December 10, 2017

Pantulan Lukisan

“...It’s best to be ruthless with the past. It ain’t the blows we’re dealt that matter, but the ones we survive...”

The Rose Madder, by Derek

Dalam menjalani hobi membaca dan menimbun, kita harus berpegangan pada prinsip bahwa : buku yang memilihmu. Nah pilihan ini membawa saya menjalani semacam 'petaka' yang terjadi dalam dua tahun belakangan setelah terkontaminasi buku-buku bacaan buatan penulis anyar yang selalu hits, tak lain tak bukan, oom Stephen King. Sepertinya blog ini sudah terlalu banyak membahas curhatan mengenai berbagai karya beliau. Ya sudahlah. Hal ini terjadi lagi ketika perburuan saya saat liburan lalu ke sentra buku bekas berhasil mempertemukan saya dengan buku terjemahan karya beliau yang sejatinya terbit tahun 2007 di Indonesia, berjudul ROSE MADDER : WANITA DALAM LUKISAN.

Bagi para pembaca novel fantasi ataupun supranatural maupun horor tentunya tidak asing dengan ide bahwa lukisan-lukisan tertentu bisa memiliki kemampuan magis berbahaya. Kita tentu ingat kisah legendaris Dorian Gray dalam buku yang ditulis mendiang Oscar Wilde. Buku yang saya belum baca dan miliki, hanya berbekal pengetahuan dari teman-teman pembaca lainnya. ROSE MADDER mengisahkan petualangan berbahaya seorang wanita dan kaitannya dengan sebuah lukisan antik yang dibelinya ketika melarikan diri dari cengkeraman kegilaan sang suami.

Rosie Daniels, atau Rosie McClendon telah menjalani pernikahan selama empat belas tahun dengan sesosok pria tidak manusiawi bernama Norman Daniels. Norman yang berprofesi sebagai detektif polisi, punya hobi buas, yakni menyiksa Rosie, dengan alasan tidak jelas. Penggambaran om King terhadap Norman ini membuat saya bergidik jijik. Memang argumentasi dalam pernikahan itu tidak bisa dihindari (sok tau banget, nikah aja belom..ups), tapi bukan diselesaikan dengan penyiksaan tidak manusiawi yang membuat kening berkerut jijik begitu membaca kisahnya.

Suatu peristiwa kecil membuat Rosie memiliki keberanian untuk kabur dan membawa ATM sang suami. Rosie pergi jauh ratusan mil dari rumahnya. Rosie ditolong dan dipertemukan dengan rombongan manusia lain yang masih punya hati nurani. Di suatu kota nan jauh dari Norman, Rosie berhasil menata hidup kembali. Meskipun jelas ada luka-luka yang tidak bisa disembuhkan, bahkan oleh waktu sekalipun.

Pertemuan Rosie dengan sebuah lukisan yang diberi judul Rose Madder memberikan Rosie sebentuk keberanian dan pencerahan yang memiliki sisi menakutkan tersendiri. Lukisan itu seolah hidup, hadir dalam benak Rosie, membantu sekaligus menggelisahkan Rosie seperti sesuatu yang mengancam di bawah permukaan air.

Norman naik pitam. Dengan kemampuan yang teruji bertahun-tahun, Norman mulai mencari keberadaan Rosie. Norman ini memang tidak manusiawi. Riak kemarahan, kendali diri yang mengerikan, ditunjang postur kuat, membuat dia gampang saja menghabisi nyawa orang lain. Banyak korban berjatuhan dalam kisah ini, membuat om King berhasil menghadirkan rasa paranoid sekali lagi dalam tulisannya. Siapa yang tau kalau suatu hari akan ada manusia sinting berkeliaran dan membunuhi orang tanpa rasa bersalah. Heuu, mengerikan.

Apa yang dialami Rosie membuat saya berpikir mengenai betapa beratnya trauma akibat kekerasan dalam rumah tangga. Memang kasus Rosie mungkin cuma satu di antara sekian banyak kasus yang tampaknya seperti permukaan gunung es. Tidak ada habisnya, miris, dan membuat ngeri.

Lantas apakah masalah Rosie selesai dengan bantuan lukisan Rose Madder ?

Saya cuma bisa menyimpulkan bahwa tidak ada yang bisa menolong sebaik diri sendiri. Dan dalam kisah ini, Rosie membuktikan itu. Jalinan dongeng gelap dan fantasi kelam, kemampuan Rose Madder tidak akan berhasil bila Rosie tidak memulai dan tidak memiliki ketetapan hati. Sulit, bayangkan saja empat belas tahun disiksa tanpa belas kasihan dalam suatu wadah yang harusnya dijalani dengan penuh kasih. Untung saja masih ada sisa-sisa kewarasan. Still, udah malas muji om King karena udah keseringan. Setelah ini harusnya menenangkan diri sejenak dengan pilihan bacaan yang tidak terlalu mengguncang mental.

Edisi terjemahan oleh GPU


“...The concept of dreaming is known to the waking mind but to the dreamer there is no waking, no real world, no sanity; there is only the screaming bedlam of sleep...”
- Stephen King -
 

No comments:

Post a Comment