgar Allan Poe. Lewat kumpulan cerpen berjudul THE BLACK CAT (sudah diripiu di sini) , saya cukup paham, mengapa beliau dianggap meletakkan fondasi horor gotik klasik di era romansa jaman 1800-an. Lantas, beberapa waktu lalu, dua penerbit berbeda memunculkan kumcer Poe lainnya dengan sampul apik, berjudul KISAH-KISAH TENGAH MALAM dan THE RAVEN.

Selain tergoda sampul, ini adalah Poe. Ya tentu akan saya baca dan koleksi. Maka setelah menamatkan kedua kumcer tipis ini beberapa waktu lalu, saya akan menyinyiri keduanya. Semoga bila ada pihak penerbit yang kebetulan kurang kerjaan membaca curhatan ini, tidak baper karenanya (sok banget gue).

KISAH-KISAH TENGAH MALAM adalah kumcer cetak ulang yang diterjemahkan oleh Maggie Tiojakin, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Denga sampul artistik yang creepy namun berkelas dan collectible, kumcer ini berisi 14 cerita pendek bikinan Poe, yang ternyata ada beberapa sudah muncul dalam THE BLACK CAT. Namun harus saya akui, versi GPU ini memiliki 'rasa' terjemahan yang lebih enak. Dan khusus untuk kumcer yang ini, saya memfavoritkan cerpen berjudul Obrolan dengan Mumi.

Edisi cetak ulang oleh GPU

Obrolan dengan Mumi adalah cerpen Poe yang tidak horor, malah cenderung humor. Dark humor. Hawa fiksi ilmiahnya juga mulai mencuat. Dimana kemungkinan mengawetkan diri untuk dibangunkan kembali ribuan tahun kemudian sepertinya menjadi sesuatu yang tidak asing di jaman kini. Kita sama-sama tahu, kalau teknologi sudah mulai memungkinkan ini. Dan si Mumi yang diajak ngobrol dalam kisah ini mengalami hal yang serupa. Lantas si Mumi membagikan kisah dan kesombongan peradabannya pada para ilmuwan yang mendengarkan dengan antusias. Sungguh menarik. Tidak ada kengerian mencekam seperti kisah Poe lainnya.

THE RAVEN adalah kumcer plus tambahan puisi horor yang dibuat oleh Poe. Terdiri atas 3 puisi dan 10 cerpen, yang di antaranya ada juga termuat dalam KISAH-KISAH TENGAH MALAM. Meskipun maaf sekali, 'rasa' narasi di kumcer GPU jauh lebih ngena. Yang menarik dari THE RAVEN ini adalah keanehan puisi-puisi bikinan Poe. Termasuk puisi berjudul SANG GAGAK yang dijadikan judul kumcer ini. Puisi yang dibuat tahun 1845 itu secara tersirat menunjukkan kehadiran seekor burung gagak yang menghampiri seorang pria di kamarnya yang besar. Tak dinyana, sang Gagak adalah perlambang kematian, atau malah mewakili kehadiran malaikat maut yang membawa jiwa si pria melayang ke alam selanjutnya.

Edisi terjemahan oleh Nourabooks

Kisah favorit saya dalam kumcer ini adalah Kumbang Emas. Lagi-lagi tidak seperti karya Poe yang lain, cerpen ini justru mengisahkan tentang penemuan harta karun gilang gemilang milik Kapten Kidd yang telah terbenam dalam bukit suatu pulau telantar setelah ratusan tahun. Yang jadi menarik adalah, tokoh utama bersudut pandang 'aku' yang menemukan harta ini, pada awalnya merasakan keganjilan dan ketidakwarasan dari sahabatnya, seorang pria eksentrik yang nyatanya berhasil memecahkan teka-teki milik Kapten Kidd dan menemukan harta karun tersebut. Semua berawal dari penemuan kumbang emas yang magis dan tidak seperti bangkai kumbang pada umumnya.

Kebrilianan Poe memang patut diakui. Mengingat di masa tahun kemunculannya, karya sastra lebih terfokus pada romansa dan tragedi, Poe malah hadir dengan karya-karya out of the box. Hal ini jugalah yang membuat banyak penulis lain terinspirasi. Dan herannya, tulisan non horor-nya juga cukup memikat, meskipun singkat. Kehidupan pribadi Poe yang misterius juga menjadi daya tarik tersendiri, tentang kegilaan macam apa yang berkecamuk dalam kepala penulis ternama ini, sehingga bisa menghadirkan kisah-kisah pendek yang intriguing dan jelas tidak gampang dilupakan.

Sebagai pembaca novel fantasi yang baru melek klasik, saya merasa terhibur dan mulai mengerti kenapa klasik itu bagus. Fondasi yang diletakkan oleh para penulis ini, lebih seabad lalu, telah menjadi trigger bagi penulis masa kini untuk menghasilkan karya-karya fenomenal dengan hasil yang memukau. Bila tidak ada Poe, Lovecraft, Verne, Wells, dan nama-nama lainnya, mungkin sastra dunia akan kurang berasa. Karena jelas, bagi saya, kisah romansa saja tidak menarik untuk menghibur otak.

Well, such a nice reading session... (melipir baca bukunya om King).

“Deep into that darkness peering, long I stood there, wondering, fearing, doubting, dreaming dreams no mortal ever dared to dream before.” 
- Edgar Allan Poe -

No comments:

Post a Comment