February 22, 2018

Yang Tak Terpisahkan

“...There isn't one single thing that will end unwinding. It will take a hodgepodge of random events that come together in just the right way and at just the right time to remind society it's got a conscience..."
- Sonia -



Mengalami kurang tidur demi menyelesaikan membaca buku terpaksa tidak bisa dihindari untuk kasus menyelesaikan seri favorit. Dalam kasus ini saya berurusan dengan UNDIVIDED, buku final dari UNWIND DYSTOLOGY, karya Neal Shusterman. Bulan lalu saya sudah menyelesaikan UNSOULED (curhatan di sini), dan agak tertohok. Lantas apakah UNDIVIDED memberikan akhir yang memuaskan ?

Saya meneteskan airmata di beberapa bagian kisah. Sedih berpisah dengan para tokohnya, sedih karena pahitnya ironi kemanusiaan dan apa yang para remaja ini alami, dan jelas ingin berteriak lantang pada semuanya : what have you done ? Menjadikan manusia sebagai objek daging dan organ semata dalam bentuk komoditas komersil yang bisa dipesan seenaknya telah mendorong kengerian mencekam pada jalinan kisah yang membuat diri ini megap-megap.


UNDIVIDED diawali dengan perjalanan kembali Risa dan Connor di tempat Sonia, si wanita tua pemegang rahasia besar untuk menghentikan sistem unwinding. Bersama Grace Skinner, kebenaran yang menguak membuat mereka berusaha untuk menghentikan kegilaan ini segera. Sementara itu, Lev berusaha meyakinkan kesatuan suku-suku Arapache untuk menolak proses unwinding dan memberikan dukungan bagi para calon unwind yang melarikan diri. Di lain tempat, Starkey masih egomaniak dengan kegilaannya mendorong rombongan unwind yang berlindung kepadanya untuk menyerang secara brutal semua tempat pemanenan unwind. Chaotic, Starkey mewakili itu semua. Namun ada pihak-pihak lebih berkuasa yang mengendalikan semua kegilaan ini. Perjuangan pemberontakan bertumpu pada kelihaian Hayden dan Bambi, yang jelas akhirnya mesti berkolaborasi untuk tidak lagi menumpahkan darah sia-sia.

Bagaimana seri ini berakhir ?
Pedih, manis, sedikit melegakan. Dan percayalah, semua orang berperan. Sejak dari buku pertama, om Shusterman menjalin bagian-bagian macam jaring laba-laba yang ternyata berhubungan. Tokoh yang kita pikir hanya sekedar petugas taman, justru memegang peran penting. Sungguh cara penulisan yang tidak biasa. Rombongan tokoh utama kita : Connor Lassiter, Risa Ward, Lev Garrity / Mahpee Kinkajou (yep, nama baru Lev lagi), Hayden, Camus Comprix, Grace Skinner, hingga tokoh antagonis pun punya peran. Semua punya resolusi. Dan kita akan tau siapa sesungguhnya penjahat dalam kisah pedih ini.

Edisi ini yang saya punya, cakep sampulnya

Rangkaian kisah ini menerangkan kepada kita betapa mengerikannya kelakuan manusia. Demokrasi bisa jadi pisau bermata dua bila tidak ada yang berani berbicara tentang kebenaran. Proses unwinding yang memisahkan manusia seolah daging kurban dan dibagi-bagi kepada pembeli tertinggi, terjadi karena ketakutan tak berdasar dan diamnya orang-orang yang seharusnya berbicara. Pedih sungguh. Kerasnya tonjokan tersembunyi dalam tulisan om Shusterman membuat tercenung dan gagal move on. Mungkin inilah yang membuat kisahnya terkesan underrated. Muatan politis dan kegamblangan kelakuan nirmanusiawi dari manusia itu sendiri yang menjadikan orang-orang malas menyentuh cerita ini.

Dan saya ikhlas memberi lima bintang penuh untuk UNDIVIDED, dan menjadikan UNWIND DYSTOLOGY sebagai seri tak terlupakan, amat layak baca, serta direkomendasikan. Mungkin dunia ini memang sudah tua, tapi tidak berarti jiwa kita juga jadi beku dan sok ingin memisahkan diri dari kehidupan sehari-hari. Apa bedanya kita dengan daging kiloan kalau demikian ?

Tanpa berharap pada edisi terjemahan, I took the leap. Edisi internasional punya sampul buku amat bagus dan collectible. Sejalan dengan isinya yang tak terlupakan.

“...We must always be careful of the actions we take, for there are always unintended consequences. Sometimes they are serendipitous, other times they are appalling, but those consequences are always there. We must tread lightly in this world...until we are sure of foot...” 
- Neal Shusterman -



No comments:

Post a Comment