February 14, 2018

Burung-Burung Nyasar

"...Apa arti kata pribadi dan keyakinan dan harga diri dan nasion dan ibu dan segala istilah abstrak itu ? Apa beda seni kesatria dan nafsu membunuh ? Apa perbedaan pahlawan kemerdekaan yang gugur dan serdadu penjajah yang mampus ? Nama harum, noda nasib ? Semua jenderal yang menang disebut pahlawan, semua jenderal yang kalah disebut penjahat perang. Oleh siapa nama harum dan pujaan itu sebetulnya dibutuhkan ? Oleh yang mati atau yang menjadi ahli waris atau kelompok yang membutuhkan legitimasi ? Pemerkokoh ideologi yang ditentukan apriori...?"
- Kapten Setadewa -

Ploceus manyar

Beberapa waktu lalu, saya mendapat hadiah buku dari papaGentur alias papagent, bos saya di geng admin. Hadiah berupa roman Indonesia berjudul BURUNG-BURUNG MANYAR karya Y.B Mangunwijaya. Jenis bacaan yang tidak lazim untuk penggiat negeri dongeng macam saya.

Eksperimen papagent saya jalani dengan waktu cukup lama dari kebiasaan membaca saya. BURUNG-BURUNG MANYAR adalah roman berlatar tahun 1934-1975, mencakup tiga zaman penting dalam sejarah negeri ini, yakni zaman penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, dan zaman awal pembangunan kemerdekaan. Roman ini menjadi menarik, karena jelas, kisah yang terbit aslinya tahun 1981 ini menyuguhkan sudut pandang yang berbeda mengenai kaidah kemerdekaan dan kisah kasih anak manusia dalam tutur bahasa yang khas sastra Indonesia non kekinian, halus memikat. Tak heran BURUNG-BURUNG MANYAR sudah diterbitkan juga di negara-negara lain.


Bagaimana kesan saya akhirnya ?

Bukan kisah cintanya yang dominan di sini, tapi pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam diri saat membaca nukilan kalimat-kalimat yang jadi perenungan tokoh-tokohnya. Kapten Setadewa, seorang blasteran ningrat dan Belanda yang membenci Jepang sekaligus meragukan republik, menyorongkan pernyataan menggelitik. Apakah negeri ini siap merdeka ? Apakah bangsa dengan mental kuli ini siap menghadapi dunia ?

Sudut pandang seorang 'pengkhianat' negeri yang meneguhkan pertanyaan kembali, apa hakikat kemerdekaan ini bagi rakyat jelata. Siapa yang sesungguhnya merdeka ? Hal ini mengusik saya cukup ngena, ditambah ceramah singkat dari Wakil Menteri ESDM yang bertandang ke kampus saya tempo hari, soal human resources dan human capital. Bangsa kita berada pada kondisi mental yang masih mengerjakan apa yang disuruh, bukan belajar bertanggung jawab atas keputusan dan keinginan sendiri. Kepedihan dalam kesederhanaan rakyat jelata di masa-masa perjuangan kemerdekaan begitu mengusik. Cuma ingin hidup tenang, bisa bertani, bisa kawin, beranak, sehat, jelas sumber penghidupan. Tidak peduli negara ini Hindia Belanda atau bukan. Kemirisan dan kepolosan yang menyakitkan.

Kapten Setadewa mengalami kekecewaan dan pergolakan batin yang tiada habisnya. Mencintai perempuan bernama Larasati nan mandiri dan pro kemerdekaan. Larasati belakangan menjadi ahli biologi yang meneliti kehidupan burung-burung, dan menjadikan falsafah burung-burung manyar atau Ploceus manyar sebagai perlambang kisah pelik ini. Ego lelaki, namun keikhlasan untuk melepaskan dan menerima kenyataan dengan kesatria, digambarkan dengan bersahaja.

cetakan keenam oleh Kompas

Kepiawan bahasa yang apik oleh YB Mangunwijaya membuat kisah beralur lambat ini menjadi memikat dengan cara yang tidak biasa. Mungkin sejatinya selera saya saja yang tua. Tapi jujur saja, roman-roman Indonesia lama dengan kehalusan budi bahasanya memiliki tempat tersendiri di hati saya. Teringat SALAH ASUHAN, LAYAR TERKEMBANG, TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJK, dan lainnya yang mengungkapkan cinta kasih dengan cara yang tidak terburu nafsu dan semurah bala-bala pinggir jalan. Kepatutan perilaku dan tata krama yang melekat mungkin bisa membuat bosan, namun keklasikan inilah yang sejatinya menjadikan nilai kisah ini meningkat. Penggunaan kosakata yang bervariasi (beberapa istilah dalam bahasa Jawa) menjadikan kalimatnya lebih kaya dan tidak pasaran.

Isu kebangsaan, nasionalisme, politik, baik yang jelas maupun tersamar dalam pergolakan batin para tokohnya, menempatkan banyak perenungan selama dan sesudah membaca kisah ini. Rasanya pikiran saya terlalu dangkal selama ini. Perspektif sempit nan seenaknya soal kehidupan. Tentang kemerdekaan negeri dan keributan problem jaman kini yang pada hakikatnya serupa saja dengan jaman dulu, namun wujudnya dikemas baru akibat modernisasi. Tanah air yang mana ? Ibu pertiwi yang mana ?

Terimakasih pada papagent untuk bacaan ini. Saya tidak bisa merekomendasikan ini kepada kalangan umum, tapi bila kebetulan Anda memilih untuk 'nyasar' dari jenis bacaan yang biasa, maka BURUNG-BURUNG MANYAR dapat dipilih menjadi tempat nyasar yang berfaedah.


"...Tanah air ada di sana, di mana ada cinta dan kedekatan hati, di mana tidak ada manusia menginjak manusia lainnya... "
- YB Mangunwijaya -

No comments:

Post a Comment