June 20, 2018

Danny Kicked The Hat

"...There came a time when you realized that moving on was pointless...that you took yourself with you wherever you went..."
- Daniel Anthony Torrance -

read this backwards

Masih berurusan dengan masa lalu ? Gagal move on ?
Well everyone deals with their baggages. Tidak terkecuali Danny, bocah cilik yang nyaris tewas dibunuh ayahnya sendiri dalam buku legendaris bikinan om Stephen King, THE SHINING (udah dicurhatkan di sini). Saya juga tipikal orang yang gagal move on dalam banyak hal, yah tidak perlu dibahas. Kita kembali ke kisah lanjutan dari Danny bertahun-tahun kemudian pasca insiden horor di The Overlook Hotel.

Memperoleh buku hardcover setebal lebih dari 500 halaman dengan harga hemat sekali adalah suatu berkah tersendiri (peluk cium untuk serigala Big Bad Wolf). Dan DOCTOR SLEEP, sekuel dari kisah THE SHINING hadir di tangan, menunggu untuk tidak sekedar dielus dan diendus, tapi untuk dibuka dan dibaca. Memang sesuai curhatannya di akhir kisah, om King mengakui bahwa jeda waktu sangat panjang dari 1977 ke 2013 tentunya tidak akan menjadikan kisah ini memiliki esensi horor sama dengan pendahulunya. Si om pun udah mengalami perkembangan kepribadian yang meluas dibanding dirinya yang dulu menulis kisah ini. Satu hal yang tidak berubah adalah si om tetap benci sama pilem adaptasi THE SHINING (1980) meskipun pilem tersebut adalah pilem horor ikonik termahsyur sepanjang sejarah (puk puk om Stanley Kubrick).

Bagi para pembaca THE SHINING, pastinya bertanya-tanya. Bagaimana nasib Danny sekarang, apakah 'kekuatan shining'- nya masih ada, kesehariannya kini, apakah ada sisa trauma masa lalu yang menghantui. Nyatanya, luka itu masih ada. Om King mulai merunut kisah Danny pasca insiden horor tersebut dan memulai penceritaan jalan hidup Danny yang berhadapan kembali dengan masa lalunya dalam bentuk ultimate showdown. Namun Danny tidak sendirian. Tanpa sang ibu, Wendy Torrance yang telah lama berpulang, dan tanpa sang mentor, Dick Halloran, Danny menemukan timnya sendiri untuk bertarung melawan kegelapan terstruktur yang tampak asing namun terkesan akrab.

Hidup berpindah-pindah, Danny yang telah menjadi pria dewasa terpaksa berteman dengan penyakit lama sang ayah - alkoholisme. Ditambah anger issue yang syukurnya mampu diatasinya jauh lebih baik daripada mendiang Jack Torrance. Namun, situasi nomaden itu berakhir ketika Danny menemukan suaka baru di sebuah kota kecil bernama Anniston dan mulai memanfaatkan 'kekuatan'nya untuk menolong orang-orang sekarat yang butuh ketenangan menjelang dijemput malaikat maut. Berduet bersama seekor kucing - Azreel, Danny dikenal sebagai Doctor Sleep, pria kurus tak mencolok yang membantu para pesakitan menghadapi sakaratul maut dengan membangkitkan kenangan indah serta penerimaan. Danny menemukan sanctuary dalam profesinya. Merasa akhirnya bisa tenang dan tidak mengutuki kemampuan supranatural yang dimiliki sampai akhirnya seorang anak perempuan muncul memanggilnya lewat telepati. Abra Stone.

Abra Stone memiliki kekuatan shining yang memancar seperti mercusuar, dibanding Danny yang seperti lampu senter. Abra ketakutan, pun keluarganya. Dengan berbagai peristiwa, sang murid akhirnya menemukan guru, lewat bantuan Tony - teman 'khayalan' Danny yang mulai menjadi sahabat Abra dan menghubungkan mereka berdua lewat koneksi telepati sampai pertemuan di dunia nyata terjadi.

