March 28, 2018

Hukum Hutan Hujan

“...We are beasts, you know, beasts risen from the savannas and jungles and forests. We have come down from the trees and up out of the water, but you can never, ever fully remove the feral nature from our psyches...”
- Yasmine Galenorn -



Paska petualangan sejenak di ibukota, saya pulang dan mendapati keinginan absurd untuk keluar rumah dan mengabaikan waktu istirahat yang berharga. Sedang tidak membaca, saya mengecek situs XXI dan menemukan bahwa pilem berjudul JUNGLE sedang tayang. Tanpa pikir panjang, saya melipir untuk pergi menonton.

JUNGLE adalah pilem non komersil yang diangkat dari kisah nyata seorang warga negara Israel bernama Yossi Ghinsberg yang tersesat di hutan Bolivia di tahun 1981. Diperankan dengan totalitas oleh Daniel Radcliffe, pilem ini berhasil membuat saya menangis dan setelahnya kabur ke pantai untuk menenangkan diri.

Mas Dan Rad memang memilih pilem-pilem tak biasa setelah lulus Hogwarts. Dalam suatu wawancara, mas Dan merasa sudah kaya secara materi via semesta Potter, dan setelahnya dia bebas memilih pilem yang dia suka, terlepas masalah honor. Kita tau bahwa HORNS, KILL YOUR DARLINGS, WHAT IF, SWISS ARMY MAN, bukan pilem kebanyakan, dan tidak membuat heboh antrian bioskop.

Kisah dalam JUNGLE adalah kisah survival yang terjadi ketika Yossi, Marcus, dan Kevin diajak menempuh kedalaman hutan Bolivia oleh seorang lelaki misterius bernama Karl. Dengan iming-iming petualangan, mendulang emas di sungai, dan kemungkinan menemukan suku Indian yang hilang, tiga sahabat ini terbujuk untuk menempuh pekatnya hutan. Hanya dengan panduan Karl.

Dari awal saya udah ngerasa tidak enak. Ingin bilang saja untuk jangan. Namun cowok-cowok ini tetap pergi. Tantangan mereka adalah alam itu sendiri. Medan tempuh yang sulit, ketahanan fisik dan mental, serta ancaman perpecahan. Alam menunjukkan jati diri asli seseorang. Yossi akhirnya pergi bersama Kevin menggunakan rakit menyusuri sungai. Sedangkan Marcus yang sudah begitu tergantung pada Karl, memilih menempuh jalan darat.

Sungai bukanlah surga, arusnya yang mengerikan akhirnya memisahkan Yossi dan Kevin. Kevin terdampar jauh ke pemukiman penduduk, sedangkan petualangan Yossi baru saja dimulai. Sendirian, terasing di dalam hutan.

Pilem ini tidak menyuguhkan kebiasaan umum pilem-pilem bertema serupa. JUNGLE hanyalah hutan. Hutan tak dikenal dengan segala kebaikan pun kepastian hukum alamnya. Yossi mati-matian bertahan hidup, tersesat, makan tidak jelas, dehidrasi, luka-luka, dan nyaris gila. Kelebatan-kelebatan halusinasi mulai muncul dalam minggu-minggu yang panjang. Ngeri, sungguh ngeri.

Karena dibuat berdasarkan kisah nyata, tidak ada kelebay-an plot dalam kisah ini. Murni belas kasihan alam, pertahanan manusia, dan anugerah dari Sang Pencipta yang akhirnya menyelamatkan Yossi. Ketenangan, keheningan, ketidakberhargaan kita, membuat saya merasa kecil dan rapuh. Pilem ini menyodorkan itu. Apalah kita ini, makroorganisme berkromosom 46 buah nan berjalan petantang-petenteng arogan di muka bumi, namun luluh lantak diterjang hukum hutan.







JUNGLE sebenarnya sudah tayang November 2017 lalu, namun entah kenapa baru nongol sekarang disini. Yasudahlah, yang penting diputar. Momen keheningan, ketidakberdayaan ini, cukup membuat saya terguncang dan merasa bahwa saya tak akan sanggup menghadapi apa yang telah dialami Yossi.

Belakangan diketahui Marcus dan Karl tidak pernah kembali. Dalam biografinya, Yossi Ghinsberg dan Kevin Gale sudah mencoba mencari-cari, namun Marcus tidak pernah ditemukan hingga saat ini. Dan suku Indian yang disebut sebut Karl hanyalah isapan jempol belaka. Tidak diketahui apa niatan Karl sesungguhnya.

JUNGLE bukanlah pilem kebanyakan. Tidak bisa juga memaksakan selera untuk menontonnya. Tapi saya rasa, pilem ini adalah suatu bentuk karya baik yang hadir dengan kejujuran dan kebrutalan alam untuk kembali menggali nurani terdalam. Apa kita. Siapa kita. Dan apa yang harus kita lakukan untuk bertahan.

Totalitas mas Dan Rad cukup mengerikan. Tanpa efek CGI atau photoshop, mas Dan menurunkan berat badannya secara signifikan. Saya memang ngeri dengan totalitas aktor aktris Hollywood. Belum lagi tampilan hutannya yang memanjakan mata, namun bikin deg deg an dengan hukum alamnya. Ingat, kita cuma numpang. Namun alam telah berbelas kasih begitu banyak pada kita yang parasit.

Well, this is really an opening-mind-kind of movie. Maybe it doesn't suit your taste, but I believe this is worth watching.

PS : yang nonton di bioskop enak, tenang dan tak ribut, tak alay, tak bicik sibuk sosmed, dan nyaman buat kontemplasi.


“...As humans, our territory is on land. If we were meant to control the skies, we would have been given wings, and if we were meant to control the seas and oceans, we would have been designed to breathe underwater. At the same time, wild creatures were also placed in jungles and forests to keep humans out of them. Plants are vital to purifying the atmosphere, and many wild animals rely on them as their food and medicine. Had the Creator not placed animals like tigers, wolves, bears, and other big creatures in untamed regions which are intended to remain inhabited, he knew that mankind would take over those areas — leaving nothing for the animals...”
- Suzy Kaseem -

No comments:

Post a Comment