April 21, 2018

Bukan Jalan Santai

“...And once the storm is over, you won’t remember how you made it through, how you managed to survive. You won’t even be sure, whether the storm is really over. But one thing is certain. When you come out of the storm, you won’t be the same person who walked in. That’s what this storm’s all about...”
- Haruki Murakami -

Dalam aktivitas olahraga kekinian, jalan santai dan lari marathon mulai hits kembali. Namun, sebagai makhluk pemalas yang olahraganya cuma berkisar naik tangga ke kamar atau ngangkat galon air ke dispenser, saya tidak menggandrungi kegiatan jalan santai atau lari kekinian ini. Nah, kembali kepada hobi standar saya, kegiatan lari-lari lebih dilakukan di dalam benak saat menjelajahi berbagai semesta dalam buku bacaan.

Melipir ke sebuah buku berjudul THE LONG WALK (JALAN KAKI SAMPAI MATI) yang ditulis oleh Richard Bachman alias om Stephen King, saya dibuat cukup bergidik dengan kisah jalan kaki tidak santai ini. Namun seperti biasa, betapapun menyiksanya, semacam wajib gitu baca buku-buku bikinan si om.

Mengisahkan entah tahun berapa di setting Amerika Serikat yang terang benderang, sebuah lomba jalan kaki diadakan pada tanggal 1 Mei tiap tahun. Pesertanya adalah 100 orang abege cowok terpilih dari seantero negeri. Awal membaca buku ini dipikir bakal yah, lomba jalan kaki lah ya, what will happen. Tapi, ini bukunya om King, jadi prepare for the worst.

Jalan kaki ini disponsori oleh seorang pimpinan militer tak bernama yang dikenal sebagai Mayor. 100 orang peserta harus jalan kaki sampai ada satu pemenang tersisa. Aturannya adalah kecepatan jalan harus minimal 4 mil/jam atau 6.4 km/jam, tidak boleh mengganggu peserta lain, bila berhenti maka akan dapat peringatan - maksimal tiga kali peringatan - kalau masih lanjut nanti dapat tiket. Tiket apa ? Tiket ke alam baka.

Raymond 'Ray' Garraty, adalah peserta asal Maine (tempat om King tinggal nih). Tidak jelas alasannya apa. Ray berkenalan dengan peserta lain, McVries, Abraham, Stebbins, Barkovich, dan banyak lain. Kumpulan abege ini lanjut jalan kaki dan saling mengenal sambil mulai mikir sendiri kenapa mereka ikut acara ini. Acara tahunan ini berhadiah menggiurkan, yakni pemenang boleh minta apa saja kepada sang Mayor. Mau harta, tahta, wanita, apalah semuanya bisa.


edisi terjemahan oleh Gramedia Pustaka Utama

Dalam acara jalan kaki ini, tidak ada istilah berhenti. Pipis sambil jalan, BAB sambil jalan, minum sambil jalan, makan sambil jalan, dan mati di jalan. Hujan, badai, hujan es, halilintar, harus jalan terus. Berhenti kalau kejadian langka, misalnya jembatan putus - yang jelas sudah diantisipasi sang Mayor. Kegilaan ini membuat bertanya-tanya karena tidak dijelaskan apa latar belakang perlombaan ini.

Kisah yang berlangsung dalam hitungan hari ini menarik segala aspek pemikiran dari pesertanya, latar belakang kehidupan masing-masing, alasan penting sampai konyol yang menjadi tujuan partisipasi, hingga kesimpulan samar soal dunia distopia pimpinan sang Mayor. Buku ini tidak epik, tidak njelimet, namun memang tetap punya standar kengerian om King yang biasa. Lagi-lagi kekuatan kisah adalah membuat kita berpikir, apa yang terjadi kalau kita di posisi para peserta, posisi penonton, atau sang Mayor yang hingga akhir buku tidak dikenali siapa namanya.

Persahabatan singkat terjalin antara Ray dan rekan-rekan seperjalanannya. Namun, tidak ada yang bertahan lama, peserta bisa keburu tewas dehidrasi, tersiksa karena jatuh, atau mulai delirium dan meracau. Ya coba aja sih jalan terus ga pakai berhenti berhari-hari. Creepy as s*it.

Bagi pembaca novel bikinan om King mungkin sudah bisa pasrah mengapa kisah tak biasa ini ditulis sesukanya dengan tingkat kengerian yang berlangsung seolah tanpa tujuan. Akan tetapi, jelas ada makna tersembunyi dalam kehidupan singkat yang dijalani para remaja pejalan kaki ini, yang sepertinya punya latar belakang masing-masing dengan kekacauan instingtif manusiawi. Well, jangan pernah ngarepin kisah bahagia, salah kalau milih baca ini jika ingin fairy tale ending.

Apakah Ray berhasil ?
Baca sendirilah ya, kalau selera. Yang jelas kalau nggak kuat yang berdarah dan banyak mayit, mending tidak memaksakan diri. ^^


“...That's the day's business. Thinking. Thinking and isolation, because it doesn't matter if you pass the time of day with someone or not; in the end, you're alone. He seemed to have put in as many miles in his brain as he had with his feet. The thoughts kept coming and there was no way to deny them...”
- Stephen King -

No comments:

Post a Comment