Masalah muncul dalam bentuk mengerikan. Sebuah rombongan paranormal yang menyebut diri The True Knot, telah bertahan melawan waktu selama berabad-abad. Dipimpin oleh Rose The Hat, si wanita cantik mengerikan yang keji, komplotan ini telah melancarkan aksi pembunuhan terhadap anak-anak yang memiliki shining lalu mengambil kekuatan itu sebagai nutrisi keabadian mereka. Tanpa sengaja, Abra mendeteksi kekejian ini lewat sebuah foto anak hilang di koran. Bayangan mengerikan mengenai nasib si anak membuat Abra ketakutan sekaligus naik pitam terhadap sekelompok empty devils yang tidak pernah bisa terpuaskan. Abra pun terdeteksi, dan Abra menyadari, lalu meminta bantuan Danny - Uncle Dan, satu-satunya orang yang dia percayai dan memiliki kekuatan shining.

Menariknya dalam kisah ini aspek sejarah keluarga Torrance mencuat kembali ke permukaan. Danny kembali harus menghadapi dan berdamai dengan masa lalunya yang menyisakan bekas dalam tak tersembuhkan. Abra Stone, Billy Freeman, Casey Kingsley, dan John Dalton menjadi tim baru Danny yang bahu membahu menuntaskan perang dalam keheningan melawan The True Knot yang kejam.

Abra yang berumur tiga belas tahun adalah anak cerdas keras kepala yang berani menantang Rose The Hat. Dalam ketakutannya, Abra tidak sudi membiarkan kelompok jahat ini terus ada, meskipun Abra tau bahwa dirinyalah yang menjadi hidangan utama bagi kelompok ini. Danny tau dan mengerti. Dan Abra muncul sebagai murid tangguh yang bahu membahu saling melindungi bersama sang guru. 

Dibandingkan THE SHINING, gaya menulis om King memang jauh berkembang. DOCTOR SLEEP lebih 'enak' dalam hal penuturan, sedangkan dalam kisah, sekuelnya ini lebih hangat dan mengharukan, sementara pendahulunya memiliki kesan klaustrofobik yang pekat dengan tingkat depresi mencekam. DOCTOR SLEEP hadir sebagai resolusi lebih lengkap mengenai apa yang tidak terjawab dalam kisah supranatural ini. Penyebutan budaya populer sebagai cuilan kalimat atau dialog membuat saya makin suka dengan si om. Beliau adalah Potterhead, hobi jalan-jalan bareng hobbit, ngikutin kehebohan Game of Thrones, dan tentunya selalu rajin membaca. Jadi penulis yang baik berarti harus jadi pembaca kelas berat. Itu adalah kekuatan tak habis-habis yang harus sejalan seiring latihan sebagai sumber inspirasi.

Konklusi apakah yang akhirnya dijalani oleh Danny ?
Ada baiknya dibaca sendiri. Bukan konklusi yang berbunga-bunga tapi tetap saja menenangkan. Dan jelas banyak kata-kata quotable yang muncul dalam buku bersampul merah gelap macam tumpahan darah ini. Saya lega sudah menamatkan, mengingat Ewan McGregor (Obi wan Kenobi, Lumiere) didapuk sebagai pemeran Danny di film adaptasi DOCTOR SLEEP yang akan muncul di tahun 2020 mendatang, dan sepertinya saya berniat nonton, meskipun jelas nggak sanggup kalau harus nonton THE SHINING yang horornya legendaris. Dari segi buku pun untuk horor memang THE SHINING mengalahkan sekuelnya, tapi dari segi rasa-aksi-kelengkapan, DOCTOR SLEEP memenangkan saya. Great job, Doc !

PS : saya semacam ingat timnya Logan - Laura ketika membaca kisah Danny - Abra. This kid is sure fierce and swarming with anger inside her shining kind heart.

Edisi hardcover terbitan Scribner

“...Life was a wheel, its only job was to turn, and it always came back to where it started...”
- Stephen King -


No comments:

Post a Comment