December 15, 2017

Coco : as Sweet as Chocolate, as Refreshing as Coconut

"...Remember me, though I have to say goodbye
Remember me, don't let it make you cry
For even if I'm far away I hold you in my heart
I sing a secret song to you each night we are apart
Remember me, though I have to travel far
Remember me, each time you hear a sad guitar
Know that I'm with you the only way that I can be
Until you're in my arms again
Remember me..."
- Don Hector -



Sebelum saya nonton STARWARS : THE LAST JEDI tempo hari, saya dan geng kalap bersama memutuskan menonton sebuah pilem animasi dari Disney dan PIXAR, berjudul COCO. Pilem ini sebenarnya udah tayang sejak kapan. Tapi karena saya sok sibuk jadi saya belum sempat nonton. Nah untunglah saya bisa menonton pilem keren ini, meskipun harus diingatkan oleh mas Ulil harus membawa stok tisu.

Tidak perlu meragukan kualitas animasi buatan Disney. Warna-warninya. 'Rasa'nya. Dan jelas lagu-lagunya yang membuat hati hangat. COCO sukses sekali. Tidak mengusung soal putri-putrian, namun menyusung tema keluarga. Jelas ini bakal nonjok.

Menceritakan kisah tentang seorang anak lelaki bernama Miguel Rivera di sebuah kota kecil di Meksiko. Miguel diam-diam menyukai musik. Namun keluarga Rivera membenci musik. Musik adalah kutukan yang membuat ayah dari nenek buyut Miguel, mama Coco, menghilang dan menelantarkan keluarganya. Hal ini mendorong ibu dari mama Coco untuk membuat usaha sepatu demi menopang hidup keluarga. Melanjutkan tradisi ini dari generasi ke generasi. Hingga nanti Miguel pun harus serupa.

Kecintaan Miguel pada musik membuatnya terbawa kepada Dunia Orang Mati. Tempat ini terbuka pada satu hari Festival Orang Mati yang menjadi tradisi di Meksiko. Miguel butuh restu untuk kembali ke dunianya dan melanjutkan impiannya. Usaha Miguel meyakinkan keluarganya ini yang penuh haru dan membuat terisak. Kebenaran yang terkubur sekian lama membuat keluarga Rivera menjadi terguncang.

Mas Ulil benar. Saya dan mbak Renni meneteskan air mata cukup banyak di pilem ini, sampai suara saya yang serak jadi makin serak. Dan tidak sedikit penonton mengalami hal yang sama. Yang menarik adalah penonton pilem ini cukup bervariasi, bukan hanya anak-anak. Kursi penonton pun hampir penuh. Padahal ini adalah minggu kedua dari pemutaran COCO di kota saya. Jarang sekali menemukan apresiasi sebaik ini untuk pilem animasi. COCO berhasil. Secara global pun pilem ini telah mengalahkan pilem anyar lain dalam hal pendapatan. Jelas kita tahu kenapa.

Tema keluarga dan kebenaran yang diusung dalam kisah ini sebenarnya bukan tema baru. Namun tidak ada yang meragukan kemasannya. Lagu-lagunya yang indah dan menyenangkan. Dialek serta budaya lokal Meksiko, mitos dan seninya, semuanya menyenangkan dan manis. Membuat pilem ini terasa lebih kaya. Baik dalam hal cerita dan keindahannya. Tidak heran COCO masuk nominasi Golden Globe Awards untuk pilem animasi terbaik plus sontreknya. Mesmerizing, dazzling, enchanting.

Sebagai penyuka pilem animasi, keharu biruan COCO ini membuat saya makin yakin bahwa pilem beginian bukan untuk anak-anak semata. Pesan indah dibaliknya bisa untuk semua usia. Jadi plis jangan stereotip kalo pilem kartun cuma buat anak-anak. Kurang pengetahuan itu namanya. COCO amat menyegarkan, bikin hangat, dan jelas bermakna. Mungkin jauh lebih bermakna daripada pilem kekinian. Senang sekali saya punya kesempatan menontonnya.

Jadi apakah Miguel Rivera berhasil ? Apakah yang Miguel pilih, keluarga atau musik ?


Silakan nonton saja. Sungguh ini pilem yang baik. BerQualitas. ^^


"...You make me, un poco loco
Un poquititito loco
The way you keep me guessing
I'm nodding and I'm yessing
I'll count it as a blessing, that I'm only
Un poco loco..."
- Miguel Rivera -

No comments:

Post a Comment