October 22, 2017

Lapar Tiada Akhir

“There are things that are too terrible to remember, and there are things that are almost too wonderful to recall.”


Judul curhatan ini bukan mengindikasikan kelakuan saya sehari-hari. Kelaparan saya tidak ada hubungannya dengan kisah kali ini. THE MONSTRUMOLOGIST - 2 : THE CURSE OF THE WENDIGO (judul terjemahan : KUTUKAN WENDIGO) adalah bacaan anyar terbaru yang saya selesaikan. Lantas apa hubungannya dengan rasa lapar ?
Saya sudah membaca buku pertama dari seri keren bikinan Rick Yancey ini tahun lalu (bisa dicek di sini), dan jelas saya suka. William James Henry, tokoh bocah malang dengan sang mentor- monstrumolog ternama yang terkenal bernama Dr Pellinore Warthrop, kali ini berhadapan lagi dengan jenis pemangsa manusia yang lain. Namun, kekelaman kisah ini entah kenapa memunculkan sisi romantis dan sedih yang berkelindan satu sama lain. Jelas saya jadi kepincut.


Kedatangan Muriel Chanrel, mantan tunangan Dr Warthrop memohon bantuan si ilmuwan arogan ini untuk menemukan sang suami, Dr John Chanrel, sesama monstrumolog. Dr Chanrel menghilang di hutan belantara Kanada karena berburu sesosok monster-mitos yang dikenal oleh suku Indian setempat sebagai Wendigo. Semacam vampir versi pedalaman Amerika. Diketahui bahwa Dr Chanrel adalah satu dari sedikit sahabat Dr Warthrop yang sudah berbagi banyak kisah di masa lalu.

Maka dimulailah petualangan Will Henry bersama sang doktor ke pedalaman hutan perbatasan. Dan mulai dari sini, kengerian dan kepedihannya nyaris tidak tertahankan. Apa yang disebut sebagai 'Wendigo' ini meninggalkan korbannya dalam keadaan amat memualkan. Tersula di pohon dengan darah terkuras, kulit dikelupas, rongga mata kosong, dan jantung terkunyah. Whew, deskripsi ini amat menantang pembaca dengan kegamblangan tampilannya. Lantas, berhasilkah Dr Warthrop menemukan sahabatnya ?

Edisi terjemahan oleh GPU

Dengan sampul depan edisi terjemahan yang kece, kisah ini membawa saya jijik-sedih namun hangat sekaligus. Dr Chanrel berhasil ditemukan. Namun, Dr Chanrel bukanlah pria yang sama lagi. Dr Warthrop menyaksikan namun sekaligus mengingkari kenyataan bahwa sahabatnya berubah menjadi makhluk yang kelaparan. Terus-menerus lapar tanpa bisa terpuaskan.

Belitan dendam masa lalu, cinta tak berbalas, ternyata hadir begitu pelik dalam kisah ini. Dr Warthrop tersudut oleh kenyataan, tekanan politik dari organisasi  kaum monstrumolog, belum lagi serangkaian pembantaian yang hadir di New York. Pembantaian yang luar biasa sadis dan nyaris membuat muntah. Genangan darah dan potongan tubuh mewarnai ceritanya. Will Henry sekali lagi terbukti muncul dalam situasi meregang nyawa. Dan di buku ini, kita dibuat gemas dengan sang doktor. Jelas beliau menyayangi Will Henry, sebagai anak, sebagai murid, sebagai satu-satunya yang dipercaya. Namun cara beliau menunjukkannya yang memang berbeda.

KUTUKAN WENDIGO adalah kisah gelap dan sedih, hadir sebagai penjelasan terhadap masa lalu sang doktor, sekaligus mengungkap keberadaan organisasi monstrumolog sedunia yang selalu berlindung secara rahasia. Disini kita jadi tau bahwa Dr Warthrop adalah pembangkang kelas berat, idealis kelas kakap, dan jelas arogansinya luar biasa, tapi tetap beliau adalah pria super cerdas yang mau tak mau menuai hormat. 

Poin menarik lain dalam kisah ini adalah keterkaitannya dengan sejarah di masa itu, sekitar tahun 1890an. Ada tokoh-tokoh nyata yang disebutkan, ada kisah legendaris lain yang terucap, tak lain tak bukan tentunya Dracula yang kita kenal. Namun, KUTUKAN WENDIGO membawa level kegilaan yang berbeda. Bahkan Will Henry pun merasa mulai 'kehilangan arah' dan ikut-ikutan menghadapi kejamnya sebuah konsekuensi dari pilihan yang dibuat, tentunya dalam situasi hidup-mati.

Ending kisah ini tampil cukup mengharukan. Disinilah rasanya muncul 'kemanusiawian' sang doktor, dan jelas membuat sedih. Apa yang diputuskan oleh Dr Warthrop membuat saya amat tidak sabar menantikan lanjutannya. Kekelaman dan kepedihan ini terasa begitu nyata dan mengganggu. Ada banyak rasa lapar yang tak terpuaskan, bukan hanya soal fisik. Ada lapar yang menetap sekian lama dan menjadi bencana menahun bagi penderitanya. Para tokoh dalam kisah ini mengalaminya. Pedih, nyata, dan berkepanjangan.

Yah, jelas ini highly recommended. Bukan kisah horor biasa, bukan hanya kisah fantasi, dan jelas ini berada pada level yang membuat ragu. Nyata ? Mungkin tidak. Namun banyak kebenaran-kebenaran dan pengajaran yang disodorkan di dalamnya, yang tentunya jauh lebih berasa nyata daripada onggokan kepalsuan dunia maya.


“Nothing makes us love something more than the loss of it.”
- Dr Pellinore Warthrop -

No comments:

Post a Comment