December 4, 2017

Conflict Doesn't Choose Its Victims

“It is forbidden to kill; therefore all murderers are punished unless they kill in large numbers and to the sound of trumpets.”
- Voltaire - 



Saya adalah WNI yang tergolong skeptis dan agak antipati sama pilem lokal. Bukan apa-apa, saya memang nyinyir dari sononya. Biasalah, keracunan Hollywood sejak lama, bacaan juga banyak yang terjemahan. Namun kalau berkaca secara objektif, keskeptisan saya rasanya bisa cukup beralasan. Tidak banyak pilem yang bisa 'menggugah'. Saya mencatat hanya beberapa dalam benak saya. Seperti Petualangan Sherina, AADC (yang pertama yes, yang kedua no), Laskar Pelangi, dan Mengejar Matahari.

Dalam kesempatan cukup jarang, saya nonton stasiun tipi lokal, dan ternyata ada ajang Piala Citra 2017. Nah, penghargaan yang dianggap sebagai The Oscars-nya Indonesia ini hadir dengan konsep tidak bertele-tele dan mengusung pemenang sebuah judul film yang tayang bulan April 2017 lalu. Pilem yang tidak mencetak rekor berjuta-juta penonton, tidak menjadi incaran tontonan generasi jaman now, tidak meme-able, dan masih banyak yang mungkin kurang info. NIGHT BUS, sebuah film yang juga berhasil memberikan piala Citra untuk Teuku Rifnu Wikana sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik, mengalahkan rombongan nominator lain. NIGHT BUS menjadi film Indonesia terbaik 2017 versi Festival Film Indonesia.

Saya jelas penasaran. Sebagus apakah film ini ?

Ketika mendapat kesempatan berlibur ke ibukota dan ketemu bareng geng admin yang tersedia, kita akhirnya sepakat menonton film berdurasi 2 jam lebih ini di XXI Taman Ismail Marzuki. Setelah menang, film NIGHT BUS akhirnya ditayangkan kembali di layar lebar. Bersama si bocah (adik saya), dedek Lurah Uzi, papap Gentur, mamas aki Raafi, Ade, dan nenek Rifda, mulailah kisah NIGHT BUS ini ditayangkan dihadapan kami.

NIGHT BUS adalah pilem yang menyakitkan. Mencederai perasaan. Terinspirasi dari kisah nyata yang dialami salah satu pemainnya, film ini menyuguhkan perjalanan naik bis malam sekitar 12 jam menuju daerah konflik bernama Sampar, kalau tidak salah di sekitar Aceh Utara. Suatu kelompok masyarakat ingin mendirikan kedaulatan sendiri melawan pemerintah. Konflik berdarah tidak ada titik temu, negosiasi tidak berhasil. Namun tokoh Amang, sang supir bus tetap bersikukuh berangkat ke Sampar untuk menemui keluarganya. Dan belasan penumpang lain yang punya tujuan masing-masing. Jelas nggak ada yang ingin mati di dalam bis. Semua ingin sampai tujuan dengan selamat.

Awalnya saya pikir ini adalah film thriller kebanyakan. Namun ternyata pesannya jauh lebih kuat dari itu. Jatuhnya korban, kebiadaban manusia yang tidak manusiawi begitu melukai perasaan. Dan cukup realistis. Tidak ada happy ending yang benar-benar dicapai dalam kisah ini. Duka yang pekat dan nyawa terbuang sia-sia. Entah mereka terlibat atau tidak. Sesuai tagline film ini yang muncul di akhir durasinya : conflict doesn't choose its victims.

Perjalanan NIGHT BUS ini membuat ngeri. Teringat jaman kuliah dulu saya sering naik bis malam sekitar 14 jam untuk pulang ke kota Jambi dari Padang. Setelah menonton film ini saya bergidik. Saya tidak yakin sanggup untuk menempuh perjalanan selama itu lagi dengan bis. Kesuraman nan pekat dalam film ini, deretan aktor-aktor yang tidak perlu diragukan kepiawaiannya, musik pengiring yang klasik (dengan beberapa lagu melayu lawas yang disukai Papa Mama saya), dan pesan kuat dalam film ini rasanya pantas menjadikannya menerima Piala Citra di tahun ini. Mengalahkan kompetitor lain dengan budget pembuatan pilem dan promo yang lebih gilang gemilang.

Saya tidak terlalu hapal pemain dalam film ini, disutradarai oleh Emil Heradi, deretan pemain selain Teuku Rifnu, ada om Torro Margens, ada Dony Alamsyah, Lukman Sardi, Alex Abbad, dan tokoh supir bis yang bikin saya sedih, diperankan oleh Yayu AW Unru. Mumpuni sih ya aktingnya. Selain film terbaik NIGHT BUS memenangkan kategori Penata Busana Terbaik, Penata Rias Terbaik, Penyunting Gambar Terbaik, Penulis Skenario Adaptasi Terbaik, dan Pemeran Utama Pria Terbaik. Mengalahkan pesaing-pesaingnya yang punya pamor dan promo lebih mentereng. Darius Sinathrya, sang produser sempat kaget sendiri. Namun setelah menonton pilemnya, saya mengerti kenapa pilem ini merebut hati juri FFI 2017.

Menurut saya, 'kesederhanaan' suatu pilem dengan pesan yang kuat ternyata cukup mampu menjadi sesuatu yang outstanding. Dari sekian banyak genre pilem Indonesia, saya selalu pelit bin medit kalau disuruh ngeluarin duit buat nonton di bioskop. Namun saya tidak menyesal untuk NIGHT BUS. Benar kalau pilem ini pantas.

Disarankan penontonnya usia dewasa muda ke atas ya. Karena adegan kekerasannya cukup mengganggu saya. Saya benci peperangan. Namun mengingat apa yang pernah disampaikan George Orwell dalam 1984, perang bisa jadi salah satu solusi untuk kestabilan dengan cara yang memualkan. Entahlah. 

Terimakasih gengs tersayang sudah menonton bersama. Yuk, yang belum nonton. Kalau masih ada di layar lebar, cobalah disaksikan. Lumayan untuk membuat merenung, betapa manusia adalah bentuk predator paling sakaw sejagad raya.

Kan jadi kangen..eah...

No comments:

Post a Comment