October 16, 2017

The Theory Of Everything

“We are just an advanced breed of monkeys on a minor planet of a very average star. But we can understand the Universe. That makes us something very special.”
- Stephen Hawking -



Reading slump adalah masalah cukup serius bagi penikmat buku macam saya. Maka dari itu setelah beberapa bundel Donal Bebek, saya mulai membaca lagi. Namun saya melakukan sesi bacaan paralel yang diisi berbagai buku. Akhirnya dari empat buku yang sedang on going, saya akhirnya berhasil menyelesaikan buku tipis berjudul RANCANG AGUNG, karya Stephen Hawking feat. Leonard Mlodinow. Jenis buku yang sepertinya bukan bacaan saya yang biasa.

Jadi, udah pindah ke fisika kuantum ?

Sejujurnya, dari 200 halaman buku ini, saya takkan sanggup menjelaskan kembali berbagai teori fisika kepada para pembaca. Sejak jaman sekolah dulu, nilai fisika saya adalah nilai pas-pas-an batas lulus. Sudah tak ingat lagi soal Hukum Newton, selain kisah Newton yang kejatuhan apel pas sedang bobok siang. Lalu kok sok banget gitu baca bikinan Hawking ini ? Karena, yah, ini menarik dengan cara yang tidak biasa.

Saya ingat pernah membaca buku berjudul A BRIEF HISTORY OF TIME, bikinan Hawking beberapa tahun lalu. Kesannya : pusing. RANCANG AGUNG yang berjudul asli THE GREAT DESIGN ini, sama pusingnya. Namun ada hal yang setidaknya bisa saya tangkap dengan sok iyes.

Buku fisika kuantum tipis ini hadir dengan bahasa yang lebih 'menarik' ketimbang buku pelajaran pada umumnya. Hawking sepertinya mati-matian menyodorkan fakta pada kita bahwa ada suatu teori lengkap yang menjadi pengatur alam semesta ini. Kapan dan bagaimana mulainya, serta kapan dan bagaimana berakhirnya. Dalam buku ini, Hawking yakin bahwa ada suatu hukum yang memastikan hal ini. Melibatkan perpaduan teori-teori fisika kuantum dan berbagai penemuan matematis dari para ahli sejak ribuan tahun lalu.

Edisi terjemahan cover baru oleh GPU

Hawking merunut kronologi teori fisika populer. Mulai dari Aristoteles, Ptolomeus, Copernicus, Galilei, hingga Einstein. Para fisikawan ini telah berusaha 'memetakan' berbagai rumus mengenai bagaimana alam semesta terbentuk, mulai dari atom hingga kuark. Dualisme cahaya sebagai gelombang dan partikel, konstanta Planck yang sering kita dengar jaman sekolah menengah, hingga kemungkinan adanya tak kurang dari sepuluh dimensi di jagat raya, tiga yang kita tahu, dan tujuh lainnya yang 'tergulung' amat rapat hingga tak terlihat.

Apa yang diinginkan Hawking dan para ilmuwan ini ? 

Keminiman kepercayaannya akan ilahiah dan agama, membawa Hawking untuk mencari-dan terus mencari adanya suatu teori/rumus matematika/fisika yang digdaya sebagai suatu grand design yang dapat membawa penjelasan rasional mengenai terbentuknya alam semesta. Ilmu pengetahuan telah melampaui kisah Ra yang menyeret matahari dan bertarung melawan Apophis setiap hari dalam menjelaskan kenapa matahari terbenam dan muncul kembali di pagi nan cerah. Fisika kuantum bersama gravitasi telah menjelaskan mengenai perputaran bumi dan gerak antar planet, bukan hanya kesepakatan antara Gaea dan Ouranus. Tidak ada lagi yang mau menyinggung-nyinggung Kronos masalah waktu, karena sudah ada sendiri konstantanya. Semua mitologi sudah tersingkir. Odin cukup duduk-duduk saja di Valhalla dan mulai jadi sekedar kisah.

Keingintahuan dan penemuan para ilmuan diungkapkan Hawking secara gamblang. Hawking meyakini, keterlibatan ilahiah tidak sebegitunya, nggak usah selalu disangkut pautkan. Whew, that's harsh. Maka dari itulah, sepertinya scientology menjadi semakin dicari. Lantas berbahayakah buku ini ?

Bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Bagi saya, buku ini jelas mengganggu, namun dalam artian mengganggu saya mengenai kekosongan yang dialami para ilmuan ini di setiap hatinya. Ketuhanan adalah sesuatu yang sederhana namun sulit, dan jelas banyak di antara kita yang mulai mempertanyakan ini seiring pertambahan usia dan banyaknya pengaruh di sana sini. Ini membuat saya bersyukur, karena apa yang saya anut, alhamdulillah membuat saya justru lebih memahami kepedihan ilmu pengetahuan ini.

Tidak ada yang bisa dipaksa untuk menerima. Ada yang namanya hidayah, dan itu jelas perlu diperjuangkan. Mungkin Hawking masih mencari dengan gigih, mengabaikan ALS yang sepertinya berdenyut pelan tapi pasti untuk membawa raganya kembali dalam unsur karbon yang sama seperti tanah liat. The Grand Design, bisa jadi pencerahan dan bencana bila ditemukan. Dan tentunya makhluk remeh macam kita ini yang ternyata punya kekuasaan untuk menentukan.

Bahasan buku ini menarik namun agak rumit. Ada recehan lelucon kelas ilmiah yang kadang membuat saya tertawa atau bingung. Belum lagi ditambah penjelasan 'mukjizat' keberadaan kita sebagai yang beruntung tinggal di Bumi di antara trilyunan probabilitas kita berakhir di Venus yang panas dan beracun, atau berputar-putar kedinginan di cincin Saturnus sebagai penyusun berlian. Kontradiksi antara 'mukjizat' dan ketidakpercayaan pada Zat Maha. Hawking nyatanya menuliskan ini dalam bukunya. Menarik untuk disimak, supaya arogansi kita menurun sedikit banyak.

Sisi lain, saya sepertinya harus nonton  The Theory of Everything, film yang membuat babang Eddie Redmayne memenangkan piala Oscars untuk aktor pria terbaik tahun 2015. Mungkin bisa lebih memahami seperti apa si eksentrik Stephen Hawking. ^^


“Even if there is only one possible unified theory, it is just a set of rules and equations. What is it that breathes fire into the equations and makes a universe for them to describe? The usual approach of science of constructing a mathematical model cannot answer the questions of why there should be a universe for the model to describe. Why does the universe go to all the bother of existing?”

No comments:

Post a Comment