March 31, 2018

Thou Shalt Kill



“...My greatest wish for humanity is not for peace or comfort or joy. It is that we all still die a little inside every time we witness the death of another. For only the pain of empathy will keep us human. There’s no version of God that can help us if we ever lose that...”
- Honorable Scythe Marie Curie -

Sebagai salah satu fans gagal move on dari kisah bikinan om Neal Shusterman sebelumnya (UNWIND DYSTOLOGY), saya memiliki keinginan untuk membaca buku-buku bikinan om ini selanjutnya. Tahun 2017 lalu, si om menelurkan THE ARC OF SCYTHE-1 : SCYTHE, sebuah kisah utopia yang menceritakan kehidupan algojo masa depan. Menarik.

Karena harganya yang mahal untuk edisi hardcover, ditambah lagi iming-iming busuk mengenai akan diterbitkannya edisi terjemahannya disini, saya sabar menanti. Eh tau-taunya, edisi paperback nya muncul di sebuah toko buku impor yang secara khilaf saya kunjungi saat menunggu penerbangan. Dengan diskon 10 persen, saya berhasil memperoleh novel kece ini dan beberapa jam yang lalu berhasil menyelesaikannya.

SCYTHE oke ngga ?

Lagi-lagi om Shusterman bikin kejutan berbeda dalam edisi bacaan YA fantasi kekinian. SCYTHE secara harfiah biasanya diartikan sebagai sabit untuk memanen biji-bijian, belakangan jadi perlambang malaikat maut yang berukuran besar untuk mencabut nyawa. Nah, dalam kisah SCYTHE ini, pencabutan nyawa memang terjadi. Dengan istilah gleaning menggantikan killing atau reaping.

Di masa depan, manusia sudah sangat maju. Teknologi di segala bidang berhasil membuat manusia menjadi 'abadi'. Penyakit sudah dimusnahkan, human biological clock bisa direset ke waktu yang diinginkan, manusia bisa dihidupkan kembali - kecuali bila dibakar, kemiskinan sudah ditanggulangi, dan boleh dibilang tidak ada kriminalitas. Sebuah bentuk kesadaran statistik tingkat tinggi yang menampung pengetahuan seluruh umat manusia, dengan kalkulasi presisi, telah mengambil keputusan dan menjadikan hidup pasti aman dan damai. Satu-satunya masalah adalah jumlah manusia. Maka dari itu, dibentuk sebuah SCYTHEHOOD, kumpulan manusia dengan kesadaran moral tertinggi yang berhak melakukan pencabutan nyawa pada orang-orang yang telah mereka pilih untuk mati. Kematian acak, objektif, berdasarkan kalkulasi statistik, dan harus memenuhi kuota tahunan untuk menjaga populasi manusia supaya stabil.

Tidak ada yang tahu kapan seorang Scythe akan mengetuk pintu, sama seperti halnya kematian itu sendiri. Metode pencabutan nyawa pun bervariasi. Bisa penuh keheningan atau hingar bingar darah. Dalam melaksanakan tugasnya, seorang Scythe harus mematuhi 10 poin hukum yang tidak boleh dilanggar sejak sejarah ini terbentuk.

Rowan Damisch dan Citra Terranova terpilih menjadi magang dari seorang Scythe tua bernama Scythe Michael Faraday. Perlu diketahui, semua Scythe mengambil nama orang-orang yang berperan dalam sejarah umat manusia sebagai identitas mereka. Dalam suatu peristiwa mencengangkan, Rowan dan Citra harus tercabut dari kenyataan remaja mereka dan menjalani pelatihan sebagai Scythe magang. Kengerian dan pekatnya masalah politik kekuasaan serta ambang kewarasan dalam kehidupan para Scythe menjadikan nasib Rowan dan Citra makin seperti telur di ujung tanduk.

Edisi paperback oleh Walker Books

Power can be corrupted. Inilah yang terjadi dalam Scythehood. Kekuasaan seperti Tuhan ini membuat penyimpangan-penyimpangan terjadi. Hingga pada akhirnya, Rowan dan Citra harus memilih, di posisi mana mereka berada.

SCYTHE beralur sedang, tidak ngebut, namun mencekam. Aroma kematian dimana-mana. Bergidik ngeri saking seringnya. Bentuk kekerasan fisik terencana, dirancang presisi dan mengguncang. Manusia bertindak seperti Tuhan. Ngeri dan bikin sering menarik napas. Tetap yang khas dari buku-bukunya om Shusterman adalah kesadaran primitif kita disentil dan bikin mikir. Wajar kalau bukunya nggak biasa.

Selalu saja ada pertanyaan-pertanyaan moral yang muncul setelah membaca. Seberapa sinting kita kalau ditempatkan dalam situasi seperti di SCYTHE ini. Apa yang akan kita pilih. Dan seberapa besar kekuasaan akan merusak nurani kita. Benar, namun jelas brutal.

Recommended ? ya iyalah. Nggak mau ntar spoiler, saya jelas mengerti mengapa buku kedua judulnya THUNDERHEAD. Semoga segera ada edisi paperbacknya. Sudah tak berharap nunggu terjemahan. Nanti lumutan. Alhamdulillah edisi aslinya ini bahasanya enak. Karena mungkin memang dibuat untuk pembaca remaja-dewasa muda. Untunglah saya masih muda (mulai denial). Yang jelas, model bacaan begini membuat variasi yang menarik ketimbang kisah YA itu-itu saja.


“...Everyone is guilty of something, and everyone still harbors a memory of childhood innocence, no matter how many layers of life wrap around it. Humanity is innocent; humanity is guilty, and both states are undeniably true...”
- Neal Shusterman -

No comments:

Post a Comment