January 21, 2018

Bara dalam Abu, Obor dalam Kelam

"...Most people are nothing but glimmers in the great darkness of time. But you are no swift-burning spark. You are a torch against the night -- if you dare to let yourself burn..”
- Cain -


Melirik kepada genre young adult yang memang sedang hits beberapa tahun belakangan dalam dunia perbukuan, saya juga ikut-ikutan membaca beberapa buku dari penulis debut dalam ranah genre tersebut. Ada beberapa yang bagus, namun ada juga yang mengecewakan -- kalau mau baik, bisa dibilang yah begitu-begitu aja. Sebagai pembaca nan nyinyir, fenomena ini belakangan sering menghampiri saya. Tidak mudah menyenangkan diri ini dalam ranah fantasi young adult kekinian. Untungnya, trilogi AN EMBER IN THE ASHES (baru nongol dua buku) bikinan Sabaa Tahir sepertinya cukup memuaskan.

Berkisah di negeri yang dikuasai oleh kaum yang disebut Martial, dengan kekuasaan dalam ranah kerajaan diktator yang disebut Imperial, seperti biasa benih-benih pemberontakan terjadi di antara kaum pinggiran - budak - marjinal yang disebut kaum Scholar. Memiliki latar campuran gaya arab-persia ditambah hawa padang pasir, benteng, pemukiman dan perang, serta drama pendidikan prajurit, plus perebutan kekuasaan, kisah AN EMBER IN THE ASHES menawarkan konflik yang cukup menarik untuk disimak.

Untuk menjadi Kaisar, seorang prajurit harus dilatih dalam suatu benteng bernama Blackcliff selama bertahun-tahun dengan metode kaderisasi tidak manusiawi. Elias Veturius, jagoan kita dari klan Veturius harus memenuhi ekspektasi ini, berdampingan dengan sahabat baiknya, Helene Aquilla. Masalah hadir dalam wujud seorang gadis bernama Laia, budak Scholar yang menyusup ke Blackcliff untuk mencoba membebaskan kakaknya, Darin, yang dianggap memiliki pengetahuan berbahaya untuk meruntuhkan tirani Imperial. Laia dibantu oleh cowok entah dari mana -- katanya sih dari pemberontak Ressistance, bernama Keenan.

Edisi terjemahan oleh penerbit Spring


AN EMBER IN THE ASHES seperti biasa menyuguhkan kehebohan aksi dari Laia sebagai tokoh utama bersama Elias. Tidak akan berpanjang-panjang, saya sejujurnya agak sebal karena tidak ada tokoh dalam kisah ini yang menjerat saya, ketika membaca sekian halaman. Namun saya dipulihkan oleh kekuatan Helene Aquilla, si gadis setrong cetar yang mesti menanggung takdir berat dan tercabik dalam perasaannya sendiri terhadap Elias. Kesian diprenjon gitu dia. Untungnya Helene ini bad ass, sanggup berdiri dan mengendalikan kerusakan. Helene yang membuat saya bertahan untuk melanjutkan membaca buku keduanya, A TORCH AGAINST THE NIGHT.

A TORCH AGAINST THE NIGHT menunjukkan penjelasan yang lebih menarik mengenai plot dan kemungkinan jalan kisah ini. Dalam pelarian, Elias dan Laia menjumpai fakta dan rincian mengenai apa yang sebenarnya mereka hadapi, beserta takdir yang menunggu di depan. Nah, di buku kedua ini saya cukup senang bisa menemukan tokoh pria yang bisa dikagumi, jatuh kepada wakil Helene, Avitas Harper, pria kalem berbahaya nan tidak selicik kelihatannya.

edisi terjemahan oleh penerbit Spring

Kemunculan masalah sihir beserta penjelasannya dalam kisah ini mengingatkan saya pada seri YA lainnya, yakni seri REBELS OF THE SANDS karya Alwyn Hamilton (bisa dicek curhatannya di sini) -- yang tidak diterjemahkan disini. Meskipun penjelasannya terkesan agak terburu-buru dan rancang bangunnya kurang kokoh, ini cukup menjadi poin menarik dari jalan cerita trilogi ini. Kebrutalan yang tidak diperhalus juga menarik, berasa ada aura A SONG OF ICE AND FIRE - nya (bikinan opa GRR Martin yang entah kapan kelarnya), dalam versi yang lebih sederhana. Mungkin karena dibuat dalam ranah YA jadi tidak sebegitu epik, tapi jelas menarik.

Bahasa yang digunakan juga ga pusing. Dan untunglah ada Helene (plus Harper) yang membuat saya bertahan meskipun cemas karena kasian melihat beban tanggung jawab yang mesti ditanggungnya. Bodo amat sih sama Laia-nya, pening melihat romansanya (Elias atau Keenan, apalah). Untunglah tak banyak, fokus konflik kisah ini tidak tertutupi oleh menye menye itu, dan jelas masalah yang jauh lebih besar masih menanti di depan, di luar perebutan kekuasaan di Imperial.

Kisah di buku pertama dan keduanya ini jelas menggambarkan pemilihan judul nan puitis dari sang penulis. Para anak muda ini adalah bara yang tersisa dari abu kekejaman tirani, dan nantinya mereka akan menjadi obor dalam menerangi kelamnya masa berat mendatang dalam menghadapi bahaya lebih besar diluar perang dan pemberontakan. Bahaya macam apa itu ? Silakan baca sendiri.Seri ini cukup direkomendasikan bagi pembaca dewasa muda yang menggandrungi genre fantasi dalam realitas berbeda, ditambah sedikit bumbu romansa, dalam wadah YA. Cukup menyenangkan dan tidak bikin bosan.

PS : bolehlah dipilemkan, tapi mesti pol-polan dan pinter pilih pemain (lagilagi nyinyir).

“...There are two kinds of guilt. The kind that's a burden and the kind that gives you purpose. Let your guilt be your fuel. Let it remind you of who you want to be. Draw a line in your mind. Never cross it again. You have a soul. It's damaged but it's there. Don't let them take it from you...”
- Sabaa Tahir -

No comments:

Post a Comment