March 28, 2018

Kerut Waktu Keriput

"...Life, with its rules, its obligations, and its freedoms, is like a sonnet: You're given the form, but you have to write the sonnet yourself..."
- Mrs Whatsit -

Movie posters : Disney's A Wrinkle In Time

Beberapa waktu yang lalu saya dan mbak Renni melipir ke bioskop untuk tetiba menonton pelem adaptasi buku bikinan Madeleine L'engle berjudul A WRINKLE IN TIME. Dan barusan saya akhirnya menyelesaikan membaca bukunya yang dipinjamkan oleh mamas Raafi. Buku bergenre fantasi fiksi ilmiah yang katanya diperuntukkan untuk kalangan middle grade ini rencana ada lima buku, baru diterbitkan edisi terjemahan buku pertama disini, dan penerbitnya sudah kolaps.

Tidak ada ekspektasi apa-apa saat saya menonton ini. Alasannya saya mulai stress udah gak baca novel berminggu-minggu, kemudian lihat list pilem di XXI. Udah nonton babang raja miung item King T'Challa di BLACK PANTHER, dan jelas tak minat nonton pelem lokal, untunglah A WRINKLE IN TIME ada dalam daftar.

A WRINKLE IN TIME adalah film yang menyederhanakan kerumitan sisi fiksi ilmiah dari perjalanan menembus ruang waktu yang jadi impian umat manusia sejak lama. Mengisahkan derita Meg Murry dan sang adik, Charles Wallace yang kehilangan sang ayah secara tiba-tiba. Selama empat tahun lamanya tidak ada petunjuk keberadaan beliau. Meg mulai depresi, sedangkan Charles tetap yakin bahwa di suatu tempat di alam semesta, sang ayah menanti untuk ditemukan. Mr.Murry dan Mrs.Murry adalah pasangan ilmuan antariksa-partikel-kuantum yang punya teori gila mengenai kemungkinan perjalanan menembus ruang dan waktu hanya dengan menggunakan kekuatan pikiran.

Dibantu oleh Calvin, cowok manis cemceman Meg, akhirnya mereka bertemu dengan entitas dari dimensi lain. Charles Wallace, adik Meg yang cerewet pinter gemesin 'menemukan' Mrs Whatsit, Mrs. Who, dan Mrs.Which. Absurd kan ya. Keabsurdan ini ditunjang dengan keindahan warna warni kerut waktu yang membawa Meg, Calvin, dan Charles Wallace ke berbagai dimensi dan akan menghadapi The IT, struktur gelap yang menawan Mr.Murry.

Ketika melihat deskripsi The IT, saya teringat IT - nya om King yang memiliki definisi entitas fiksi ilmiah yang nyaris serupa dengan kedigdayaannya. Eniwei, Meg, Calvin, dan Charles Wallace mesti menghadapi The IT untuk membawa Mr.Murry pulang, sekaligus mereka kembali ke dunia yang kita kenal. Perjalanan ini tidak mudah. Keabsurdan dalam warna-warni pilem ini membuat segalanya menjadi berbeda namun tetap dengan hasil akhir bahagia.

Bukunya sendiri amat sederhana. Diterbitkan pertama kali di awal tahun 1962, L'Engle membawa penjabaran lain dari dimensi kelima dan kemungkinan penjelajahan tanpa batas di alam semesta dengan cara yang sederhana. Tesseract (fans Marvel pasti ngeh ini), adalah dimensi kelima yang dimaksud. Lantas bagaimana bukunya terkait dengan pilemnya ?

Edisi terjemahan oleh Atria

Bukunya jauh lebih tidak warna warni dibanding pilem. Memang pilemnya menyuguhkan keindahan imajiner nan meluap. Bukunya tidak membingungkan (bagi saya mungkin), dan memang agak menyepelekan kalau hanya diperuntukkan bagi pembaca muda. Tampilan ketiga nyonya juga tak gemerlap, meskipun jelas aneh. Dan si kembar kakak Meg tidak muncul dalam film, ya saya rasa tidak masalah. Yang jelas nilai-nilai dalam kisah ini seolah jadi metafora mengenai sikap harian kita. Entah terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Film A WRINKLE IN TIME adalah pilem yang tidak perlu dikritisi lebih. Nikmati saja. Target penonton pun sebenarnya bingung ya. Bagi saya, sah-sah saja buat para tetua untuk menikmati kisah sederhana ini. Menghibur dan mungkin mengingatkan kita akan apa-apa yang terlupa dan hilang dibalik hati yang menggelap dan kelelahan. Ada kalanya tontonan macam ini bisa dipilih untuk melonggarkan sesak di jiwa.


“...In reading we must become creators. Once the child has learned to read alone, and can pick up a book without illustrations, he must become a creator, imagining the setting of the story, visualizing the characters, seeing facial expressions, hearing the inflection of voices. The author and the reader "know" each other; they meet on the bridge of words...”
- Madeline L'Engle -


3 comments:

  1. Blogger tidak punya sistem jempol ya.
    Mau beri jempol kayak medsos sebelah ;B

    ReplyDelete
  2. Membaca review ini, sepertinya, baik buku dan filmnya memang diciptakan untuk menjadi sederhana. Saya saja yang punya ekspektasi berlebihan. Kadang kalau memang sesuatu harus sederhana, kenapa harus dibikin rumit... kaya idup dan pikiran kamu Ray?

    ReplyDelete