December 26, 2017

The Origin of Species

“...May our philosophies keep pace with our technologies. May our compassion keep pace with our powers. And may love, not fear, be the engine of change...”
- Edmond Kirsch -
Darwin's
Topik mengenai kapan alam semesta di mulai dan kapan berakhirnya masih menjadi hits di kalangan banyak ilmuwan. Yah, meskipun sebagian besar populasi manusia sibuk dalam dunianya masing-masing dan cenderung abai akan hal tersebut, sesungguhnya pertanyaan ini secara konstan terus mengemuka seiring berjalannya peradaban. Bila mengulik sejarah, kita tahu bahwa manusia adalah makhluk yang pantang menyerah untuk berevolusi dan terus mencari. Apa ? Bagaimana ? Kemana ?

Ketuhanan adalah area sensitif yang masih menjadi sumber perang dan perdebatan tiada akhir sampai kiamat. Agama yang beragam di dunia nyatanya tetap mengemuka entah karena ajarannya atau karena pertentangan antar umatnya. Belakangan, perseteruan antara sains dan agama semakin meruncing. Dianugerahi otak dengan kemampuan luar biasa, manusia mulai menemukan batas-batas yang dulunya hanya khayalan menjadi semacam penjelasan ilmiah berdasar yang dapat dibuktikan. Tidak ada lagi yang percaya soal Teori Geosentris, dimana bumi adalah pusat alam semesta. Copernicus yang dulunya diberangus oleh Gereja karena dianggap kurang ajar dan membangkang dengan mengajukan Teori Heliosentris, kini malah amat dihargai karena kebenarannya. Sejarah tidak melupakan tentang masa-masa gelap dimana sains ditekan sedemikian rupa karena takhayul yang dibela mati-matian.

Dalam buku terbarunya, ORIGIN, Dan Brown mencoba meruncingkan kasus agama versus sains ini. Berkisah tentang ahli komputer jenius bernama Edmond Kirsch, mantan mahasiswa Robert Langdon - oom tokoh utama kita, yang menjerat mata dunia mengenai kapan dan bagaimana alam semesta dimulai serta kemana kita akan menuju. Penemuan Kirsch ini dianggap akan mengguncang fondasi keimanan terhadap semua ajaran agama. Apa yang akan diungkapkannya akan membawa badai pertentangan lebih lanjut antara agama dan sains. Kirsch adalah ateis kelas berat dan berusaha membuktikan bahwa campur tangan Ilahiah tidak sebegitunya dalam urusan penciptaan. Mengingatkan saya pada sudut pandang Stephen Hawking dalam bukunya yang berjudul THE GREAT DESIGN (sudah dicurhatkan di sini) - yang mana Hawking juga memilih ateis. Atau boleh dibilang sebagai pecinta sains sebagai agamanya yang baru - scientology. Sayangnya, sebelum presentasi mengguncang dimulai, Kirsch dibunuh secara live di hadapan jutaan pasang mata yang menontonnya baik langsung maupun online. Dan lagi-lagi om Langdon mesti terbawa rempong.

Apa sebenarnya yang ingin diungkapkan Kirsch ?

Sungguh akan jadi spoiler jahat bila saya tulis disini. Silakan baca sendiri kalau itu. Namun saya akan mengungkapkan poin menarik tentang kisah lari-larinya om Langdon kali ini.

Edisi terjemahan oleh Penerbit Bentang


Mengambil latar di Spanyol, kita dibawa melihat seni modern. Bangunan-bangunan, lukisan, karya seni kontemporer yang indah namun membuat pusing. Membaca ORIGIN terpaksa sambil cek mbah Google, supaya bisa membayangkan semua visual yang ditulis Dan Brown. Dalam ORIGIN, kita berurusan dengan kecanggihan teknologi sebagai bagian dari evolusi kemanusiaan. Dan memang, semakin kita lihat, teknologi benar-benar telah jauh berevolusi daripada kita sendiri. Sementara kita masih banyak yang dozed off dan sibuk berantem tak jelas di media sosial, di luar sana penelitian tentang modifikasi genetik, teknologi pintar, dan semua proses berbasis komputerisasi masih berlangsung. Kalau dulu lapar mesti belanja dulu ke pasar buat beli bahan makanan, sekarang tinggal mengetuk smartphone saja. 

