January 11, 2018

The ButTearling Effect

“...Hell? Hell is a fairy tale for the gullible, for what punishment could be worse than that we inflict upon ourselves? We burn so badly in this life that there can be nothing left..”
- Erika Johansen -

Di era kebebasan literasi dengan berbagai genre, saya masih setia dengan fantasi. Meskipun kadang suka selingkuh, namun yah tidak dapat dipungkiri, genre ini menjadi dasar kecintaan saya pada dunia perbukuan. Nah, ruang lingkup fantasi yang luas ini sudah diakomodir dengan kehadiran buku-buku dengan jalur fantasi yang lebih rumit, gelap, dan dewasa. Salah satunya adalah trilogi THE QUEEN OF THE TEARLING, debut dari Erika Johansen.

Buku pertamanya berjudul THE QUEEN OF THE TEARLING menyuguhkan sensasi fantasi campuran antara perang kerajaan, distopia, sihir, dan kekacauan realitas. Tokoh utama, sang Ratu bernama Kelsea Glynn, mesti menyelamatkan Kerajaan Tearling dari ancaman invasi Ratu Merah dari Kerajaan Mortmesne. Ya memang ini pertarungan cewek-cewek, tapi percayalah, level kebrutalannya tidak kalah mengerikan. Ada kengerian mental dan fisik yang pekat dalam kisah ini. Namun dalam curhatan kali ini saya tidak akan membahas lebih lanjut mengenai buku pertama, soalnya udah pernah dicurhatkan (coba liat di sini).


Buku keduanya yang berjudul THE INVASION OF THE TEARLING berkelindan dengan kejadian bolak-balik waktu. Istimewanya trilogi ini adalah masalah timeline dan latar yang tak biasa. Kisah Tearling terjadi di suatu lokasi yang disebut sebagai London Baru. Diketahui kemudian bahwa seorang lelaki bernama William Tear adalah pendiri kerajaan ini, dengan awal mula cerita yang berakar dari dunia yang kita kenal. Secara magis, William Tear membawa ribuan orang melakukan 'penyeberangan' dengan melewati semacam 'robekan' semesta ke suatu tanah asing yang penuh misteri dan kelindan sihir. Tanpa teknologi yang kita kenal. Sejarah ini disebut sebagai Penyeberangan. 

Sampai sini boleh berhenti, karena saya ragu ini bisa spoiler atau bukan.

THE INVASION OF THE TEARLING berakhir dengan kesediaan Ratu Kelsea menyerahkan diri pada Ratu Merah untuk memberikan waktu gencatan senjata selama tiga tahun pada Tearling. Tentunya manuver berbahaya ini membuat Lazarus Mace, Pen, Elston, Dyer, dan semua pengawal setia Kelsea merasa terpukul. Tidak ada bahagia-bahagianya ini buku kedua. Lebih kepada pemahaman dan penjelasan alur waktu bolak balik dan misteri sihir dibalik safir Tearling. Kemunculan Row Finn nan misterius diikuti aura gelap mengerikan. Tokoh Fetch, si pencuri kharismatik juga masih menyimpan misteri.

Dalam buku terakhir, THE FATE OF THE TEARLING, dengan tebal edisi terjemahannya sekitar 500 halaman menuju 600, kita akhirnya memperoleh penjelasan. Tidak secara gamblang memang. Tapi dalam kisahnya, Kelsea yang menjadi tahanan Ratu Merah mengalami kilas balik waktu kembali ke masa awal pasca Penyeberangan. William Tearling, Jonathan Tearling (putra William), dan sejarah gelap di masa itu. Dipahami bahwa William Tearling ingin menciptakan utopia baru di wilayah yang disebutnya sebagai London Baru. Tanpa kekerasan, tanpa mesin dan elektronik dan segala kemajuan teknologi yang kita tahu. Yang ada hanya buku. Namun, ide ini menghadapi tantangan dari beberapa kalangan, bahkan mesti berurusan dengan sihir gelap yang merongrong dataran London Baru.

Apa pentingnya kilas balik ini dalam nasib Tearling ?

edisi terjemahan oleh Mizan Fantasi


Kelsea pada akhirnya harus memilih. Memilih garis waktu untuk memperbaiki kesalahan yang ditanggung di masa kini. Namun, selalu ada efek kupu-kupu yang terjadi. Dalam istilah fisika modern, efek kupu-kupu (the butterfly effect) adalah suatu kondisi dimana perubahan sekecil apapun di masa lalu dapat memiliki dampak besar di masa depan. Seperti yang dibilang Hermione Granger, do not mess with time. Waktu bukanlah zona ramah. Konsekuensinya epik dan tidak ada komprominya (untung kita belum menemukan mesin waktu). Kelsa memilih zona waktu untuk memperbaiki keadaan. Lalu, apa yang mesti dia relakan ?

Nah, beberapa pembaca lain memiliki ketidaksukaan pada akhir kisah ini. Tapi bagi saya, magic always comes with a price. Apa yang terjadi setelah pilihan yang dijalani Kelsea adalah suatu konsekuensi dan bentuk efek kupu-kupu dari perubahan keputusan di masa lalu yang diperbaiki. Apakah adil ? Apakah happy ending ? Entahlah, tapi saya cukup mengerti meskipun ada sedikit kesedihan manis di sudut benak setelah membaca konklusi trilogi ini. Tokoh favorit saya selain Kelsea, jelas Lazarus Mace, yang saya gambarkan sebagai campuran antara Sirius Black dan Prof Alastor Moody. Selain itu, Bapa Tyler juga mendapat tempat tersendiri, semacam Prof Remus John Lupin dengan versi lebih ringkih uzur. Tolong maafkan referensi saya, sebagai potterhead luar dalam, hal ini tak bisa dihindari.

Yang jelas, trilogi THE QUEEN OF THE TEARLING ini tidak menawarkan wanita-wanita yang perlu diselamatkan, tidak ada menye-menye, ada kepedihan manusiawi, perasaan buruk dan emosi gelap yang somehow realistis. Entah ada istilah pahlawan atau tidak dalam kisah ini. Reasons are there. Ada kisah dan akibat. Dan seri ini menyuguhkannya dengan kisah yang cukup apik plus recommended. Romansa ? Ada, tapi bukan jadi fokusnya dan hadir begitu saja tidak dipaksa. In not nauseating way, bukan fokus kisah. Isu agama dan teknologi pun disuguhkan. Pada akhirnya trilogi ini menghadirkan kepedihan rombongan orang yang berjuang untuk hidup yang lebih baik dalam perspektif masing-masing, dan akhirnya berbenturan satu sama lain, lalu mencari cara untuk memperbaiki keadaan. Kinda familiar, right ?

Kalau memang jadi dipilemkan, mohon maaf sekali, saya rasa Emma Watson bukan pilihan aktris yang tepat untuk Kelsea Glynn. Hahahaha, saya berpikir ada beberapa aktris lain yang lebih suitable. ^^



"...Our species is capable of altruism, certainly, but it is not a game we play willingly, let alone well..."

No comments:

Post a Comment