July 7, 2018

The Deepest Point On Earth

“...The fear of not living is a deep, abiding dread of watching your own potential decompose into irredeemable disappointment when 'should be' gets crushed by what is. Sometimes I think it would be easier to die than to face that, because 'what could have been' is much more highly regarded than 'what should have been.' Dead kids are put on pedestals, but mentally ill kids get hidden under the rug...”
- Neal Shusterman -



Menempuh perjalanan darat sejauh kurang lebih 1.400 km dari Padang, Sumatra Barat menuju Takengon, Nangroe Aceh Darussalam adalah pengalaman road trip terjauh yang saya jalani beberapa hari yang lalu. Tidak seperti biasanya, saya tidak membawa serta buku sebagai teman perjalanan kali ini. Entah karena alasan apa. Namun ketiadaan akses internet justru membawa saya melirik buku digital dalam smartphone. Sebuah buku yang pernah saya intip sekitar setahun lalu, berjudul CHALLENGER DEEP karya Neal Shusterman.

Kalau kata embah Google via kak Wikipedia, Challenger Deep adalah titik terdalam di bumi yang diketahui. Berlokasi di sekitar palung Mariana di Filipina, titik ini diperkirakan memiliki kedalaman 10.898 - 10.916 meter. Bayangkan saja betapa gelap dan tersembunyinya. Eksplorasi sudah pernah dilakukan oleh umat manusia seiring kemajuan teknologi kelautan, meskipun belum mengungkap keseluruhan misterinya.

Jadi apa kali ini om Shusterman pindah aliran ke urusan akuatik ?
Ndak lah ya. Seperti yang saya tau, sebagai psikolog, si om menulis mengenai kisah seorang remaja cowok usia lima belasan bernama Caden Bosch. Caden mengalami 'halusinasi' yang mendetail mengenai keterlibatan dirinya dalam petualangan bersama rombongan bajak laut untuk menemukan harta karun di lokasi Challenger Deep.

Awal membaca saya pikir ini memang murni petualangan bajak laut di laut lepas. Tak disangka kalau ini adalah halusinasi Caden yang dibangun oleh om Shusterman dengan cukup meyakinkan. Halusinasi ini berkelindan dengan kenyataan harian hidup Caden yang terserang gangguan mental. Awalnya berupa kecemasan, kegelisahan, diikuti halusinasi dan keterpisahan dari dunia nyata yang makin lama makin berat. 

Seperti yang saya pernah bilang di curhatan entah yang mana, psikiatri adalah cabang ilmu Kedokteran yang paling penuh tantangan karena perjalanan penyakitnya tidak segamblang bagian lain. Waktu kuliah dulu, saya murni menghapal, tidak memahami. Karena psikiatri punya perjalanan penyakit yang amat teoritis, abu-abu, supermultifaktorial, dan tidak bisa satu tambah satu sama dengan dua. Menarik, jelas. Bagaimana organ abu-abu lunak macam tahu di kepala kita itu bisa berurusan dengan emosi sederhana sampai 'kegilaan' yang terpampang nyata.

Caden terombang-ambing dalam halusinasi dan dunia nyata, hingga akhirnya Caden dirawat di RS khusus. Pertemuan Caden dengan remaja-remaja sebaya dengan gangguan mental serupa tapi tak sama dalam berbagai kasus, memberikan pengalaman baru dalam hidupnya. Kita dibawa dalam kegundahan ini. Diajak dalam petualangan gelap dan pengap dari gangguan jiwa. Akankah Caden bisa merangkak keluar dari Challenger Deep dalam jiwanya atau pasrah tenggelam ?

Saya mungkin bias atau apa, tapi jujur, bacaan model begini membuat perasaan saya nyeri dan bingung. Bagaimana bila saya yang ada dalam kondisi Caden ? Atau jadi orang tuanya Caden ? Jadi teman-temannya ? Jadi kerabatnya ? Tidak ada yang minta 'sakit jiwa'. Stigma mengerikan dan prognosis sosial yang jelek selama ini menghantui pasien-pasien yang menderita gangguan ini. Om Shusterman mencoba menguraikan kepelikan pikiran Caden semampu yang beliau bisa. Sedih dan perih.

Saya punya e-book gratisan

CHALLENGER DEEP terbit tahun 2015 dan tentunya menuai banyak penghargaan. Om Shusterman memang penulis yang underrated di kalangan penulis-penulis young adult kebanyakan. Tapi karya yang dibuat si om ini sangat sayang bila tidak dibaca. Meskipun kembali lagi ke masalah selera, namun isu yang diangkat memang mengusik kemanusiaan jauh lebih dalam dengan cara yang tidak biasa.

Sejatinya semua orang memiliki kecendrungan untuk menderita gangguan jiwa tertentu. Contoh saja saya sendiri yang punya masalah anger management dan sedikit kecendrungan obsesif-kompulsif, namun pertahanan diri masih ada alhamdulillah. Namun manusia tidak punya kuasa penuh untuk meniadakan kedatangan penyakit, termasuk dalam hal mental illness. Pe er kita masih banyak dalam hal ini, untuk memperbaiki dan sedikit demi sedikit mengubah stigma yang menimpa para penderita. Percayalah, saat anda melihat sendiri pasien-pasien ini (saya masih kontak pada beberapa kasus), anda akan merasa terbagi antara sedih, takut, miris, atau tidak habis pikir mengapa kepedihan ini bisa menimpa orang-orang dari segala usia. 

Menariknya om Shusterman mengungkapkan penulisan kisah Caden ini terkait dengan kondisi nyata yang dialami anak lelaki beliau, Brendan Shusterman yang berhasil 'keluar' dari Challenger Deep-nya sendiri dan ilustrasi-ilustrasi abstrak yang ditampilkan dalam buku ini merupakan bikinan Brendan. Bahkan dalam buku ini disertakan pula kontak-kontak penting layanan kesehatan mental bagi remaja dan masyarakat umum di Amerika Serikat. 

Di Indonesia sendiri, ranah ilmu psikiatri memang masih 'agak baru' dibanding cabang ilmu kedokteran lainnya. Akan tetapi bisa dilihat sendiri, angka gangguan jiwa terbukti meningkat setiap tahunnya karena banyak faktor, dan jangan sampai kita tidak tahu mesti minta tolong kemana. Belum lagi stigma dan segala bentuk prejudice yang tiada habisnya.

Talk please... mungkin cuma itu yang bisa saya ungkapkan setelah membaca kisah pedih Caden Bosch ini. Meskipun demikian, seseorang yang tenggelam di titik terdalam di pikiran dan hatinya sendiri, tak lain dan tak bukan memang butuh dirinya sendiri yang kembali memegang kendali. Lantas apakah orang luar bisa berbuat lebih ? Bisa, jadilah ada, jadilah peduli. 

Tampaknya curhatan ini cukup berat yah, ya gimana ya..bukunya gitu..tipis tipis ngeri. Namun jelas direkomendasikan ! (etapi tak ada edisi terjemahan, udah sih ya..cari aslinya ajaaa..).


“...Why does our world feel so very crazy? Why do mental and emotional illnesses emerge more rapidly than we can educate psychiatrists, psychologists, addiction specialists, and mental health counselors to diagnose and treat them? We are marinating in the soup of collective madness, cruelty, selfishness, and lies, the soup of spiritual toxicity...”
- Albert J.LaChance -


No comments:

Post a Comment