Lantas hubungannya apa dengan agama ?

Rombongan ilmuwan yang diwakili oleh Kirsch dalam buku ini merasa bahwa agama tidak mampu menjawab dan menerima apa yang telah dipertanyakan dan dibuktikan oleh sains selama berabad-abad. Kefanatikan terhadap ajaran agama justru membawa banyak tindakan kekerasan sia-sia, yang dianggap Kirsch seharusnya tidak terjadi bila kita bersatu dalam sebuah kejelasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sains adalah jawaban. Tidak ada yang perlu mempertentangkan lagi karena buktinya bisa disodorkan di depan mata.

ORIGIN memang melawan semua agama. Tidak seperti karya Dan Brown sebelumnya, membaca buku ini cukup membuat bertanya-tanya, is this faith worth to preserve ? Namun seperti yang diungkapkan saat talkshow di Indonesian Reader's Festival 2017 lalu, nilailah buku ini sebagai fiksi. Tapi jelas, fiksi yang ini akan cukup menggugah kita untuk bertanya. Mempertanyakan dari mana kita dan akan kemana kita. Apakah kita cukup menjadi kumpulan atom karbon berkesadaran yang hanya lahir ke dunia, makan, berkembang biak, menjajah, lalu mati menjadi atom karbon lagi sebagai bagian dari daur energi yang kekal ? Well , boleh dijadikan variasi topik merenung yang lebih menarik ketimbang sibuk meratapi gosip artis.

Pembaharuan dan evolusi akan terus menerus terjadi. Tidak ada cara untuk menghentikannya. Memperlambatnya saja sudah sulit. Waktu memang punya kecepatannya sendiri, kita sudah jelas kalah. Tapi manusia selalu belajar, selalu beradaptasi. Survival of the fittest memang terlaksana. Nah, apakah kita akan diam di tempat atau menjalani langkah evolusi ? Perlu dicatat, saya bukan maniak Darwin. Dan jelas saya tidak sependapat dengan beliau dalam banyak hal. Namun, sebagai seorang pembelajar, kita harus mencoba mengambil pengetahuan dari banyak hal, dari banyak aspek. Menjadikan kita tau bahwa agama hadir tidak untuk dipertentangkan. Agama menjadi suatu kompas moral kesadaran akan apa yang telah kita capai lewat gemerlapnya ilmu pengetahuan, apapun yang menjadi keyakinan kita. Terlepas dari berbagai pandangan menyesakkan antara perseteruan antar agama, agama versus sains, dan berbagai jenis perseteruan lainnya. Dan saya yakin, manusia lah yang membuat ribut, bukan ajaran agamanya yang mengajarkan keributan. Tapi sejatinya, chaos adalah bagian dari evolusi. Chaos ada, entropi alias keteraturan itu pun juga ada. Tidak terbantahkan.

Berat ya ?

Ahahahaha, memang bukunya berat. Topik yang bisa membuat orang marah-marah. Tapi, belajarlah untuk jadi pembelajar. Suka atau tidak suka, ada yang bisa ditarik dari ORIGIN. Entah itu kemungkinan asal kita, apa yang kita tuju, atau sederhananya hanya soal kemanusiaan yang sepertinya makin lama makin hilang, mungkin efek dari evolusi itu sendiri.

Terima kasih pada penerbit, penerjemah, dan editor yang telah memunculkan buku ini. Sungguh bacaan yang cukup baik untuk mengajak belajar dan memakai fungsi otak besar. ^^


“...Remember death. Even for those who wield great power, life is brief. There is only one way to triumph over death, and that is by making our lives masterpieces. We must seize every opportunity to show kindness and to love fully...”
- Winston Churchill - 


No comments:

Post a Comment