October 18, 2017

Bumi Berbadai

“In fact, ecological turmoil might endanger the survival of Homo sapiens itself. Global warming, rising oceans and widespread pollution could make the earth less hospitable to our kind, and the future might consequently see a spiralling race between human power and human-induced natural disasters. As humans use their power to counter the forces of nature and subjugate the ecosystem to their needs and whims, they might cause more and more unanticipated and dangerous side effects. These are likely to be controllable only by even more drastic manipulations of the ecosystem, which would result in even worse chaos.”
 -  Yuval Noah Harari -


Ketika kolega saya ingin nonton pilem Geostorm yang baru rilis di bioskop lokal, saya yang sedang dirundung kejenuhan dan butuh hiburan akhirnya ikutan. Pilem yang baru saja rilis ini syukurnya tidak membludak dan gampang diakses. Saya tidak perlu bergabung dengan para kids jaman now yang kehabisan tiket pilem remaja dan juga pilem horor kekinian. Maka jadilah nonton Geostorm dalam durasi kurang dari dua jam.

Nah, bagi yang tidak suka spoiler, silakan menyingkir. Saya ini penulis egois, jadi curhatan ini muncul dengan membabat batas-batas spoiler. Begitu kira-kira.

Mengisahkan seorang teknisi/penemu/ilmuan bernama Jake Wilson yang diperankan oleh om Gerard "This is Sparta !" Butler (better watch 300 to know what I meant), yang mesti menyelamatkan seisi dunia akibat suatu glitch alias kesalahan sistem dalam satelit canggih pengontrol cuaca yang dia bangun di tahun 2019. Kengerian bencana terjadi dimulai dari perubahan cuaca amat ekstrim, badai salju di daerah gurun, kenaikan suhu mendadak di daerah yang beriklim dingin, dan herannya kejadian ini amat terlokalisir. Memakan korban jiwa ya jelas ya. Namun ini tentunya mencurigakan.

Kesalahan saya adalah saya punya jiwa nyinyir yang sulit dienyahkan. Saya tadinya berpikir bahwa pilem yang diproduseri oleh Jerry Bruckheimer dan disutradarai oleh Danny Canon ini akan membawa sedikit 'tamparan' bagi pemirsa dalam hal menjaga lingkungan dan bagaimana bumi kita ini udah begitu tua dan lelah. Namun harapan saya boleh jadi agak ter- plot twist dalam kisah dengan gambar apik ini.

Konspirasi, masalah politik dan kekuasaan ternyata mendasari Geostorm. Satelit yang dibangun oleh Jake, nyatanya digunakan sebagai senjata untuk menguasai dunia. Well, penyelesaian kisah ini simpel saja, cukup menggunakan biometri (sidik jari dan pindai retina) presiden Amerika Serikat, maka masalah kelar. Disini Jake dibantu oleh ilmuan Jerman, Prancis, Nigeria, dan dikhianati oleh ilmuan Inggris. Anggap saja saya sok tau soal politik internasional, tapi yah, entahlah apa maksud tersembunyi dari pilem ini. Semoga hanya sekedar angan-angan kosong dan analisis bodoh dari seorang kids jaman old yang kekenyangan abis makan kaepci.

Poin menarik tentunya adalah hubungan keluarga antara Jake dan Max, adik lelakinya yang menjadi politikus. Yah, bolehlah. Tampilan bencananya juga oke, bikin keringat dingin sih ya. Meskipun keknya milih-milih. Badai es super di Afghanistan, suhu ekstrim di Hongkong, banjir dan tsunami di Dubai, badai es lagi di Rio de Janeiro, salju ngamuk di Tokyo, Rusia yang terpanggang, dan US cuma kena badai petir dan hujan ekstrim di Orlando. Sounds weird, huh ?



Yang jelas, semua bencana ini seolah mengenyahkan keilahian dan law of nature. Sesuka jari manusia saja dengan pengetahuan dan teknologi yang dikuasainya. Membuat saya agak miris dan merasa kurang realistis, apalagi setelah sampai pada akhir pilem. Dan seperti kata si Aan, teman nonton saya kali ini, you've read too much, Mak, just enjoy it...it's just entertaining.. Yah mungkin ada benarnya, namun jelas aspek menghibur saja tidak cukup untuk sebuah tontonan. Setidaknya tiket menonton sekarang jauh lebih hemat (kelihatan ga mau ruginya).

Apakah saya merekomendasikan pilem ini ? 
Buat hiburan saja, okelah, adegan badai dan bencananya cukup aduhai. Tapi kalau untuk dibawa berpikir lebih jauh, mungkin kening anda akan berkerut sedikit karena tidak puas. Aspek hiburan dan selipan lelucon juga ada, cukuplah. Dan pilem ini tidak membuat ngantuk. Sekian.

“There is no such thing as a natural disaster. In earthquakes the architecture fails. If you’re out in a grassy meadow, it doesn’t matter how big the earthquake is: it might knock you down, but if nothing falls on top of you and nothing catches fire from broken gas mains or power lines, then you’re probably okay. Architecture is the first casualty of earthquakes, and human beings under the architecture are the casualties of the architecture. ”
- Rebecca Solnit -

 

No comments:

Post a Comment