September 10, 2017

Tengkorak Sial

“Making tea is a ritual that stops the world from falling in on you.”


TENGKORAK SIAL. Dua kalimat ini muncul begitu saja dari saya setelah menyelesaikan buku keempat dari seri LOCKWOOD & CO karya oom Jonathan Stroud. Buku berjudul asli THE CREEPING SHADOW ini baru mucul edisi Indonesianya di awal September, dengan judul terjemahan : BAYANGAN MENGENDAP.

Nah, saya telah curhat mengenai tiga buku sebelumnya dalam seri yang direncanakan akan terdiri dari lima buku ini (bisa dicek di sini). Setelah George ga jadi memotong kue cokelatnya di buku ketiga (THE HOLLOW BOY/PEMUDA BERONGGA), saya dengan sabar menanti lanjutan kisah horor-kocak-seru ini, dan taunya setelah kelar, saya malah digantung lagi dengan sukses oleh om Stroud. KZL ZBL.

Pasca lapor histerikal ke geng admin dan Ambu, tulisan ini akhirnya hadir. Dalam buku keempat ini, level kisah Lucy, Anthony, dan George sudah meningkat melampaui apa yang kita kira hanya sekedar seru-seru petualangan horor saja. Menahan diri untuk tidak spoiler, saya dibuat amat sebal dengan kepiawaian om Stroud memutar kisah ini menjadi sesuatu yang bigger. Dan jelas melibatkan si tengkorak dalam toples, Pengunjung tipe 3 yang minta ampun nyinyir dan ngeselin tapi kocak, membuat saya kangen dengan Bartimaeus, Shakr Al-Jinni.

BAYANGAN MENGENDAP masih berkisah seputar wabah hantu yang nggak kelar-kelar di Inggris. Persaingan antara agensi hantu terkemuka, Fittes dan Rowell, mulai menunjukkan pengungkapan yang lebih besar dalam buku ini. Si tengkorak idola pembaca dicuri, dan Lucy terpaksa meminta bantuan pada Anthony untuk menemukan kembali si tengkorak, yang berujung pada pengungkapan pasar gelap barang-barang mistis. Dan ternyata berhubungan dengan pekatnya politik penguasaan pembasmi hantu di penjuru negeri. Polemik juga memuncak ketika satu desa menjadi desa terkutuk dengan munculnya sosok 'bayangan mengendap' superbesar dan kehadiran banyak Pengunjung yang sudah menewaskan belasan warga.

Edisi terjemahan oleh GPU

Selain bareng Anthony dan George, Lucy juga harus bekerja sama dengan Holly, si cantik anggota baru Lockwood & Co, dan Kipps, mantan anggota Agensi Fittes. Kombinasi tidak biasa ini memaksa mereka mengungkap sesuatu yang lebih berbahaya namun amat menarik mengenai dunia orang mati, dan apa kemungkinan akar masalah dari wabah yang sudah berlangsung lima puluh tahun lebih.

Diceritakan dengan amat ringan dan kocak, om Stroud beneran membuat pembacanya sebal. Ada momen-momen yang bikin ngakak, entah karena celetukan George atau kelakuan si tengkorak, atau kerecehan lain dalam perang tiada akhir melawan entitas-entitas ini. Akhirnya mereka benar-benar berhadapan dengan kebenaran dan orang dewasa yang berbahaya plus berkuasa dan berotak, tidak seperti banyak orang dewasa lain yang bergantung pada kaum muda untuk mengatasi kengerian massal ini.

Kita juga akan dibuat greget dengan perkembangan hubungan tokoh-tokoh remaja ini. Anthony yang makin mempesona, Lucy yang keren namun tetap saja rapuh, George yang sarkas dan doyan makan seperti biasa, Holly yang ternyata menyenangkan, dan kejutan-kejutan lain. Dan yang paling penting adalah celetukan informatif di tengkorak dalam toples. Celetukan inilah yang menjadi cliffhanger paling sial dan membuat kesal. Seandainya si tengkorak punya leher, pasti udah saya cekik berulang-ulang.

Edisi terjemahannya enak dibaca, meskipun ada typo sedikit, tapi ya udahlah ya. Kekesalan saya memuncak setelah tau kalau digantung lagi di akhir buku ini. Ceritanya udah level up, eh, digantung lagi. Heuuu. Pesan lainnya adalah bahwa para agen pembasmi hantu ini tidak melupakan untuk makan makanan enak meskipun sibuk, rajin minum teh dan cokelat panas.

Yah baiklah, mari menunggu buku kelimanya (katanya terakhir), dengan judul THE EMPTY GRAVE, yang saya sepertinya mengerti kenapa diberi judul demikian (lalu si tengkorak nyengir nyebelin).
Highly recommended, novel fantasi-horor tidak biasa yang jelas bisa menghibur dan membuat kesal pembaca.

“Strange how close the darkness is, even when things seem brightest. Even in the glare of a summer noon, when the sidewalk bakes and iron fences are hot to the touch, the shadows are still with us. They congregate in doorways and porches, and under bridges, and beneath the brims of gentlemen’s hats so you cannot see their eyes. There is darkness in our mouths and ears; in our bags and wallets; within the swing of men’s jackets and beneath the flare of women’s skirts. We carry it around with us, the dark, and its influence stains us deep.”
 - Jonathan Stroud -

No comments:

Post a Comment