June 4, 2018

Tierra Humana

“...Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai...”
- Pramoedya Ananta Toer -


Sebagai penonton dan penyinyir tersembunyi kelas berat dalam dunia sosial media, saya cukup up date dalam isu-isu penting tak penting kekinian, entah dalam bidang hiburan maupun bidang-bidang lain yang bikin kepala pening. Nah, suatu ketika netizen mahabenar sibuk berdebat mengenai rencana film adaptasi dari novel legendaris karya eyang Pramoedya Ananta Toer berjudul BUMI MANUSIA (1980). Perdebatan ini meruncing antara kids jaman now dengan generasi 'tua' yang membela kubu masing-masing. Kehebohan ini lantas menggelitik saya untuk membaca sang novel yang sudah sekian lama (sekian tahun tepatnya) dihadiahkan oleh Emak Paus pada saya.

BUMI MANUSIA adalah novel pertama dalam TETRALOGI BURU yang dibuat oleh Eyang Pram dalam penjara. Buku-buku beliau sempat dilarang terbit karena isu komunisme yang melekat pada nama beliau ditambah isi buku yang subversif. Saya tidak terlalu paham ini. Namun secara ajaib, papa saya nyeletuk informatif bahwa eyang Pram dikaitkan dengan organisasi tersebut karena namanya tercatat atau tercatut dalam Lekra yang memiliki kaitan erat dengan sejarah kelam G30SPKI. Lebih ajaib lagi, si papa ternyata pernah membaca karya bikinan beliau berjudul Cerita Dari Blora, dan papa bilang bahwa kisahnya memang bagus. Eyang Pram memang keren menurut beliau (dan jelas papa saya keren juga---o modus minta THR).

Apakah yang menarik dalam BUMI MANUSIA ini ?
Sepintas saya teringat novel YB Mangunwijaya berjudul BURUNG-BURUNG MANYAR (dicurhatkan di sini), karena setting masa lalunya. Novel BUMI MANUSIA berkisah ditahun 1890-an di masa penjajahan Belanda, di mana sedikit-demi sedikit bangsa kita mulai melek edukasi.

Tokoh utama kita, seorang pribumi priyayi bernama panggilan Minke sedang bersekolah di HBS (setara es em a mungkin ya) dan dia bertamu ke rumah seorang Nyai bernama Nyai Ontosoroh dan naksir berat sama anak gadis sang Nyai, Annelies Mellemma. Minke adalah Pribumi, Annelies adalah Indo yang dirugikan karena dilahirkan dari perkawinan tidak sah antara Nyai Ontosoroh dan Herman Mellemma. Zaman itu harga manusia dilihat dari asal usul negerinya.

Lantas ini akan semodel dengan Romeo Juliet-nya Shakespeare ? Tragedi berbunga-bunga ?

Alhamdulillah tidak. Eyang Pram mengangkat topik feminisme yang kuat di mana perempuan hanya diperlakukan bagai barang dagangan, tidak punya hak, tidak perlu-perlu amat sekolah. Kehormatan dinilai dari asal usul darah dan keturunan, bukan dari prestasi, bakat, atau kerja keras. Bangsa kita terjajah secara fisik dan mental. Dan yang mengherankan, hal ini masih bertahan hingga kini, dalam variasi bentuk yang diperhalus dengan mumpuni namun tetap keji.

Nyai Ontosoroh hadir sebagai sosok wonder woman yang bangkit dari kealpaan manusia jaman itu. Tokoh nyai ini sangat berperan dalam kisah ini. Selain itu, eyang Pram juga menghadirkan konflik-konflik sosial politik yang tidak menggurui secara eksplisit tapi menyerang pikiran dengan presisi yang cukup bikin merenung. Pribumi, Indo, Keturunan, Bangsawan, Orang Terbuang, semua punya darah yang sama warnanya namun beda perlakuannya. Apa yang dituturkan eyang dalam BUMI MANUSIA masih relevan hingga saat ini, dalam bentuk berbeda.

Bahasa eyang lugas dan tidak menggurui. Tidak ada air mata yang tumpah, namun terngiang lama. Romansa tidak saya jadikan fokus, namun kelakuan manusia dalam kisah ini menarik dan membuat nyeri. Penjabaran eyang dalam aktivitas dan tindak tanduk tokoh-tokohnya begitu mumpuni. Wajar kalau BUMI MANUSIA telah dirilis secara internasional di lebih dari 30 negara.

Mengaitkan pada ayat AlQuran yang turun pertama kali yakni IQRA' yang artinya BACALAH, maka saya rasa kita butuh dan wajib membaca. Bukan hanya debat kusir menghabiskan energi yang meskipun sia-sia tapi amat menghibur bila dilihat dari kacamata penonton. Perjuangan memperbaiki diri, melihat beragam perspektif, belajar tidak stereotip, dan membela hak diri dengan cara bermartabat sepertinya tertuang dengan baik dalam BUMI MANUSIA. Jangan hanya fokus romansa saja, karena hidup jauh lebih luas dari pada itu. 

Ada perbuatan, ada tanggung jawab, ada konsekuensi. Kehidupan yang dijalani Minke, Nyai Ontosoroh, Annelies, dan tokoh-tokoh dalam kisah ini, onak dan durinya tersusun apik dengan bahasa lama yang tidak berat seperti stereotip kebanyakan soal sastra. Agak merasa bersalah juga karena saya baru baca sekarang. Tapi saya mengapresiasi karya ini dengan segala petuah-petuahnya, tipikal yang jarang ditemukan dalam sastra Indonesia masa kini.

Cetakan ke-20 oleh Lentera Dipantara


Bagaimana tentang rencana pilemnya ? Well, saya takut dikomen fans. Tapi seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya, saya mungkin tidak nonton. Standar sok ketinggian dan saya takut isu kebangsaan-sosial-politik-kemanusiaan dalam BUMI MANUSIA akan dikaburkan oleh romansa dan komersialisasi oleh perfilman dalam negeri yang tidak dapat kita pungkiri menjadi kebutuhan untuk mempertahankan industri ini. Saran saya, yoklah dibaca bukunya. Yang tua dan sudah baca, sabar. Yang muda dan belum baca, yok baca dulu, sebelum komen agak ngilu di dunia maya. Jangan sering ribut, tapi kalau mau ribut ya saya nonton keributannya. Lumayan distraksi buat ngurang-ngurangin penat deadline akreditasi sebelum jadi mahasiswi kembali (keliatan ya ambiguitasnya saya, yaudah sih, butuh banyak ketawa).

Pada akhirnya, sebagus dan sekeren apapun BUMI MANUSIA, tak akan ada artinya kalau anda tak membaca bukunya. Ayo banyak membaca, terbukti secara ilmiah mengurangi demensia dan bisa bikin lebih bijaksana berkaca pada beragam warna kehidupan manusia.


“...Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.. jangan ikut-ikutan jadi hakim tentang perkara yang tidak diketahui benar tidaknya...”
- Jean Marais -

No comments:

Post a Comment