February 23, 2018

Tortilla Row

“...It is a fact verified and recorded in many histories that soul capable of the greatest good is also capable of the greatest evil. Who is there more impious than backsliding priest? Who more carnal than a recent virgin? This, however, may be a matter of appearance...”



Katanya sih ya, sebagai pembaca nan baik, ada kalanya kita harus melipir ke luar dari jenis bacaan yang biasa dibaca. Nah, saya yang mulai sok klasik, tahun 2017 lalu mencoba membaca OF MICE AND MEN (curhatannya ada di sini) karya John Steinbeck, yang didaulat sebagai penulis yang cukup berpengaruh di masanya, hingga masa kini. Steinbeck juga telah meraih Nobel sastra tahun 1962, jelas prestisius. Sejauh ini, sesuatu berbau Nobel yang telah saya baca cuma THE OLD MAN AND THE SEA- nya Ernest Hemingway, sekian belas tahun lalu. Menggugah dan bikin nangis.

Jujur saja, baca bukunya Steinbeck itu agak nganu gimana gitu ya. Novelnya gak tebal. Plotnya biasa aja. Latarnya juga tidak meriah. Saya bahkan sering gagal paham ini mau dibawa kemana kisahnya. Namun yasudahlah, anggap saja pengalaman membaca nan lebih bervariasi.

DATARAN TORTILLA atau dalam judul aslinya TORTILLA FLAT, adalah sebuah kisah biasa saja mengenai rombongan pria dalam paisanos (istilah untuk countrymen di daerah itu) yang menumpang dalam sebuah rumah milik Danny, di sebuah daerah di Monterey, California. Buku ini terbit tahun 1935 dan mengambil masa-masa sulit pasca Perang Dunia pertama. Pria-pria ini terkesan pengangguran dengan asal campuran Meksiko-Spanyol-Indian-Kaukasia yang hidup tak jelas dalam belas kasihan sang pemimpin, Danny. Belakangan, banyak situasi greget nan membuat pembaca jadi tidak habis pikir. Kenyataannya DATARAN TORTILLA dianggap menjadi versi berbeda dari kisah Kesatria Meja Bundar (Kisahnya King Arthur dari Inggris masa lalu). Metafora memang, dan cukup bikin bingung.

edisi terjemahan oleh Pustaka Jaya

Diterjemahkan oleh eyang Djokolelono (penulis gaek idola saya), kisah para paisanos ini dituturkan cukup baik dengan akhir yang miris. Mirip dengan akhir kisah OF MICE AND MEN, namun tidak ada yang bisa ditangisi dalam penghujung ceritanya. Hanya tersisa penyesalan dari para paisanos dengan kehampaan menggantung. Agak pusing memang. Khas klasik beginian.

CANNERY ROW, adalah novel lain dari Steinbeck yang terbit tahun 1945. Masih berlatar di daerah yang sama dengan TORTILLA FLAT, yakni Monterey, California. Daerah tepi laut ini berubah menjadi tempat industri pengalengan ikan. Kehidupan harian orang-orang di sini yang menjadi fokus kisah. Sederhana saja, serombongan anak muda tunawisma serabutan dipimpin oleh Mack, berusaha memberi kejutan ulang tahun untuk Doc, si ilmuwan kelautan yang selalu membantu mereka, meskipun Mack dkk dianggap sebagai sampah masyarakat. Namun kita tau, niat baik tidak selalu berujung pada eksekusi akhir yang baik pula.

edisi terjemahan oleh Bentang Pustaka

Diterjemahkan oleh Eka Kurniawan (yang karyanya belum saya baca satupun), CANNERY ROW menyuguhkan lapisan pinggiran masyarakat yang luput dari kemegahan duniawi. Bagaimana usaha seorang pedagang Tionghoa mempertahankan toko kelontongnya, usaha remang-remang disiplin dari seorang mucikari, kehidupan anak-anak pinggiran, dan problem sederhana tapi menyedihkan dari semua tokohnya. Steinbeck boleh dibilang menjadikan buku ini sebagai suguhan miris tentang kehidupan. Tidak semua berjalan sesuai yang kita mau, dan ada banyak kejadian di luar sana yang kesannya tidak penting namun ternyata berkaitan dengan kemanusiaan kita sendiri.

Whew, saya tidak bisa menyarankan membaca novel-novelnya Steinbeck kepada semua orang. Mengapa demikian ? Karena saya sendiri pun bingung mau memberikan penilaian. Tapi entah kenapa, ada 'rasa' tertinggal yang membuat kisah-kisah puluhan tahun lalu ini selalu punya tempat dan jelas berkesan. Kutukan klasik mungkin. Namun, bila ingin tipikal bacaan yang berbeda untuk melihat sedikit variasi kedalaman perasaan dan penilaian kemanusiawian, bolehlah melipir pada karya-karya Steinbeck. Mungkin akan tambah pusing atau justru tercerahkan. ^^


“...It has always seemed strange to me...The things we admire in men, kindness and generosity, openness, honesty, understanding and feeling, are the concomitants of failure in our system. And those traits we detest, sharpness, greed, acquisitiveness, meanness, egotism and self-interest, are the traits of success. And while men admire the quality of the first they love the produce of the second...”
- John Steinbeck -

No comments:

Post a Comment