September 19, 2017

Sang Tawanan, Si Nona Bayangan, dan Si Pendorong

“For every mother who ever cursed God for her child dead in the road, for every father who ever cursed the man who sent him away from the factory with no job, for every child who was ever born to pain and asked why, this is the answer. Our lives are like these things I build. Sometimes they fall down for a reason, sometimes they fall down for no reason at all.”

image courtesy : drewrowsome.blogspot.com

September adalah bulan bacaan yang cukup menyenangkan buat saya. Terbukti setelah menganugerahkan lima bintang penuh untuk Lockwood & Co, saya melempar lima bintang penuh lagi pada THE DRAWING OF THE THREE - THE DARK TOWER #2 (PENARIKAN TIGA UNSUR) buah karya dari oom Stephen King, penulis gaek rock n roll legendaris yang hits berat di tahun 2017 ini.

Melanjutkan kisah Roland Deschain, sang gunslinger terakhir dalam seri THE DARK TOWER, buku kedua berjudul PENARIKAN TIGA UNSUR ini muncul lebih apik, rapih, dan tentu saja tebal. Buku pertama yang cukup absurd dan memusingkan, yang meninggalkan banyak tanda tanya akhirnya berlanjut dengan epik dan kesan yang memuaskan.

Roland terdampar, terseok-seok, menghadapi ramalan tarot yang dibutuhkan untuk melanjutkan perjalanan menuju Menara Gelap. Termutilasi dan terinfeksi, Roland mesti menemukan tiga orang dari dunia kita untuk melanjutkan misi. Dari ramalan tarot, mereka ini kita kenal menjadi Sang Tawanan, Si Nona Bayangan, dan Si Pendorong. Bagaimanakah cara Roland menemukan mereka ?

Sang Tawanan, adalah seorang pria muda pecandu heroin kelas berat bernama Eddie Dean. Dalam penerbangan yang ditumpanginya dengan membawa satu kilogram kokain, Eddie yang sudah tak berguna dan cemas takut tercyduk, merasakan perputaran takdir ketika sesosok kesadaran Roland hadir dalam dirinya. Sang gunslinger terakhir membimbing-memanipulasi-mengarahkan Eddie ke belitan takdir baru. Lewat adegan pertumbahan darah yang memuaskan, Eddie menetapkan pilihannya. Tentu saja lewat banyak kehilangan, air mata, darah, dan sumpah serapah.

Si Nona Bayangan, seorang wanita kulit hitam cacat kaya raya bernama Odetta Holmes, memiliki masalah sendiri. Trauma masa lalu, kepedihan dan diskriminasi rasis menjijikkan, memunculkan seorang nona lain, Detta Walker. Skizofrenia. Odetta/Detta lebih sulit daripada Eddie. Sementara Roland sudah sekarat, mengais-ngais napas. Eddie-lah justru muncul ke permukaan. Skizofrenia ini mengerikan, penggalian aspek kepribadian dengan cara yang horor ini menguras energi dan bikin greget. Om King memang juara.

Terakhir, Si Pendorong. Jack Mort, akuntan tua kaya raya yang punya gangguan kepribadian lain. Hobinya adalah menganiaya atau membunuh orang dengan tujuan senang-senang. Namun, Jack Mort punya mental asli nan lemah, sehingga bukan perkara sulit bagi Roland yang dominan dan kharismatik. Kebenaran mengerikan berkaitan dengan kisah sulit Odetta Holmes ternyata ada urusannya dengan Jack Mort. Dan konklusinya pun jadi menarik dan mencengangkan.

Si Pendorong, Sang Tawanan, dan Nona Bayangan

Kepiawaian om King menaikkan level kisah ini semakin menjadi-jadi. Saya begitu terpukau dan menantikan lanjutan jalan panjang menyedihkan dari seri DARK TOWER yang tercatat ada tujuh buku. PENARIKAN TIGA UNSUR membangun plot yang lebih terang dan jelas. Memunculkan spekulasi tentunya, dan masih tanda tanya lain. Penyebutan tokoh-tokoh sampingan yang familiar di buku om King lain dalam kisah ini, membuat kita tahu, bahwa semesta fantasi gelap bikinan si om memang berkaitan. Jelas saya greget.

Diterjemahkan dengan apik, dalam buku setebal 500 sekian halaman, membuat berdecak puas. I'm craving for the next. Tidak jelas batas baik dan buruk dalam kisah ini. Isu-isu kemanusiaan, kebobrokan manusia, kegilaan jasmani dan rohani, menjadikan kisah gelap ini semakin lengkap. Jelas outstanding, jelas strongly recommended

Edisi terjemahan oleh GPU (yang covernya tak nyambung tapi mereka berdua tetap ganteng)

Tolong plis dilanjutkan terjemahannya plis ya plis.

“Because the difference between seeing and not seeing can be the difference between living and dying.”
- Stephen King -

No comments:

Post a Comment