February 26, 2018

Smedry Semaput Semaunya

“...You want to be a better person? Go listen to someone you disagree with. don't argue with them, just listen. It's remarkable what interesting things people will say if you take the time to not be a jerk...”
- Alcatraz Smedry -



Di sela kehebohan duniawi harian, saya ternyata sempat juga membuang waktu dengan bacaan nirfaedah mengesalkan mengenai seorang abege cupu bernama Alcatraz Smedry dan keluarga besar Smedry-nya yang agaknya punya kecenderungan berbuat ribut dan menarik masalah. Keluarga Smedry ini jelas tidak masuk di akal. Masalahnya mereka adalah bangsawan ternama dari Negeri Merdeka, punya Bakat misterius, Oculator (ahli lensa) handal, dan kemampuan membuat rusuh di atas rata-rata manusia normal. Dalam dua buku sebelumnya, Alcatraz harus menghadapi rombongan Pustakawan Durjana yang ingin menguasai Bakat mereka (udah dinyinyirin di sini).

THE KNIGHTS OF CRYSTALLIA, buku ketiga dari seri kampret ini mengisahkan mengenai masalah yang terjadi pada kerajaan Nalhala, juga kemungkinan adanya pengkhianatan oleh orang-orang dari Crystallia, tempat asal kesatria pelindung keluarga Smedry. Di petualangan bodo ini, seperti biasa, pembaca dibuat kesal dengan kelakuan Al dan rombongan keluarga besarnya, ditambah umpatan serta benda unik konyol yang membuat pingin lempar sendal.

Buku keempat berjudul THE SHATTERED LENS, membawa cuilan rahasia-rahasia mengenai Bakat, Kutukan Bangsa Incarna, dan apa yang sebenarnya diinginkan para Pustakawan Durjana. Al harus menghentikan serangan terhadap kerajaan Mokia, dan perlahan takdirnya terkuak, dibantu oleh sepupu gilanya yang lain dan bom boneka beruang (tak usah tanya kalau aneh).

Edisi terjemahan oleh Mizan Fantasi

Edisi terjemahan oleh Mizan Fantasi

Buku terakhir berjudul THE DARK TALENT nyatanya benar-benar bikin habis kesabaran. Setelah berbagai kekonyolan keji di buku-buku sebelumnya, Al malah menyuguhkan eksekusi yang luarbiasa kurang ajar. Saya jadinya melempar buku ini ke kasur secara harfiah saking kesalnya. Misteri Sang Juru Tulis, hasrat terdalam ayah Al, Attica Smedry, keinginan manis dari ibu Al, Shasta Smedry, serta perseteruan heboh di Perpustakaan Agung, dilepehkan begitu saja oleh Brandon Sanderson. Luar biasa sial. Saya sampai japri mba Dyah, sang editor, mencak-mencak tak karuan karena kekampretan kisah ini.

Sulit mengungkapkan jalan ceritanya dalam sebuah nyinyiran tanpa spoiler. Namun perlu dijelaskan bahwa Brandon Sanderson menuliskan kisah ini dengan cara yang tidak biasa. Terkesan seperti novel fantasi middle grade nan reguler dengan kekacauan spektakuler. Lalu berakhir dengan ending bikin depresi yang membuat emosi meninggi. Om Sanderson nge-troll dengan berjaya. Meninggalkan kesebalan bertingkat bagi korbannya, para pembaca.

Edisi terjemahan oleh Mizan Fantasi

Saya sekali lagi mengapresiasi mbak Nana, sang penerjemah, untuk kumpulan lelucon tidak lucu menyebalkan ini. Tata bahasa seenaknya. Penamaan alias penomoran bab sesukanya. Benar-benar patologis. Om Sanderson memang sudah memperingatkan pembacanya dengan nyeleneh, tapi tak dinyana, tetap saja saya lempar sepatu kuda. Pujian juga saya berikan kepada ilustrator dan pendesain sampul depan buku yang konsisten. Sekonsisten kelakuan Om Sanderson dalam menyiksa pembaca. Dengan ini saya resmi menempatkan Om Sanderson ke dalam kumpulan penulis-penulis menyebalkan yang hobi menyiksa. Selamat ya Om !

Apakah kisahnya benar-benar berakhir di buku kelima ini...?

Well, sulit sekali untuk gak bablas curhat. Nyatanya, akan ada potongan surat menyebalkan yang muncul menutup kisah dan membuat kita menunggu lagi, entah apa yang kejadian. Dan plis, sudah cukup pakai sudut pandang si Al, lemes saya, lelah, ganti aja, sebal. Tolong cepetan ya Om, jangan terlambat kayak Kakek Leavenworth Smedry.

Sekian.
Direkomendasikan untuk pembaca yang butuh ketawa namun tak enggan dianiaya. Helah.

PS : untuk nulis curhatan ini saja, saya mesti melewati cobaan berupa curi-curi waktu, koneksi internet ilang timbul, dan listrik mati, warbyasa.


“...The Talents aren’t alive—no more than your conscience is alive, or your anger is alive. You may feel like these things have a life to them, but that’s dangerous—it makes them external, Al. Like you don’t have responsibility for them. Your Talent is a piece of you...”
- Leavenworth Smedry -

No comments:

Post a Comment