May 19, 2018

Jangan Salah Pilih Hotel

“...The world's a hard place, Danny. It don't care. It don't hate you and me, but it don't love us, either. Terrible things happen in the world, and they're things no one can explain. Good people die in bad, painful ways and leave the folks that love them all alone. Sometimes it seems like it's only the bad people who stay healthy and prosper. The world don't love you, but your momma does and so do I...”
- Dick Halloran -

Jack Torrance played by Jack Nicholson - The Shining (1980)
Beberapa pekan lalu saat saya menuntaskan kewajiban calon maba di ibukota, saya menyempatkan diri (lebih tepatnya merengek pada Ade dan Dedek Lurah) untuk mencari wishlist perbukuan yang belum terpenuhi. Ada tiga buku yang saya cari, alhamdulillah ketemu dua. Salah satunya adalah THE SHINING, novel legendaris karya om Stephen King tahun 1973. Saya mencari buku ini karena sekuelnya - DOCTOR SLEEP sudah di dalam lemari duluan akibat efek BBW Maret lalu. Dan seperti buku-buku legendaris lain bikinan si om dengan adaptasi perfilman memorable, rasanya tidak pantas kalau tidak membaca yang ini.

THE SHINING sebenarnya booming sebagai salah satu budaya pop 80-an akibat filmnya yang sukses bikin penonton stress. Pilem besutan Stanley Kubrick ini disinyalir sebagai salah satu pilem horor terbaik di masa itu. Saya nggak nonton, tentu saja, secara saya penakut. Pelem adaptasi bukunya om King yang berani saya nonton itu cuma THE DARK TOWER (ini dibikin PG-13, yang main bapak-bapak ganteng), CELL (ga sengaja ketonton di Fox Movies), dan IT - Chapter One (nonton di laptop gegara mau baca bukunya yang tebal itu). Walhasil saya mesti tanya ke Embah Gugel untuk plot dan resensi pilem THE SHINING sebelum membaca novelnya.

Edisi pocketbook setebal 660an halaman sekian saya miliki setelah mencari di tiga toko buku. Well, disebut sebut bahwa om King benci sama pelem adaptasinya. Setelah kelar baca, saya sepertinya cukup mengerti (sok sok nya ngerti gitu) kenapa si om empet.

THE SHINING mengisahkan tentang keluarga Torrance, terdiri atas Jack - si bapak, Wendy - si ibu, dan Danny - si anak lelaki berusia 5 tahun. Karena kesulitan ekonomi, Jack menerima tawaran kerja dari temannya, Al untuk ngejagain hotel bernama The Overlook selama musim dingin, lokasinya di Colorado. Ngejagain doang sih, mastiin ga ada yang rusak, ga ada maling. Karena hotel kan tutup selama musim dingin tersebut.




Sejatinya kepepet kan, lagian Jack yang awalnya jadi guru di sekolah, kena masalah trus dipecat. Walhasil butuh kerjaan. Sebenarnya Jack punya masalah anger management dan kecanduan alkohol yang sedang dia atasi. Sedangkan Wendy pasrah, daripada hidup luntang-lantung.

Danny, si bocah bukan anak biasa. Danny ini semacam punya sixth sense yang bikin dia bisa baca pikiran orang, bisa melihat hal-hal di masa depan, bahkan punya 'teman khayalan' namanya Tony. Danny diperingatkan oleh Tony untuk nggak ke hotel itu. Tapi ya mau bagaimana, namanya juga ikut orangtua. Peringatan berubah menjadi jangan mendekati kamar nomor 217, dan tulisan berdarah dengan ejaan REDRUM.

Masalah ?
Yoi. Namanya juga kisah horor. The Overlook Hotel punya kisah kelam bertahun-tahun yang mengerikan. Sejak didirikan di awal tahun 1900-an, hotel ini sudah banyak berpindah tangan kepemilikannya. Mafia senjata, bankir segala macem, meskipun hotel ini terkenal dan sering jadi persinggahan bangsawan serta para presiden Amerika Serikat terdahulu. Lokasinya yang jauh dari keramaian memang nyaman dan selalu penuh di musim semi dan musim panas.

The Overlook memiliki sejarah berdarah tersendiri. Bunuh diri, pembunuhan, pembantaian, dan yang terbaru adalah pegawai sebelum Jack yang membunuh istri dan kedua anaknya di hotel ini, lalu gantung diri, entah karena alasan apa. Nah, curiganya kengerian ini terulang.




Munculnya bibit-bibit kesintingan dalam diri Jack semakin lama semakin mengkhawatirkan. Seisi The Overlook mulai muncul dalam bentuk halusinasi pesta-pesta, orang-orang lawas, dan semuanya memengaruhi Jack sedemikian signifikan. The Overlook menginginkan Danny, karena Danny memiliki kekuatan THE SHINING - yang dimaksud sebagai kemampuan supranaturalnya dalam kisah ini. Danny kuat secara mental, namun ya namanya juga anak kecil. Danny berkali-kali dilukai secara mental oleh kepingan-kepingan kenangan buruk di The Overlook. Wendy pun turun tangan berusaha melindungi sang anak, apapun taruhannya.

Puncaknya di malam musim dingin 2 Desember. Jack 'diambil alih' oleh kekuasaan The Overlook dan mulai berusaha membantai istri dan anaknya. Danny berteriak minta tolong secara mental kepada Dick Halloran - sang koki yang punya kemampuan THE SHINING juga. Danny ketemu Halloran sebelum Halloran cuti dari The Overlook. Halloran sudah punya firasat, meskipun samar, dan dia meminta Danny menghubunginya via telepati bila hal-hal buruk terjadi.

Mati-matian Wendy melindungi diri dan anaknya. Kedatangan Halloran yang nyaris terlambat tetap saja berkontribusi mengakhiri kengerian ini. Meskipun finalitas ada pada Danny seorang.

THE SHINING memiliki alur awal yang lambat. Kengeriannya merayap pelan-pelan di sudut benak. Menanti, menunggu, mencekam. Dua pertiga buku masih lambat padat, namun makin ke ujung makin stress. Seperti biasa, om King mendetail sekali masalah asal usul, bentuk-bentuk emosi tokoh-tokohnya, serta latar belakang manusiawi masing-masing.

Kapan lanjut baca sekuelnya ?
Nanti deh ya. Jeda dulu dari kengerian ini. Yang jelas pesan dari kisah ini adalah jangan suka mara-mara, hindari minuman keras, dan jangan salah pilih hotel. Sip.

PS : kisah ini terinspirasi dari perjalanan nginap om King sama keluarganya di sebuah hotel. Hotel mana ? Nah..itu yang belum saya gugling.


“...I believe these stories exist because we sometimes need to create unreal monsters and bogies to stand in for all the things we fear in our real lives: the parent who punches instead of kissing, the auto accident that takes a loved one, the cancer we one day discover living in our own bodies. If such terrible occurrences were acts of darkness, they might actually be easier to cope with. But instead of being dark, they have their own terrible brilliance. . . and none shine so bright as the acts of cruelty we sometimes perpetrate in our own families...”
- Stephen King - 

No comments:

Post a Comment